Home Ekonomi Kementan Pastikan Ekspor Jagung Tak Ganggu Kebutuhan Domestik

Kementan Pastikan Ekspor Jagung Tak Ganggu Kebutuhan Domestik

Jakarta, Gatra.com - Pemerintah berencana mendorong Indonesia swasembada dan menjadi eksportir jagung. Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan kuota ekspor 100 ribu ton jagung tahun ini.

Direktur Serealia Kementan, Ismail Wahab mengklaim sejak tahun 2017, Indonesia tidak lagi mengimpor jagung untuk pakan. Adapun selama ini menurut dia yang diimpor oleh Indonesia merupakan jagung untuk kebutuhan pangan.

"Yang kita impor selama ini adalah jagung untuk makanan dan minuman," ujar Ismail, dikutip dari rilis yang diterima redaksi, Jumat (23/9).

Baca Juga : Akademisi IPB: Sejak 2019 Indonesia Tak Impor Jagung Pakan

Ketentuan impor jagung diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 21 Tahun 2021. Kendati demikian, pemerintah belum punya aturan mengenai ekspor jagung.

Adapun Kementan menargetkan produksi jagung tahun 2022 mencapai 23 juta ton. Ia menyebut secara tahunan produksi rata-rata jagung secara nasional meningkat 1,01 persen. Bahkan, data Kementan menunjukkan perkiraan produksi jagung pada periode Januari hingga November 2022 untuk jagung kadar air 27 persen mencapai 22.1 juta ton, sementara untuk kadar air 14 persen sebesar 16,3 juta ton.

Menurut Ismail saat ini jagung menjadi tanaman favorit bagi petani karena harganya sangat kondusif dan cenderung menguntungkan bagi petani. Program bantuan tanam Ditjen Tanaman Pangan pun, kata Ismail, komoditas jagung jadi yang paling laris di kalangan petani.

"Sekarang petani kalau tanam lebih banyak memilih tanaman jagung di lahan kering," ungkap Ismail.

Baca juga: Presiden Tinjau Food Estate dan Tanam Jagung di Kabupaten Belu

Karena itu, dia mengatakan pihaknya akan segera melakukan survei cadangan jagung nasional. Menurutnya, selama ini hal itu belum pernah dilakukan sebelumnya, termasuk oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

"Saya kira ini akan kami lakukan survei cadangan jagung nasional. Ini belum pernah dilakukan, BPS juga belum pernah melakukan," ucap Ismail.

Ismail menerangkan, survei dan pendataan stok jagung nasional dilakukan untuk memastikan produksi dan stok surplus. Ia menekankan, agar nantinya ekspor jagung bisa dipastikan tidak menganggu pasokan pemenuhan kebutuhan nasional.

"Untuk memastikan bahwa apa betul kita kondisinya cukup, produksinya cukup, dan ada di mana saja barang itu, stoknya di mana cadangannya nya di mana. Jadi kalau melakukan ekspor jangan sampai kita kurang di dalam negeri," pungkasnya.