Home Gaya Hidup Sekitar 70 Pemuka Agama dan Akademis Ingin Perubahan untuk Mengatasi Krisis Iklim

Sekitar 70 Pemuka Agama dan Akademis Ingin Perubahan untuk Mengatasi Krisis Iklim

Bogor, Gatra.com - Pada tanggal 26 - 30 Agustus 2022 ini, sekitar 70 pemimpin agama dan komunitas iman dari berbagai agama dan kepercayaan yang berasal dari 17 provinsi dan 30 kabupaten di Indonesia mengadakan pertemuan untuk membahas beragam inisiatif mengatasi krisis iklim. Dalam pertemuan itu, diajak juga inovator sosial dan aktivis lingkungan hidup.

Para pemimpin agama, komunitas iman, dan para penggerak perubahan di bidang lingkungan hidup ini diundang oleh Ashoka dan Muhammadiyah melalui program Eco Bhinneka untuk membicarakan inovasi-inovasi di bidang lingkungan hidup yang sudah dilakukan masyarakat sipil, termasuk dari kelompok agama dan kepercayaan. Lokakarya bertajuk 'Faith Inspired Changemaking Initiatives' (FICI) ini diharapkan mempererat persatuan komunitas lintas iman dan gerakan lingkungan hidup sehingga dapat bersama-sama mendorong kepedulian masyarakat lebih luas akan krisis iklim di Indonesia.

Direktur Program Eco Bhinneka dari Muhammadiyah, Hening Parlan mengungkapkan, dengan jumlah umat beragama dan berkeyakinan di Indonesia lebih dari 90 persen, maka spiritualitas agama menjadi sangat strategis untuk memitigasi dan mencegah dampak perubahan iklim.

"Di antara yang hadir, ada perwakilan dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, MUI, Wanita Katolik RI, Gereja Kalimantan Evangelis, Gereja Protestan Indonesia Barat, Permabudhi (Persatuan Umat Buddha Indonesia), Matakin (Majelis Tinggi Agama Kong Hu Cu Indonesia), Parishada Hindu, Buddha Tzu Chi, dan banyak lagi organisasi dari berbagai afiliasi agama dan kepercayaan," kata Hening dalam keterangannya, Selasa (30/8).

Organisasi lingkungan yang tidak berbasis agama juga hadir dalam lokakarya ini, misalnya organisasi lingkungan dari Kalimantan Barat Gemawan, Walhi, organisasi nelayan perempuan dari Demak Puspita Bahari, aktivis sungai Prigi Arisandi, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, dan banyak lagi yang lain.

"Ada juga kalangan akademisi dari berbagai universitas dan lembaga pendidikan seperti Universitas Indonesia, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Pusat Studi Islam UIN Yogyakarta, BINUS University, dan berbagai pesantren," bebernya.

Ia mengatakan, selain lintas iman, peserta lokakarya juga lintas generasi, karena generasi muda adalah yang akan menanggung dampak dari kesalahan kita di masa ini. Di antara peserta ada juga perwakilan Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, penggerak pengolahan sampah elektronik Rafa Jafar, serta berbagai pemuda penggerak dialog lintas iman, gerakan anti-kekerasan dan gerakan lingkungan.

“Krisis iklim tidak pandang agama. Bencana alam tidak pandang agama. Supaya umat manusia dapat bertahan di bumi ini, kita semua harus memiliki cara pandang dan cara hidup baru yang lebih berkelanjutan, dan kita butuh kolaborasi antar umat beragama," tandas Nani Zulminarni, Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara yang juga menjadi salah satu penyelenggara lokakarya ini.

Sementara itu, Manajer kampanye Walhi Parid Ridwanuddin menjelaskan, gerakan lingkungan harus terus terhubung dengan gerakan-gerakan lain yang sudah ada. "Karena itu jembatan yang dibangun lokakarya FICI antara gerakan lingkungan dan gerakan keagamaan, amat penting," ungkap Parid.

Sedangkan bagi Juliana Oyong, perwakilan dari Persatuan Umat Buddha Indonesia menilai baik cara lokakarya ini dikemas. “Fasilitator Dani Munggoro dari Inspirit mengajak kita memikirkan kembali inisiatif yang telah kita lakukan serta memberikan pemantik-pemantik yang membuat kita mempertajam dan merevisi langkah supaya lebih efektif," tandas Juliana yang juga merupakan Wakil Sekjen Komunitas Eco-enzyme Nusantara.