Home Kolom Pakar Monash: Intervensi Teknologi Penting dalam Pembangunan Infrastruktur Hijau

Pakar Monash: Intervensi Teknologi Penting dalam Pembangunan Infrastruktur Hijau

Wawancara Khusus

Profesor Diego Ramirez-Lovering

Deputy Director RISE

“Dengan Teknologi Kami Memberikan Solusi Holistik”

 

Revitalisasi Permukiman Informal di Kampung Batua, Makassar (Doc. RISE)

 

"Teknologi saja bukan jawaban tetapi harus bersama-sama manusia, dan inilah perubahannya". -- Profesor Diego Ramirez-Lovering

-------------------------

 

Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia membangun kerja sama dan kemitraan yang kuat lewat pembangunan infrastruktur permukiman informal bagi kelompok masyarakat rentan. Program pembangunan tersebut bertujuan untuk menyediakan sanitasi, air bersih, akses serta ketahanan iklim di daerah terisolir yang sulit dijangkau infrastruktur konvensional perkotaan.

Pembangunan infrastruktur permukiman informal ini menandai dimulainya pendekatan baru bagi satu miliar penduduk dunia yang tinggal di permukiman informal. Kerja sama bidang infrastruktur permukiman informal antara Indonesia dan Australia digagas pertama kali di Kota Makassar, Sulawesi Selatan lewat program Revitalisasi Permukiman Kumuh dan Lingkungannya (Revitalising Informal Settlements and Their Environments/RISE). Program ini lahir atas kerja sama Universitas Monash, Universitas Hasanuddin, Pemerintah Australia, Kemitraan Indonesia Australia untuk Infrastruktur (KIAT), dan Pemerintah Kota Makassar.

Proyek penting ini dipimpin oleh Monash University sebagai konsorsium dari sejumlah akademisi, LSM, industri, dan mitra pendanaan. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang program RISE berikut pengembangan infrastruktur permukiman informal di Makassar, wartawan GATRA Andhika Dinata berkesempatan mewawancarai Deputy Director RISE Profesor Diego Ramirez-Lovering secara khusus pada Kamis, 1 September 2022. Profesor Diego merupakan praktisi dan pakar infrastruktur pembangunan dari Monash University yang menjadi basis dari proyek penelitian RISE. Saat ini Diego Ramirez menjabat Profesor Arsitektur dari Fakultas Desain Seni dan Arsitektur Monash University sekaligus Direktur Informal Cities Lab (ICL) di kampus terkemuka dunia itu. Berikut hasil petikan wawancara dengan Profesor Diego.

Australia berperan penting dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Bisa Anda jelaskan tentang program RISE di Indonesia?

Program RISE ini melibatkan pemerintah sebagai mitra, termasuk LSM, dan termasuk industri. Tujuan dari proyek ini adalah untuk membangun permukiman informal. Sehingga masyarakat yang tidak bisa mendapatkan infrastruktur dari kota karena keterbatasan sumber daya bisa mendapatkan permukiman. Jadi, kami mencoba mengembangkan bukti dan konsep. Itu yang dikenal sebagai inovasi teknis infrastruktur berbasis alam yang disebut nature by system, yang dapat membersihkan air hitam (black water) dan air limbah (waste water). Karena di komunitas ini ada pencemaran air hitam, yang mengakibatkan orang sakit dan anak-anak meninggal. Jadi, ini isu yang sangat sangat besar secara global, dan begitu banyak investasi dalam solusi kebijakan yang sangat sukses hari ini. Jadi, kami memberikan solusi holistik yang menangani beberapa kontaminasi secara parsial dengan cara ini. Beberapa contoh diatasi oleh teknologi. Dalam proyek-proyek ini terdapat sejumlah elemen. Elemen lainnya adalah pembangunan lahan basah (wet land), dengan cara yang sama kami membuat sistem alamiah, prioritas dan replikasi [kebijakan] di masyarakat.

Ilustrasi Program RISE (GATRA/ Andhika Dinata)

Teknologi yang dirancang RISE lebih untuk memperbaiki sistem tata kelola air?

Tentu saja. Menurut saya yang terpenting bukan hanya teknologi tetapi apa yang kita sebut sebagai sistem sosio-teknis. Artinya, ada masyarakat dan pemerintah di balik [kebijakan]nya, serta mereka yang memahami dan menjaga sistem yang dibuatnya. Teknologi saja bukan jawaban tetapi harus bersama-sama manusia, dan inilah perubahannya.

Pengembangan komunitas masyarakat menjadi hal terpenting dalam program RISE ini?

Ini benar-benar penting. Kami bekerja paling dekat dengan komunitas, dan itu membutuhkan waktu. Anda perlu membangun pemahaman, membangun kapasitas, dan itulah mengapa program RISE berjalan begitu lama.

Indonesia tidak punya pengalaman panjang dalam membangun komunitas masyarakat untuk proyek infrastruktur. Apakah pemerintah Australia dan RISE akan terus mendorong pembangunan infrastruktur berbasis masyarakat ini?

Ya, saya harus mengatakan Indonesia memiliki sejarah revitalisasi permukiman informal yang sangat panjang. Mulai tahun 1975, Indonesia adalah salah satu pemimpin global dalam revitalisasi permukiman informal dengan sejumlah program yang berbeda. Sekarang di Indonesia ada program perbaikan kampung Kotaku (Kota Tanpa Kumuh), yang ini juga banyak dilakukan secara global. Jadi, warisan yang sangat bagus dan kemudian kami datang dengan didukung oleh Pemerintah Australia melihat jenis infrastruktur baru. Karena beberapa infrastruktur yang sudah tersampaikan dan terkadang ada yang terfokus pada teknologi. Dan teknologinya saja sekali lagi tidak akan berhasil. [Pendekatan] itu harus holistik dan bagaimana kami mengembangkan, kami membuktikan konsep dan kami menggabungkan dan menskalakan itu serta mengimplementasikannya di Makassar.

Baca juga: Program RISE Berjalan, Totalitas Pemkot, Dukung Makassar Zero Kumuh

Air, sanitasi, dan higienitas menjadi tiga fokus dalam program RISE. Selanjutnya program ini akan fokus pada aspek kesehatan?

Pendana kesehatan dari proyek ini adalah Wellcome Trust dari Inggris, dan mereka sangat tertarik akan sistem yang meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak di bawah 5 tahun. Jadi, kami memiliki penilaian medis, darah, dan berbagai jenis kesehatan manusia sampel untuk diuji. Apakah kesehatan mereka membaik sebagai hasil dari sistem infrastruktur baru.

Apakah RISE punya program edukasi khususnya untuk praktik terbaik pengembangan komunitas di Indonesia?

Seperti yang kita ketahui, program RISE berakar dari universitas. Jadi, bisnis kami adalah penelitian dan pendidikan. Kami menjalankan sejumlah program pasca sarjana, magister dan doktoral dan kami berharap dapat meningkatkannya sebagai mitra universitas.

Ilustrasi Kegiatan RISE (GATRA/ Andhika Dinata)

Program ini akan menjadi kemitraan yang kuat antara Indonesia dan Australia?

Jadi seperti yang saya katakan dalam pidato saya, kuncinya adalah kemitraan yang bermakna dan mendalam yang menjadi jangkar lokal. Karena program ini berjalan hampir 5-10 tahun. Jadi tim Makassar, Unhas (Universitas Makassar), dan pemerintah perlu mengambil alih, menggandeng program dan meningkatkan program ini. Dan kunjungan terakhir ke Monash University di Melbourne, Australia. Kita berbicara tentang warisan [kelanjutan] proyek berikutnya. Mungkin selama 20 tahun, kami memperbaiki lebih dari 100 permukiman di kota. Itu adalah ujian yang sangat besar dan ujian jangka panjang, tetapi dengan kepemimpinan yang jelas dan visi yang jelas, saya pikir kami dapat mencapainya.

Baca juga: Australia-Indonesia Bermitra, Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan Dikebut

Mengapa RISE memilih Makassar sebagai praktik terbaik pengembangan infrastruktur pemukiman informal di Indonesia?

Jadi kami mengunjungi banyak kota seperti Bandung dan saya pikir sudah ada 5 kota di Indonesia yang kami kunjungi. Dan saat itu, kami bermitra dengan Asian Development Bank (ADB), dan ADB senang berada di lokasi permukiman informal Makassar yang paling mewakili isu kontaminasi signifikan terkait air. Jadi, itu sebabnya ini lokasi yang bagus. Program ini juga berjalan Suva, ibu kota Fiji. Dan itu konteks yang sangat berbeda, topografi yang sangat berbeda, di mana Makassar adalah dataran yang sangat rendah dan datar. Jadi ini perataan yang sangat buruk, ada pencemaran yang sangat buruk pada rusun, dan sangat sulit mendapat septic tank karena air tanah sangat tinggi meskipun bisa dikerjakan. Jadi, itu sebabnya jika kita bisa menyelesaikannya di sini, kita bisa menyelesaikannya di mana saja.

Apa perbedaan dan kesamaan antara pengembangan permukiman informal di Fiji dan Makassar?

Tidak jauh berbeda unsur intervensi infrastruktur terhadap topografi dan kerja sama dengan masyarakat, itu sangat mirip. Ada beberapa perbedaan yang signifikan. Salah satunya adalah tanah di sini [Makassar] ditutup secara pribadi, bukan? Dan begitu banyak konflik tanah dan kita harus bernegosiasi dengan rumah tangga. Di Fiji, itulah yang kami sebut daftar komunitas, jadi komunitas ini memegang seluruh tanah. Jadi, ada sistem pemerintahan yang berbeda untuk urusan tanah. Beberapa permukiman lain harus membangun sistem di antara rumah-rumah dan ruang-ruang yang terdiri dari ruang publik dan pelayanan publik. Jadi, ada negosiasi dengan rumah tangga tentang hibah tanah dan pembebasan tanah.

Jadi sangat dibutuhkan studi pendahuluan dan studi kelayakan sebelum mengembangkan program ini?

Jadi ada banyak konflik tanah, sangat sulit untuk melakukan apa pun. Karena masyarakat tidak setuju. Jadi salah satu aspek terpenting saat ini adalah “gotong royong”, bersama kita lakukan dan kita tingkatkan masyarakat. Dan episentrum RISE dan sarana itu perlu menyatu dengan komunitas dan orang-orang setuju dan memberi respon positif.

**