Home Nasional Hasto Bicara Soal Geopolitik Soekarno di Unram

Hasto Bicara Soal Geopolitik Soekarno di Unram

 

Mataram, Gatra.com--Sekretaris Jendral PDI-P  Hasto Kristiyanto menyatakan, inti utama Geopolitik Soekarno yang harus terus diperkuat adalah bagaimana rakyat Indonesia, termasuk mahasiswa selaku generasi muda untuk selalu berjuang membangun kepemimpinan di segala aspek kehidupan.

 

Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menekankan bahwa dirinya hadir di Universitas Mataram (Unram) bukan untuk kepentingan politik praktis. “Pemilu masih jauh,” tukasnya dihadapan Civitas akademika dan mahasiswa Unram di kampus Unram, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (15/9).

 

Kehadiran Hasto di Unram untuk menyampaikan Kuliah Umum dengan tema “Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansinya Terhadap Pertahanan Negeri”. Sebelumnya, Hasto telah lebih dulu menggelar kuliah umum dengan tema yang sama di sejumlah perguruan tinggi ternama di tanah air.

 

Dalam Kuliah Umum ini, Hasto memaparkan hasil temuan risetnya yang menjadi disertasi doktoralnya di Unhan  mengenai teori geopolitik Soekarno. Termasuk bagaimana perbedaan geopolitik Soekarno yang menjadi antitesa dari geopolitik ala Barat. Geopolitik Soekarno berorientasi membebaskan bangsa di dunia dari penjajahan dan menuju perdamaian abadi, sementara geopolitik ala Barat orientasinya ekspansi dan cenderung menjajah.

 

Ditegaskannya, pemikiran geopolitik Soekarno didasarkan pada ideologi Pancasila. Tujuannya adalah untuk membangun tata dunia baru berdasarkan prinsip bahwa dunia akan damai apabila bebas dari imprerialisme dan kolonialisme. Geopolitik Soekarno juga menekankan betapa pentingnya solidaritas bangsa berdasarkan koeksistensi damai (peaceful co existence) dan berorientasi pada struktur dunia yang demokratis, sederajat, dan berkeadilan.

 

“Kekuatan pertahanan negara dibangun untuk menjaga perdamaian dan sebagai benteng bagi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa,” kata Doktor Ilmu Pertahanan dan tenaga pengajar Universitas Pertahanan (Unhan) ini.

 

Dengan segala keterbatasan pada masa memimpin Indonesia, geopolitik Soekarno telah mampu menghadirkan kepemimpinan Indonesia di tengah dunia. Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno telah melampaui cara pandang geopolitik barat. Misalnya, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang melahirkan Dasa Sila Bandung yang luar biasa.

 

“Bung Karno mengalahkan konspirasi kolonialisme Belanda dalam pembebasan Irian Barat. Modalnya hanya merancang Konferensi Asia Afrika,” katanya.

 

Untuk melakukan hal tersebut, Indonesia tak menunggu menjadi negara yang memiliki sumberdaya melimpah. Modal Bung Karno untuk menggelar Konfrensi Asia Afrika hanya ide, imajinasi geopolitik, semangat juang, dan hospitality. Memadukan intelektualitas dengan berbagai faktor sumber daya yang ada seperti demografi, teritori, politik, dan lainnya, sehingga menjadikan seluruh variabel geopolitik sebagai instrument of national power.

 

“Hotel disediakan, makanannya disediakan khas kuliner nusantara. Kesemuanya ditampilkan penuh kebanggaan. Namun hasilnya adalah deklarasi Dasa Sila Bandung yang luar biasa,” urai Hasto sembari menjelaskan bagaimana para mahasiswa terlibat sangat aktif selama berlangsungnya konfrensi yang dihadiri delegasi negara-negara Asia Afrika tersebut.

 

Sementara itu Rektor Unram Prof Bambang Hari Kusumo menekankan pentingnya mahasiswa tidak melupakan sejarah. Sebab, sejarah banyak berulang dan banyak negara yang hancur justru karena melupakan sejarah. Itu sebabnya, pemikiran Bung Karno selalu relevan dengan kondisi saat ini.

 

Gubernur Zulkieflimansyah mengemukakan, para mahasiswa dan seluruh civitas akademika Unram beruntung dengan hadirnya Hasto dalam Kuliah Umum tersebut. Orang nomor satu di NTB ini memang bersahabat dengan Hasto. Pertemanan keduanya begitu terentang lama. Dimulai saat keduanya sama-sama duduk di Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)  di awal karir. Saat itu, Anggota Komisi VI DPR  memang banyak diisi oleh politisi muda dan berlatar belakang aktivis mahasiswa. Hasto sendiri sebelumnya memang tercatat sebagai Ketua Senat Fakultas Teknik UGM. Sementara Gubernur Zul tercatat sebagai Ketua Senat Universitas Indonesia (UI).

 

“Mas Hasto adalah bintang. Adik-adik mahasiswa harus banyak belajar. Beliau ditawari menjadi menteri tapi beliau tidak bersedia. Mudah-mudahan, ini bukan kedatangan Mas Hasto yang terakhir ke NTB,” kata Gubernur.