Home Apa Siapa Mengenal Rasuna Said, Sang Singa Minangkabau di Google Doodle Hari Ini

Mengenal Rasuna Said, Sang Singa Minangkabau di Google Doodle Hari Ini

Jakarta, Gatra.com – Laman pencarian Google pada hari ini, Rabu (14/9) menampilkan sosok Rasuna Said, salah satu pahlawan Indonesia. Rasuna Said lahir di Maninjau 112 tahun yang lalu. Sosoknya dikenal sebagai aktivis yang kerap menyuarakan isu-isu sosial, terutama hak-hak perempuan. 

Ia dijuluki sebagai Singa Minangkabau akibat kepiawaiannya berpidato.

Sejak kecil, sosoknya sudah menyukai ilmu pengetahuan. Masa sekolah dasar dihabiskan di SD Maninjau. Saat itu, tak seperti kebanyakan perempuan lain, ia terus melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang berikutnya di Diniyah School, dan menimba ilmu agama di Pesantren Ar-Rasyidiyah. 

Baca Juga: Semarak Kemerdekaan di Tanah Kelahiran Pejuang Jambi

Politik juga menjadi minatnya dan ia ingin agar wanita saat itu bisa memahami politik melalui pengajaran di sekolah.

Pada tahun 1926, Rasuna Said diundang bergabung dengan organisasi Sarikat Rakyat, yang akhirnya membawanya bergabung dengan Persatuan Muslim Indonesia (PERMI). Gerakan ini bersikap kritis terhadap perlakuan penjajahan Belanda dan ketidakadilan terhadap perempuan. 

Baca Juga: Bawa Isu Penegakkan Hak Asasi Perempuan, Ini Isi Laporan CWGI Untuk Forum PBB

Lima tahun berselang, Rasuna pun pindah ke Padang untuk membentuk divisi perempuan di PERMI, dengan fokus membuka sekolah perempuan di daerah Sumatera Barat.

Dengan vokalnya kritik terhadap pemerintahan Belanda, pada 1932 Rasuna ditangkap dan dipenjara. Ia menjadi salah satu wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda. Saat itu, ribuan orang menghadiri persidangannya di Payakumbuh dan mendengarkan pidato pembelaannya yang dibacakan tanpa keraguan dan menginspirasi.

Baca Juga:  Perjuangan Perempuan Madura Pertahankan Tanean Lanjhang

Setelah dua tahun dipenjara, Rasuna Said akhirnya bebas. 

Ia kemudian memulai karirnya sebagai jurnalis dan mulai menulis untuk Raya, salah satu jurnal perguruan tinggi. Rasuna juga terus melanjutkan perannya dalam membuka sekolah-sekolah untuk perempuan dan menyuarakan suara-suara kelompok perempuan Muslim.

Rasuna Said wafat pada 2 November 1965 akibat kanker darah. 

Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Penetapan Rasuna Said sebagai pahlawan disahkan pada 1974 atas jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.