Home Kesehatan Di Presidensi G20, Indonesia Harus Jadi Panutan Pengembangan Green Pharmacy

Di Presidensi G20, Indonesia Harus Jadi Panutan Pengembangan Green Pharmacy

Nusa Dua-Bali, Gatra.com- Lead Co-Chairs Think20 (T20) Indonesia, Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa dalam Presidensi G20, Indonesia harus menjadi panutan dalam pengembangan fitofarmaka yang didorong sebagai gerakan Green Pharmacy.

"Ini merupakan masa depan yang menjanjikan bagi kemandirian serta ketahanan kesehatan bagi negara-negara yang memiliki kapabilitas produksi produk kesehatan yang terbatas dan angka impor yang tinggi," katanya dalam Parallel Session 3 T20 Summit, Green Pharmacy's Rile in Supporting Global Health Architecture di Nusa Dua, Bali, Selasa (6/9).

Bambang menyebut Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan Green Pharmacy atau fitofarmaka untuk menjaga kualitas, khasiat, dan obat-obatan  yang ramah lingkungan. "Sehingga dapat menciptakan akses atau solusi untuk isu penanggulangan bahan kimia yang ada di seluruh dunia," ujarnya.

Indonesia harus mendukung industri lokal demi memperluas sumber daya serta produksi produk kesehatan, terutama untuk pengobatan dan terapeutik. Seperti yang telah diinstruksikan oleh Presiden kepada Menteri Kesehatan untuk mendukung serta memfasilitasi perkembangan kemandirian industri farmasi dan alat kesehatan, dalam upaya mendukung Green Pharmacy atau fitofarmaka sebagai bagian dari gerakan Bangga Buatan Indonesia.

Tidak hanya menguras devisa negara, Bambang menyebut impor bahan baku obat juga dapat menyebabkan supply shock saat terjadinya keadaan darurat seperti pandemi Covid-19. Hal ini telah menyadarkan pemerintahan dunia mengenai masalah pasokan obat berbahan kimia, sehingga Green Pharmacy dapat masuk dan membantu menyelesaikan permasalahan dunia saat pandemi Covid-19 melanda.

Selain itu, pengembangan Green Pharmacy memiliki pasar yang menjanjikan di masa depan. Mulai dari negara-negara berkembang hingga negara maju yang sebagian besar penduduknya menggunakan produk obat herbal dalam memenuhi kebutuhan kesehatan dasar mereka.

"Saat ini, Green Pharmacy telah mendapatkan dukungan yang sangat baik serta koordinasi yang sangat kuat. Indonesia dengan inisiasi Green Pharmacy, menjadi panutan dalam pengembangan fitofarmaka bersama dengan industri kesehatan lokal sebagai tulang punggung industri kesehatan," papar Bambang.

Sementara itu, Director of Research and Business Development Dexa Group, Dr. Raymond R. Tjandrawinata memberikan gambaran mengenai seperti apa konsep Green Pharmacy dan pengaruhnya terhadap lingkungan. "Ketika kita melihat Green Pharmacy, kita harus melihat pada perspektif lingkungan dan ekologi," tegas dia.

Raymond menjelaskan bagaimana dampak dari obat-obatan kimia, baik mulai dari R&D Manufaktur, distribusi, konsumsi, bahkan hingga pengelolaan limbahnya, obat-obatan jenis ini memiliki beberapa dampak terhadap lingkungan. Apa jenis dampak yang mereka miliki?.

Salah satunya, ada beberapa penelitian yang menemukan serapan obat-obatan dari makanan. Kedua, produk obat-obatan kimia dapat berada di air minum akibat pencucian ke air tanah. Jadi bagaimana kita bisa mengelola air limbah dengan baik, sehingga paparan manusia terhadap obat-obatan bisa lebih rendah.

"Itulah gagasan tentang bagaimana obat-obatan sebenarnya tidak hanya dapat meningkatkan kelangsungan hidup manusia tetapi juga mengurangi paparan manusia dari limbah," jelas Raymond.

Contohnya adalah dari air yang terkontaminasi di Hyderabad, India. Ditemukan pada tahun 2016, Hyderabad adalah bagian dari kota di India di mana banyak obat diproduksi namun kami memiliki masalah, kontaminasi yang berasal dari produksi dan sintesis produk dari obat-obatan ke dalam air tanah. Bagaimana di Indonesia?

Indonesia juga memiliki parasetamol, obat yang digunakan di Indonesia mencemari air di Teluk Jakarta. "Ini yang perlu kita perhatikan, bahwa farmasi memang sangat bermanfaat, tetapi juga mencemari lingkungan karena produksi dan konsumsinya," jelas Raymond.

Menurut SeaStats, posisi Indonesia dalam enviromentally friendly di Asia Tenggara berada di peringkat 3 terbawah. "Jadi ini perlu kita tingkatkan. Jadi apakah kita masih ingin mencemari lingkungan dengan limbah besar di obat-obatan," seru Raymond.

Nah Green Pharmacy merupakan alternatif yang sangat baik untuk sebuah negara, karena Green Pharmacy berasal dari bumi dan harus kembali ke bumi. Lalu, lanjut Raymond, tidak hanya meningkatkan kesehatan dan gaya hidup masyarakat, tetapi juga meningkatkan keramahan lingkungan.

"Misalnya, mengurangi emisi NO dan meningkatkan bahan organik, menyesuaikan pH tanah, dan meningkatkan retensi air dan kapasitas menahan. Ketika kita mengembangkan apotek, kita perlu memastikan produk kimia diturunkan dengan lebih banyak Green Pharmacy," papar Raymond.

Konsep ini membangun hidup harmonis dengan tanaman. Tumbuhan adalah organisme yang sangat bersahabat. "Ini melindungi kesehatan kita, kita sekarang semakin banyak dari data kita bahwa tanaman berguna untuk obat-obatan dan manusia," tuturnya.

Tanaman juga bertindak di tingkat genomik, dimana tanaman bisa untuk preventif, promotif, tapi juga kuratif. Green Pharmacy juga perlu mengikuti  proses modern dari penemuan obat, melalui pengujian pada hewan dan manusia. ,"  tidak, Green Pharmacy tidak akan digunakan oleh dokter dan ditambahkan ke Pedoman praktik klinis.

"Ketika kita berbicara tentang Green Pharmacy, rantai nilai tidak hanya datang dari produsen, tetapi kembali ke awal, yaitu petani untuk bahan baku. Jika kita berbicara tentang Green Pharmacy dalam jumlah besar, siapa yang akan mendapatkan keuntungan," pungkas Raymond.