Home Kesehatan 'Nursing Management' Penanganan Penyakit Cacar Monyet

'Nursing Management' Penanganan Penyakit Cacar Monyet

Jakarta, Gatra.com – Dudih Hidayat, Perawat Senior Rumah Sakit Penyakit Menular Kuwait, memaparkan bagaimana manajemen perawatan (nursing management) dalam menangani penyakit cacar monyet yang menjadi status darurat sejak Mei 2022.

Awalnya, Dudih menjelaskan apakah cacar monyet akan menjadi pandemi berikutnya setelah COVID-19 menghilang. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ia menjabarkan kabar baik dan buruk sebagaimana yang disampaikan dalam webinar KBRI Doha yang bertajuk “Mengenal Penyakit Monkeypox dan Penatalaksananya” pada akhir pekan ini.

Kabar baiknya, antara lain rendahnya tingkat kematian sebesar 22 hingga 59 ribu jiwa, penyebaran virus yang tidak seagresif COVID, masyarakat lebih waspada akan pandemi, dan tenaga kesehatan yang lebih siap menghadapi penyakit cacar monyet. Sementara untuk kabar buruknya antara lain penyebabnya juga dari virus seperti COVID, tiba-tiba muncul di manusia setelah tahun 1970 dan symptom dan post-disease-nya lebih berat.

Statistik kasus cacar monyet terkonfirmasi sebesar 16.836 kasus per 25 Juli 2022 berdasarkan data dari CDC dengan angka tertinggi sebesar 3.125 di Spanyol dan terendah di Inggris sebesar 2.208 kasus. UAE pertama kali mengonfirmasi kasus cacar monyet pada Mei 2022 dengan jumlah pasen terakhir 16 orang per akhir Juli 2022.

Selanjutnya, Arab Saudi memiliki 3 kasus per 14 Juli 2022 dan Qatar memiliki 1 kasus per 22 Juli 2022. Sementara Kuwait, Oman dan Bahrain tidak ada satu pun kasus cacar monyet.

Pengenalan klinis (clinical recognition) cacar monyet ditandai dengan luka jelas berbentuk bulat berkembang menjadi pusaran, letak lukanya bisa di area genital atau tempat lain, ruam tidak harus tersebar ke seluruh badan dan mungkin jumlahnya terbatas atau satu lesi kulit saja. Sifat ruamnya ada rasa sakit. Ada pula gejala demam prodromal dan terganggunya sistem pernapasan.

Gejala demam yang ditimbulkan penyakit cacar monyet menurut CDC, terdiri dari dua fase, yakni prodromal dan erupsi. Gejala dalam fase prodromal antara lain demam, sakit kepala ringan hingga berat, nyeri otot, sakit punggung, pembengkakan kelenjar getah bening, panas dingin, kelelahan, dan lemas.

“Para ahli sampai saat ini masih bertanya-tanya apakah pada fase ini pasien bisa menyebarkan penyakit ke yang lainnya. Itu masih tanda tanya. Ada sebagian yang mengatakan mungkin bisa dan ada sebagian yang masih mencari bukti-bukti yang lebih akurat,” ujarnya.

Sementara untuk fase erupsi terjadi setelah 1 sampai 3 hari usai fase prodromal. Kemudian, ruam atau lesi di kulit timbul dari wajah dan menyebar ke bagian tubuh lain secara bertahap. Awalnya, ruam berbentuk bintik merah seperti cacar, melepuh yang berisi cairan bening atau nanah. Selanjutnya ruam tersebut mengeras hingga akhirnya rontok.

Suspect case merupakan karakter baru dari ruam yang awalnya bersentuhan dengan kriteria epidemologi dan memiliki clinical yang kuat untuk cacar monyet. Ada dua kriteria epidemologi, antara lain dalam 21 hari pernah berkontak dengan seseorang yang sama riwayat ruam yang terkonfirmasi atau kemungkinan cacar monyet pernah kontak dekat dengan orang yang pernah kontak dengan pasien dan melakukan perjalanan ke negara yang terkonfirmasi pandemi cacar monyet.

Ada sejumlah cara untuk memantau pasien cacar monyet, yakni perhatikan dan penuhi kebutuhan nutrisi, atur pola tidur yang adekuat, observasi perubahan kulit dan ruam di daerah genital, pasien ditempatkan dalam airborn isolation dan penggunaan PPE (APD) yang ketat dengan donning doffing yang tepat. Jika ada gejala lain selain ruam harus isolasi selama 5 hari.

Selama mengobservasi, pasien diharapkan untuk tidak panik, takut yang berlebih, stres, menarik diri, denial dan putus asa. Penataan infection control yang tepat untuk pasien cacar monyet, antara lain penataan infeksi kontrol di pelayanan kesehatan, patient placement, personal protective equipment (APD), waste management, isolasi dan infection control di rumah dan deal dan care post martem, autopsi, dan lain-lain.

Jika ingin mengumpulkan spesimen (collection speciment), yang harus Anda lakukan adalah gunakan APD, kumpulkan sample dari beberapa lesi, kumpulkan dari beberapa lokasi dari bagian tubuh, gunakan sterile swab, dan tidak menggunakan cotton swab.

Selama isolasi dan infection control di rumah, disarankan tidak ada kunjungan saudara dan keluarga selama sakit, hindari kontak dekat dengan orang lain, hewan peliharaan dan lainnya, hindari hubungan persetubuhan, hindari penggunaan barang bersama seperti handuk, pakaian, baju yang dicuci, alat makan dan minum, rutin membersihkan barang-barang yang biasa dipakai dengan disinfectant, dan hindari mencukur bagian ruam.

APD yang digunakan untuk merawat pasien cacar monyet, antara lain gown, masker atau respirator, kacamata diving atau face shield, dan sarung tangan lateks. Disarankan untuk sering mencuci tangan setelah kontak dekat dengan pasien cacar monyet.