Home Ekonomi Resesi Membayangi, CEO Astronacci Khawatir Mirip 2007

Resesi Membayangi, CEO Astronacci Khawatir Mirip 2007

Jakarta, Gatra.com – CEO & Founder of Astronacci International Group, Gema Goeyardi, mengaku khawatir jika resesi yang tengah membayangi dunia, mirip seperti yang terjadi pada tahun 2007 lalu.

“Saya takutnya sekarang mirip 2007. Jadi gini, indikatornya agak mirip 2007, komoditinya di-push naik oleh dolar naik, rupiah juga naik,” kata Gema dalam sesi wawancara di Jakarta baru-baru ini.

Ia menjelaskan, kejadian pada tahun 2007 di Amerika Serikat (AS) itu dipicu dari tahun sebelumnya, yakni 2004, 2005, dan 2006. Pada tahun tersebut, semua instrumen keuangan dipermudah.

“Mau utang dipermudah, semua dipermudah tanpa mereka sadari, tapi di ujungnya mereka gagal bayar sebenarnya,” ujar dia.

Baca Juga: Bank Sentral Jerman Melihat Tanda Resesi Berlipat Ganda

Adapun yang terjadi di AS saat ini, kata Gema, sedikit berbeda karena Negeri Paman Sam itu mulai inflasi besar karena krisis rantai pasok (supply chain) akibat perang Rusia-Ukraina.

“Yang menjadi masalah adalah mereka jobless-nya naik, tapi apakah benar-benar tidak ada kerjaan di situ? Kerjaan banyak, tapi jobless-nya naik karena ada stimulus Covid, orang tidak mau bekerja, [karena] terima uang dari pemerintah,” ujarnya.

Menurut Gema, kondisi tersebut tidak sehat karena yang ditakutkan adalah kalau terjadi resesi global, Indonesia ipasti akan mengalaminya. Terbukti, sekarang inflasi Indonesia sudah terus naik secara bertahap (gradually).

”Karena tidak mungkin tidak naik, begitu BBM dinaikkan karena mau tidak mau harus dinaikkan, subsidi dan kompensasinya, APBN tidak bisa meng-cover lagi, nanti sebentar lagi listrik naik, sembako naik, maka inflasi nonmigas juga akan naik,” ujarnya.

Sekarang, lanjut dia, tinggal melihat bagaimana perkembangan kurs dollar AS terhadap rupiah. Kalau terjadi dealuasi mungkin sampai menyentuh Rp16.000, maka untuk Indonesia yang kemungkinan paling diuntungkan adalah sektor ekspor, namun hanya mining dan crude palm oil (CPO).

Baca Juga: Ekonomi Jatuh, Inggris Mendekati Resesi

“Tapi apakah ekspor kita yang lain bisa jalan. Jadi tongkat kita cuman satu, begitu kita masuk tren defisit, yang kita takutkan rupiahnya sudah bidding, inflasinya naik, daya beli masyarakat sudah turun, terus terjadi defisit GDP sebentar lagi, sekarang mungkin kita 5,4. Pak Jokowi bilang, tahun depan diusahak di 14.750, GDP tetap dipertahankan di 5,3 misalnya. Apakah bisa? Kita harus siap-siap,” ucapnya.

Lantas, kapan sampainya badai resesi di Indonesia? Gema mengatakan, tahun 2007 menuju 2008 terjadi pengetatan. “BI [Bank Indonesia] juga semua setop. 2008 itu satu tahun sebelum pemilu, 2023 adalah satu tahun sebelum pemilu. Jadi saya melihat ada tipikal yang mirip, dari kondisi rupiahnya mirip, dari bubbel potential crisis-nya mirip. Jadi saya takutnya kuartal I 2023 itu anginnya berhembus,” katanya.

Menurutnya, saat ini pemerintah selalu bilang bahwa Indonesia baik-baik saja dan GDP masih bagus. Tapi kalau berbicara kondisi di lapangan, masyarakat sebenarnya sudah mulai merasakan.

Income berapa, terus kalau kita ke pasar habisnya berapa, saving-nya berapa, itu sudah berasa. Tapi tidak bisa secara langsung ke-record ke dalam data BPS. Ini akan meledak juga pada akhirnya, mungkin 6 bulan mulai sekarang. Ini harus kita antisipasi,” katanya.