Home Hukum Pernah Mendampingi Ayah Brigadir J saat Wisuda Si Ganteng, Irma Hutabarat Mengungkap Keinginan Ibu Joshua

Pernah Mendampingi Ayah Brigadir J saat Wisuda Si Ganteng, Irma Hutabarat Mengungkap Keinginan Ibu Joshua

Jakarta, Gatra.com- Aktivis dan jurnalis, Irma Natalia Hutabarat aktif dalam menyuarakan kasus penembakan oleh Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat. Ia mulai dikenal karena pernah menemani Ayah Brigadir J pada saat menghadiri wisuda kelulusan Brigadir J di Universitas Terbuka.

Irma menyampaikan jika ia sudah beberapa kali menemui Ibu dari almarhum Brigadir J memiliki keinginan agar masalah ini bisa terungkap.

"Saya beberapa kali menemui keluarga Joshua dan ibunya itu sudah bisa mengajar kembali. Tetapi yang sangat diinginkan olehnya (Ibu Brigadir J) adalah bagaimana kasus ini bisa terungkap," ungkapnya pada saat acara diskusi "Audit Satgasus Merah Putih Polri" melalui Zoom, Rabu (21/9).

Dalam kasus ini sebenarnya mulai menemui titik terang, sehingga pada akhirnya ditemukan bahwa dalam kasus penembakan Brigadir J terkait tindak pelecehan seksual terhadap Putri Candrawathi (PC). Jika dilihat lebih dalam, menurut Irma jangan menelusuri orangnya melainkan menelusuri riwayat uangnya.

"Berarti ini artinya banyak hal-hal yang di depan mata yang sama sekali tidak ditelusuri dan tidak diselidiki. Tetapi yang diselidiki malah apakah ada pelecehan seksual," katanya.

Pendiri dan ketua dari LSM Institute of Civic Education (ICE) menuturkan harusnya negara itu berfokus pada penegakan hukum dan keadilan, bukan pada isu-isu pelecehan seksual yang belum tentu benar adanya.

"Negara ini gak penting bahas soal ini tidur dengan siapa dan itu gak mengganggu hidup saya. Tetapi ketika penegakan hukum dan kemudian keadilan itu dilecehkan, lalu terjadi di depan mata itu rekayasa, maka kita harus berontak. Karena itu mengganggu akal sehat dan hati nurani," tuturnya.

Irma pun menjelaskan jika kasus ini membuat ia jadi susah tidur diakibatkan selalu teringat dengan tangisan dari Ibunda Brigadir J. Bukan hanya itu, ia mengakui merinding dengan kejahatan pada peristiwa penembakan tersebut.

"Kalau kita punya nyawa masih bisa memaafkan, tetapi kesalahan yang gak bisa dimaafkan mengambil nyawa orang. Itu udah jadi tugas dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan mengurus hak hidup yang sudah diambil atau direnggut, bukan menambah fitnah di atas kematian itu," jelasnya.

Di akhir diskusinya, Irma menyampaikan pendapat terakhirnya agar kasus ini harus ditelusuri dari segi yang tidak terlihat seperti uang yang pernah diberikan dari Ferdy Sambo (FS) kepada ajudannya.

"Saya pikir kita bisa mulai mengaudit dari rekening, tabungan. Karena itu jelas tindak pidana pencucian uang. Tidak mungkin ajudan diberikan rekening bank uang sampai ratusan juta, tidak mungkin juga dengan orang yang bergaji 30jt bisa menyogok sampai milyaran. Mulai yang terlihat di depan mata kenapa itu belum diselidiki, kita bisa mulai menanyakan hal itu," pungkasnya.