Home Nasional Jaga Stabilitas Harga Cabai dan Bawang Merah, Badan Pangan Nasional Siapkan Mobilisasi Stok

Jaga Stabilitas Harga Cabai dan Bawang Merah, Badan Pangan Nasional Siapkan Mobilisasi Stok

Jakarta, Gatra.com - Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi menegaskan, ada beberapa upaya yang akan dilakukan untuk menjaga neraca produktivitas, khususnya pada komoditas bawang merah dan cabai.

Usaha untuk menjaga produktivitas ini, menurut Arief diperlukan agar bisa menjaga stabilitas harganya. Apalagi komoditas cabai dan Bawang merah turut berkontribusi pada inflasi selama 2 bulan belakangan. Fluktuasi harga terjadi akibat sentra produksi hanya di daerah-daerah tertentu.

Pada saat tertentu, komoditas tidak bisa diproduksi lebih di satu daerah, sehingga Badan Pangan Nasional harus melakukan mobilisasi stok, sebagai upaya menjaga ketersediaan stok dalam menjaga inflasi.

"Untuk mobilisasi pangan, anggaran yang besar-besar (dilakukan) oleh Badan Pangan Nasional. Misalnya kasus over production jagung di Sumbawa kemarin. Gudang bulog, gudang swasta, sudah tidak cukup untuk menampung, maka harus dimobilisasi stoknya ke daerah lain. Sementara daerah lain, ada yang perlu jagung, maka difasilitasi distribusi," katanya.

Baca juga: Badan Pangan Nasional Genjot Konsolidasi untuk Tingkatkan Keamanan dan Mutu Pangan

Untuk mobilisasi dalam skala lebih kecil,  kerja sama antar daerah dilakukan. Daerah dapat menggunakan Dana Transfer Umum (DTU) sebesar 2%, sejumlah Rp 2,17 Triliun yang bisa digunakan untuk mobilisasi stok.

"Jadi perintahnya untuk Badan Pangan Nasional yang pertama adalah untuk menyiapkan mobilisasi stok jika diperlukan. Kemudian yang kedua, seharusnya kita ini punya teknologi penyimpanan, bagaimana menyimpan produk-produk yang umurnya pendek, supaya bisa diperpanjang sampai panen berikutnya," ujar Arief saat ditemui di sela acara Konsolidasi Nasional yang digelar Badan Pangan Nasional, Selasa (20/9).

Baca juga: Badan Pangan Nasional Klaim Telah Membuat Data Neraca Pangan yang Terintegrasi

Arief juga menjabarkan upaya ketiga yang harus dilakukan Badan Pangan Nasional adalah menggunakan green house yang tidak terbuka seperti saat ini. Penggunaan shelter-shelter dan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dinilai mampu memberi impact bagi ketersediaan pangan mandiri. Penggunaan cold room juga disebut Arief mampu memperpanjang umur simpan produk.

"Kalau cold room menggunakan listrik atau electricity terlalu tinggi, kita meminta tim untuk menyiapkan teknologi berbasis solar panel, energi surya, supaya kita tidak punya biaya tinggi yang signifikan untuk menyimpan dalam waktu yang cukup lama," paparnya.

Saat ini, pembuatan cold room sedang dalam tahap pengadaan. Badan Pangan Nasional juga sedang mencoba bekerjasama dengan beberapa pemerintah daerah, termasuk daerah sentra produksi. "Kalau bawang mungkin di Brebes, cabai di Temanggung dan beberapa tempat lain. Kemudian ada daerah seperti Aceh yang selain cabai, juga butuh ayam untuk disimpan secara frozen," lanjutnya.

Baca juga: Food Estate Untuk Keberlangsungan Ketahanan Pangan

Menurut Arief, penggunaan cold room akan menjadi penting ke depan karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang mengalami kendala dalam distribusi. Ia mengatakan bahwa agak sulit mengirimkan produk dalam bentuk fresh, namun proses frozen dinilai mampu menyediakan semua dalam kondisi yang baik.

Saat ini Badan Pangan Nasional akan memulai pengadaan cold room serta Air Blast Freezer (ABF) yang mampu membekukan ayam atau daging dalam waktu 6-8 jam untuk kemudian disimpan. Selain itu, ada pula heat pump dryer yang akan digunakan untuk mengeringkan cabai dalam waktu singkat.