Home Gaya Hidup Imam Besar Masjid Istiqlal Sebut Peran Agama dalam Negara

Imam Besar Masjid Istiqlal Sebut Peran Agama dalam Negara

Jakarta, Gatra.com – Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasarudin Umar, mengatakan bahwa agama dan negara bisa saling berhubungan dalam proses berkehidupan. Agama menjadi salah satu konsep yang dimiliki masing-masing orang. 

“Apa itu agama sebenarnya? Apa definisi Negara tentang agama? Jadi bagaimana Negara mendefinisikan agama itu sendiri. Jangan sampai lain definisi negara tentang agama, lain juga masyarakat definisinya tentang agama. Sehingga harus terpaksa diingkari bukan sebagai agama karena tidak masuk kriteria negara tentang definisi agama itu,” ujarnya dalam konferensi internasional yang digelar Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia bersama Leimena Institute, Selasa malam (13/9).

Baca Juga: Ini Pesan Imam Besar Masjid Istiqlal Jelang Ramadan

Saat ini, kata Nasarudin, Indonesia mengakui 6 agama yang erat berkaitan dengan administrasi kependudukan yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Namun, Mahkamah Konstitusi dalam putusannya Nomor 140/PUU-VII/2009 berpendapat bahwa Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan Agama tidak membatasi pengakuan atau perlindungan hanya terhadap enam agama. Tetapi mengakui semua agama yang dianut oleh rakyat Indonesia yang disebutkan melalui poin, bahwa tidak ada agama yang dilarang dalam UU Pencegahan Penodaan Agama, yang dilarang adalah menodai agama. 

“Ini mengakomodir aliran kepercayaan yang belum diakui secara resmi oleh pemerintah,” katanya.

Nasarudin juga menjelaskan bahwa tidak ada indikator pasti yang dapat menentukan sebuah agama atau aliran bisa dikatakan secara resmi atau tidak. Ini disebabkan bahwa agama merupakan pencarian masing-masing individu dan merupakan hak dasar manusia. 

Baca Juga: Masjid Istiqlal jadi Tempat Ibadah Pertama Dunia Raih Sertifikat Final EDGE

Ia juga menyebutkan bahwa yang kerap terjadi adalah adanya interpretasi yang salah atas agama namun permasalahan utama bukan ada pada agama itu sendiri.

“Ketika orang banyak sekali berbicara tentang agama, tetapi tidak ada yang pikirkan tentang kemanusiaan itu sendiri. Kita banyak bicara tentang agama, tapi kita berada pada sebuah zaman yang disebut dengan Kaliaga, zaman di mana Tuhan susah dirasakan kehadirannya padahal tiap hari kita bicara tentang agama dan Tuhan,” katanya.

Baca Juga: Milid ke-43, Masjid Istiqlal Terima Ribuan Mushaf Alquran

Pada masa kini, Nasarudin mengatakan bahwa peran tokoh agama dalam bernegara harus dilibatkan dari awal prosesnya. Saat ini, yang kerap terjadi adalah pelibatan tokoh agama yang hanya dilibatkan di sektor hilir, atau akibat atas suatu peristiwa.

“Mestinya dari hulu sampai hilir, tokoh agama itu juga diajak berbicara, jangan hanya diajak membicarakan persoalan tapi tidak pernah diajak tentanga bagaima menyebabkan permasalahan itu muncul. Indonesia akan lebih maju jika semua pihak disinergikan sejak awal sehingga demikian, kita punya konsep mengatasi persoalan, karena sejak awal diberitahu tentang sebab apa yang akan kita terapkan,” ujarnya.