Home Ekonomi Rencana Ekspor 100 Ton Jagung, Kemendag Ingatkan Hal Ini

Rencana Ekspor 100 Ton Jagung, Kemendag Ingatkan Hal Ini

Jakarta, Gatra.com - Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negari, Kementerian Perdagangan, Syailendra mengatakan pihaknya mendukung rencana ekspor 100 ribu ton jagung yang dicanangkan pemerintah tahun ini.

"Kami mendukung kalau memang surplus ya. Kalau ekspor kan itu kan pasti dari sisi perdagangan itu dapat menambah devisa ya kita dukung," ujar Syailendra dalam webinar Pataka, dikutip Jumat (23/9).

Kendati demikian, Syailendra menekankan agar rencana ekspor perlu memperhatikan beberapa hal penting. Mulai dari harga jagung di pasar global, hingga kepastian stok untuk kebutuhan domestik.

Ia menerangkan, surplus produksi jagung nasional rata-rata hanya terjadi pada musim panen raya sekitar kuartal pertama hingga kuarta kedua. Selanjutnya, secara bulanan rata-rata produksi jagung cenderung defisit.

"Secara total tahunan surplus.Tetapi kalau kita lihat bulan per bulan, contoh di 2021 itu neracanya selalu minus di kuartal kedua sampai terakhir," ungkap Syailendra.

Karena itu, Ia menyarankan agar surplus produksi jagung perlu didukung oleh perbaikan mutu proses pasca-panen jagung. Menurut dia, kelebihan produksi jagung bisa distok dalam silo (ruang simpan) agar kualitasnya bertahan lama.

Baca jugaKementan Pastikan Ekspor Jagung Tak Ganggu Kebutuhan Domestik

"Paling tidak yang surplus itu ditarik di silo yang bagus jadi bisa bertahan. Jadi kalau stok kita ada dan memang dikuasai oleh negara tentu kita bisa menjaga stabilitas harga jagung," jelasnya.

Di sisi lain, untuk melakukan ekspor maka pemerintah juga harus memantau pergerakan harga jagung di pasar global. Syailendra menuturkan bahwa belakangan harga jagung cenderung turun. Di sisi lain, dia mempertanyakan apakah dari segi biaya produksi jagung di Indonesia lebih kompetitif dibandingkan eksportir lainnya.

"Jadi melihat (harga global) ini turun, saya belum tau sekarang biaya produksi jagung berapa? Apakah masih bisa kita kompetitif jika kita ekspor?," tuturnya.

Sebab, harga jagung yang kompetitif dapat mendongkrak daya saing jagung Indonesia di pasar global, di samping kualitas yang perlu dijaga.

"Kalau harganya tipis saja, untungnya kecil ya lebih bagus menyiapkan untuk kebutuhan domestik. Artinya kita harus memprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri," ucapnya.

Selain itu, Syailendra menegaskan agar rencana ekspor jagung perlu mempelajari terlebih dahulu permasalahan jagung yang pernah terjadi sebelumnya. Pada 2021, ia menyebut, peternak rakyat kekurangan jagung untuk pakan ternaknya. Mereka menuntut ketersediaan jagung pakan dengan harga yang terjangkau kepada pemerintah

"Peternak kemudian beraksi, kemudian kami lakukan subsidi harga jagung supaya harga pakan itu tetap terjaga di tingkat peternak," sebutnya.

Adapun harga jagung pakan yang layak di tingkat peternak yaitu berkisar Rp4.200-Rp4.500 per kilogram. Syailendra pun mengimbau agar data-data produksi dan stok jagung nasional perlu dipastikan secara matang sebelum ekspor dilakukan.

"Jangan sampai kita ekspor, tetapi ketahan pangan untuk domestik terutama untuk peternak menjadi tidak diperhatikan dengan baik," tandas Syailendra.

Sebagai informasi, berdasarkan pantauan Gatra.com di Trading Economics, rata-rata harga jagung di pasar The Chicago Board of Trade (CBOT) pada 23 September 2022 per 11.40 WIB yaitu sebesar US$684,1 per gantang. Harga itu turun 0,6 persen dibandingkan kemarin.