Home Politik Pengamat Nilai Perlunya Capres dan Cawapres Alternatif

Pengamat Nilai Perlunya Capres dan Cawapres Alternatif

Jakarta, Gatra.com – Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo mengatakan perlunya nama-nama alternatif calon presiden atau wakil presiden potensial yang bisa dipilih di Pemilu 2024 nanti. Mereka yang akan tampil dan memiliki kemungkinan menang di Pemilu 2024. Agar tidak hanya itu-itu saja orangnya yang selama ini disebut-sebut. 

“Dulu kita punya Soekarno ketika Soeharto. Lalu, sekarang kita punya Pak Jokowi. Seakan-akan ada sekelompok orang yang enggan melepaskan Pak Jokowi dari kursi presiden. Nobody is indispensible. Tak ada yang tak tergantikan,” kata Ari pada Diskusi Media PARA Syndicate “Jokowi Cawapres 2024 vs Capres-Cawapres Alternatif,” Rabu (21/09) melalui kanal YouTube PARA Syndicate.

Baca Juga: Jelang Pilpres 2024, PARA Syndicate: Sindrom Jokowi, Sindrom Survei dan Decapresinasi Menjadi Disorientasi Politik

Calon presiden alternatif menurut Ari, hendaknya tidak lagi hanya berkutat pada tiga nama besar, seperti Prabowo Subianto, Anies Baswedan, dan Ganjar Pranowo. 

Ari menegaskan, masyarakat dan partai harus berani mencari calon-calon yang lebih segar. Ia pun mengapresiasi langkah PDI Perjuangan untuk menggerakan politik kerja dan mau menggerakan mesin partai untuk mengajukan calon sendiri, yang mungkin berada di luar selera publik. 

Seperti juga Partai Golkar misalnya yang mengusung Airlangga Hartanto sebagai calon presiden dan meminta semua kadernya untuk ikut mendukung, karena merupakan kader terbaik dan Airlangga adalah Ketua Umum Partai Golkar, yang punya hak dalam konstitusi partai.

Baca Juga: Pengamat: Pelopori KIB, Nama Airlangga Melesat Ramaikan Capres-Cawapres 2024

Selain Airlangga dari Partai Golkar, Puan Maharani dari PDI Perjuangan. Ada nama lain seperti Menparekraf, Sandiaga Uno yang pernah berpasangan dengan Prabowo sebagai Cawapres di pemilu tahun 2019 lalu. Merupakan salah satu capres alternatif dari partai Gerindra.

Itu dari kalangan politisi, lanjut Ari, ada juga usulan dari calon kalangan militer TNI dan Polri. Seperti Panglima TNI Andika Perkasa dan mantan Kapolri Tito Karnavian, yang sekarang menjadi Menteri Dalam Negeri.

Ada juga Ekonom Rizal Ramli, mantan menteri di zaman Gus Dur lanjut Ari, meski bagi sebagian kalangan penyokog Jokowi, ia berseberangan dan dinilai sering kontroversi. Namun dia disebut calon presiden non partai, karena pandangan-pandangannya kerap representatif dan mau memajukan Indonesia ke depannya.

Baca Juga: Presiden Ideal 2024, Pengamat Sebut Rizal Ramly dan Jimly Asshiddiqie

Menteri-menteri dari kabinet Joko Widodo juga disebut-sebut sebagai Capres dan cawapres alternatif non partai seperti Erick Thohir, Sri Mulyani, Retno Marsudi, dan Budi Gunadi Sadikin. 

Menurut Ari, Erick berhasil membenahi penataan BUMN saat ini. Sri Mulyani berhasil dengan kompetensi integritasnya sebagai Menteri Keuangan. 

Ada juga Retno Marsudi sukses menegakkan fungsi diplomasi luar negeri, politik luar negeri Indonesia, mewujudkan Indonesia sebagai tuan rumah G20 dan mendapat banyak bantuan vaksin berkat menjabat sebagai Ketua Bersama Covax AMC. 

"Menkes Budi Gunadi Sadikin sukses mengendalikan pandemi COVID-19 meskipun bukan dari kalangan dokter," kata Ari. 

Dengan masih banyaknya calon potensial untuk dijadikan calon Presiden, kayta Ari, sudah saatnya semua pihak beranjak dari hanya memilih calon yang itu-itu saja. 

Partai politik juga perlu mendorong kader partainya bisa tampil prima, agar punya kesempatan  memimpin bangsa menggantikan Jokowi pada 2024. 

"Jadi, terus terang kami sangat tidak sepakat adanya wacana Pak Jokowi dipilih lagi sebagai Cawapresnya Prabowo. Kendati konsekuensi hukumnya masih bisa, tapi secara etik moral perlu pertimbangan,” kata Ari.