Home Teknologi Insiden Kebocoran Data Beruntun, Pakar Hitachi Vantara Sarankan Langkah Ini

Insiden Kebocoran Data Beruntun, Pakar Hitachi Vantara Sarankan Langkah Ini

Jakarta, Gatra.com – Insiden kebocoran data beruntun yang menimpa Indonesia beberapa waktu terakhir tak luput dari pengamatan banyak pihak. Meski kejadian kebocoran data (data breach) dapat terjadi di mana dan kapan saja, tetapi insiden tersebut memberikan pelajaran akan pentingnya data dalam kehidupan. Terlebih, bila data yang dimaksud merupakan data pribadi atau data yang memuat informasi sensitif dan strategis, apabila jatuh ke tangan pihak tak berwenang akan menimbulkan kekacauan.

Vice President and General Manager ASEAN, Hitachi Vantara, Joe Ong menyatakan, data adalah sesuatu yang bernilai (full value of data). Sejumlah perusahaan atau organisasi bisnis telah menganggap data sebagai aset. Karena itu, sistem proteksi dan perlindungan terhadap data menjadi sebuah keharusan. “Begitu banyak perusahaan dan begitu banyak organisasi yang menyadari data sebagai aset terbesar mereka,” ujar Joe Ong dalam sesi wawancara bersama Gatra.com pada Kamis, 15 September 2022 di Hotel Park Hyatt, Jakarta Pusat.

Joe menyebut, praktisi siber dan teknologi memiliki keharusan mengusai wawasan digital. Wawasan tersebut mencakup wilayah analitik, big data, kebocoran data (data leaks), dan gudang data (datawarehouse). Data menurutnya harus diproteksi secara berlapis dengan sistem enkripsi. Ketangguhan sistem akan diuji dengan kekuatan proteksi yang dirancang oleh tim IT. Sistem per layer itu diadopsi oleh perusahaan teknologi Hitachi Vantara dalam mengamankan data entitas bisnis.

Baca juga: Eksklusif! Vice President Hitachi Vantara Ini Beberkan Kunci Penguatan Data Digital

“Kami membentuk lapisan perlindungan terakhir di mana [kebobolan] itu akan membuat seseorang mencapai sasaran dengan aman. Mereka bisa meretas kamera dan mendobrak pintu keamanan dengan baik,” kata Joe.

Ia mengibaratkan sistem pertahanan tersebut seperti jeruji yang perlu dirancang dengan keandalan dan ketangguhan tertentu. “Karena itu, kami menyediakan pengaman yang cukup kuat dan mereka (hacker) akan merasa sulit membukanya. Itulah alasan mengapa platform kami melakukannya dan mendorong terwujudnya proyek revolusi 4.0,” ia menambahkan.

Pengamanan harus dilakukan secara menyeluruh tanpa meninggalkan celah enkripsi di semua titik akses. “Kami sudah memiliki enkripsi bahkan memiliki kapasitas yang cukup agar data tidak dapat diakses dari luar selain penyimpanan itu sendiri. Jadi, kami sudah merancang pelapis ketika tantangan keamanan itu datang,” ucap lelaki jebolan Sistem Informasi dan Ilmu Komputer di National University of Singapore (NUS) tersebut.

Baca juga: Palo Alto Networks Tingkatkan Perlindungan Aplikasi SaaS, Perluas Kapabilitas ZTNA 2.0

Menurut Joe, salah satu cara efektif melindungi data adalah dengan memperkokoh pilar infrastruktur data. Pilar tersebut terdiri dari penyimpanan, konten, converge and hyperconverge, serta proteksi data. Tak kalah penting, kebocoran data harus dipertanggungjawabkan oleh entitas penyimpan data.

Selain itu, sistem proteksi juga harus mampu menyediakan solusi secara cepat, efektif, dan efisien. Sehingga, pengguna tidak berada dalam kekhawatiran ketika datanya dibobol oleh kelompok peretas. Standar operasi prosedur itu diterapkan oleh Hitachi Vantara untuk menyikapi tindakan peretas terhadap klien atau organisasi bisnis. “Kami punya solusi perlindungan atas [serangan] ransomware. Mungkin beberapa jam, satu sampai tiga jam, Anda memiliki titik pemulihan. Dari aspek itu, kami memiliki sistem pencegahan dan pemulihan,” katanya.

Sistem proteksi data multiple-layer dengan enkripsi yang end-to-end telah membantu banyak bisnis dan komunitas terselamatkan dari buruan “hantu” data. “Pelanggan mungkin memiliki banyak lapisan keamanan untuk dilindungi dari setiap aspek data. Dan, kami memberikan lapisan perlindungan terakhir (last layer),” pungkas Joe.