Home Teknologi Arcolabs Gagas Rangkaian Lokakarya Daring Seni & Semesta

Arcolabs Gagas Rangkaian Lokakarya Daring Seni & Semesta

Jakarta, Gatra.com - Arcolabs, sebuah inisiatif kurator yang berbasis di Jakarta yang berfokus pada seni media kontemporer dan baru, menggelar Kuliah Umum bertajuk “Art & Universe” (Seni & Semesta). Kegiatan ini akan berlangsung pada Sabtu, 3 Desember 2022 melalui Zoom, dengan siaran langsung di kanal Youtube Arcolabs.

Dampak krisis iklim yang semakin nyata membuat manusia mulai mengeksplorasi habitat di masa depan. Dua seniman – Ayoung Kim (Korea Selatan) dan Venzha Christ (Indonesia) – telah lama mendokumentasikan gagasan tentang habitat masa depan manusia dalam karya dan penelitian jangka panjang. Kedua seniman ini akan berbagi pemikiran dan membuka diskusi tentang alam semesta dalam program kuliah umum dan lokakarya daring.

Selama tiga jam, Ayoung Kim akan mempresentasikan idenya tentang dunia alternatif yang ia bayangkan, berdasarkan lingkungan sekitarnya. Sementara itu, Venzha Christ akan berbagi mengenai penelitian jangka panjangnya tentang Mars – planet hunian potensial bagi manusia setelah bumi yang hingga kini masih menyimpan banyak misteri.

Baca Juga: Pameran 'Age of Consent' yang Menyajikan Ruang Digital bagi Seni Media Baru

Ayoung Kim, yang dinobatkan sebagai seniman finalis Korea Artist Prize 2019 oleh Museum of Modern and Contemporary Art di Korea pada 2019, menggunakan video, suara, fiksi sonik, gambar, diagram, dan teks untuk menyampaikan kisah spekulatifnya. Kisah ini disebut akan membangkitkan bentuk bacaan, proses mendengarkan, dan memaknai kondisi dunia dengan menyandingkan ide-ide yang sebagian realita, sebagian fiksi.

Dalam karyanya At the Surisol Underwater Lab (dikomisi oleh Busan Biennale 2020), ia membuat simulasi masa depan, kira-kira satu dekade setelah pandemi Covid-19 tahun 2020. Di sana, dia membayangkan situasi di mana sumber energi utama dunia telah beralih ke ganggang yang difermentasi untuk menghasilkan bahan bakar. Bahan bakar ramah lingkungan ini diproduksi di kota Busan, Korea, yang dikenal sebagai “kota biomassa”. Pada kenyataannya, Busan sudah dikenal dengan produksi rumput lautnya sejak abad ke-19.

Karya ini dilanjutkan dengan The Underwater Response (2021), dan tur di Surisol Underwater Lab pada 2022. Di tahun yang sama, Kim membayangkan Seoul yang futuristik dengan alam semesta alternatif dalam karya berjudul Delivery Dancer's Sphere. Tokoh dalam karya ini yang bernama Ernst Mo (anagram dari 'monster') terinspirasi oleh lonjakan jumlah kurir sebagai efek samping dari pandemi global.

“Dengan membandingkan realita sehari-hari dengan cerita fiksi, saya berharap dapat membuka diskusi tentang kebutuhan penting dalam waktu dekat, misalnya alternatif yang efektif untuk bahan bakar tak terbarukan,” ucap Ayoung Kim dalam keterangannya, Sabtu (26/11).

VMARS, The v.u.f.o.c Mars Analogue Research Station (2020) (Dok. Arcolabs)
VMARS, The v.u.f.o.c Mars Analogue Research Station (2020) (Dok. Arcolabs)

Sementara itu, Venzha Christ menggabungkan seni dan ilmu luar angkasa dalam karya-karyanya. Dalam kuliahnya, ia akan membahas peran seni dan seniman jika seluruh populasi manusia pindah ke Mars. Dalam proyeknya barunya, VMARS (Mars Analogue Research Station), Venzha telah berkolaborasi dengan lebih dari 40 institusi di dalam dan di luar Indonesia untuk mengembangkan praktik seni berdasarkan ilmu dan eksplorasi luar angkasa.

Baca Juga: Menelusuri Pengalaman Personal Chiharu Shiota di Museum MACAN

Pada 2018, ia menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang mengikuti simulasi hidup di Mars bersama Mars Society. Simulasi tersebut merupakan program kolaborasi antara beberapa organisasi, termasuk NASA dan SpaceX, dan berlangsung selama dua bulan di Mars Desert Research Station, Utah, AS. Venzha saat ini tinggal dan berkarya di Yogyakarta, Indonesia, tempatnya menginisiasi Indonesia Space Science Society (ISSS).

“Program eksploratif seperti rangkaian kuliah dan lokakarya ini dapat membuka dialog tentang misi Mars, dan saya berharap dapat bertukar pikiran dengan para peserta,” kata Venzha Christ.

Program ini merupakan bagian dari seri kuliah mengenai seni kontemporer di Indonesia dan Korea yang didukung oleh Korea Foundation Jakarta. Dosen senior Aprina Murwanti (Universitas Negeri Jakarta) akan memoderatori sesi dan memfasilitasi tanya jawab dengan audiens.

Jeong Ok Jeon, Direktur Arcolabs , berkata bahwa usaha mencari ruang alternatif untuk hidup bukan lagi cerita yang kita tonton di film fiksi ilmiah. Realita krisis iklim dan dunia pasca-pandemi yang kita hadapi telah mempercepat proses eksplorasi yang dilakukan umat manusia untuk bertahan hidup.

“Sebagai cara untuk memajukan eksplorasi ini, saya senang kita dapat menyambut Ayoung Kim dan Venzha Christ untuk berbagi praktik artistik mereka yang bersinggungan dengan gagasan ruang hidup alternatif, baik di bumi maupun luar angkasa, dengan mahasiswa, praktisi, dan pencinta seni di Indonesia," katanya.

199