Home Kesehatan Cakupan Vaksin Booster Masih Rendah, Ahli: Ini Harus Jadi Perhatian

Cakupan Vaksin Booster Masih Rendah, Ahli: Ini Harus Jadi Perhatian

Jakarta, Gatra.com – Angka capaian vaksinasi booster ketiga masih rendah. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, sejak dimulainya vaksinasi ketiga Januari 2022 lalu, presentase cakupan vaksinasi booster ketiga masih berada di angka 25,73%. Padahal Kasus persebaran Covid-19 di Indonesia masih berada di kisaran 3000-5000 kasus aktif dalam satu hari.

Meski jumlah sebaran sudah jauh menurun, Guru Besar Mikrobiologi Universitas Indonesia (UI), Amien Soebandrio, menilai angka vaksinasi booster yang masih rendah harus jadi perhatian. Apalagi, angka sebaran yang menurun otomatis mendorong semakin terbukanya mobilitas di masyarakat. Vaksinasi sebagai upaya pencegahan harus terus diutamakan, terutama pada kelompok rentan.

“Vaksinasi sebagai upaya menjaga kekebalan tubuh. Selama kita bisa mencegah virus mendapat host baru, maka kita bisa memperkecil mutasi virus. Vaksin melindungi diri kita dan orang lain,” ucapnya pada acara diskusi bertajuk “Bebas Bepergian Asal Sudah Booster?” yang digelar BNPB, Jum’at (2/9).

Ia juga menjelaskan bahwa virus yang bermutasi sebenarnya akan melemahkan virus. Meskipun begitu, sekitar 4-5% virus bisa lebih menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Inilah jenis mutasi virus yang harus diwaspadai terutama dalam memutus persebarannya.

Amien menjelaskan bahwa seseorang berisiko terinfeksi virus tergantung pada 3 hal yaitu keganasan virus, dosis, serta kekebalan. Keganasan virus mencakup seberapa cepat virus menyebar serta seberapa mematikan virus. Sementara, dosis berarti intensitas virus yang diterima oleh individu. Pada kasus Covid-19, jika ada di ruangan tertutup, maka dosisnya akan lebih tinggi dibandingkan saat berada di luar ruangan. Kekebalan berperan dalam mengeliminasi virus. Bila kekebalan cukup, maka virus tidak akan masuk ke dalam tubuh dan bisa merespon dengan baik. Meningkatkan kekebalan ini, salah satu caranya dilakukan melalui vaksinasi.

“Respons tubuh terhadap antigen sudah diatur sedemikian rupa. Jika belum terpapar, maka respons tubuh lambat. Tapi kalau sudah mengenal, maka tubuh bereaksi lebih cepat membangun kekebalan,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Epidemiolog dan Pengajar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria Wiratama, juga menyebutkan bahwa tujuan vaksinasi saat ini adalah untuk mengurangi gejala Covid-19 bila penderita terinfeksi. Cakupan booster ketiga yang masih rendah menjadi catatannya. Karena serangan virus tetap harus diwaspadai,, utamanya pada kelompok rentan seperti kelompok lanjut usia (lansia) maupun anak-anak.

“(Lansia) yang punya penyakit kronis harus dipantau, kalau tau kondisi sedang tidak fit, jangan datang ke tempat tertutup. Setiap orang perlu tahu risiko masing-masing,” katanya.

Bayu juga menegaskan bahwa bagi siapa saja yang berkontak atau terpapar dengan virus maka harus menyadari diri dan melakukan isolasi. Meskipun tidak ada gejala yang dirasakan, jangan pergi ke keramaian yang rentan menjadi tempat persebaran virus. Ia menyarankan bagi yang sudah terpapar untuk melakukan tes terlebih dahulu, sehingga ketika sudah mendapat kepastian kondisi tubuh, maka seseorang baru bisa kembali beraktivitas di keramaian.