Home Politik Pakar Sebut Peran Aspirasi Perempuan Ikut Andil Dalam Dinamika Pemilu 2019

Pakar Sebut Peran Aspirasi Perempuan Ikut Andil Dalam Dinamika Pemilu 2019

Jakarta, Gatra.com - Analis dari Institue of Policy Analysis of Conflict (IPAC) Jakarta, Dyah Ayu Kartika, menyebut peran kalangan perempuan dalam kontestasi Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019 silam. Berdasarkan riset pada 2019, aspirasi perempuan hadir saat pilpres dalam penyampaian siapa calon presiden yang didukung, mendukung calon legislatif perempuan dan gerakan perempuan yang ditampilkan pada masa itu.

Benang merah yang disorot oleh Dyah adalah diseminasi narasi konservatif online yang umumnya melalui media sosial dan offline melalui salah satu gerakan dari pendukung dua pasang calon saat itu. Di tengah kampanye Pemilihan Presiden 2019, terdapat dua kubu perempuan untuk mengidentifikasi pendukung masing-masing pasangan capres dan cawapres pada waktu itu.

Baca JugaPeserta Pemilu Dituntut Mampu Penuhi Ekspektasi Pemilih Muda, Seperti Apa?

Ibu Bangsa adalah perkumpulan perempuan pendukung paslon Joko Widodo - Ma’ruf Amin. Ibu Bangsa ini sifatnya lebih beragam dan terpencar. Isu yang dibahas umumnya berfokus kepada kesetaraan gender dan pemberdayaan ekonomi untuk memajukan bangsa. "Latar belakang para anggota Ibu Bangsa antara lain kelompok nasionalis, business women yang memobilisasi kelompok akar rumput dan kelompok agama," ujar Dyah dalam Peluncuran Buku The Jokowi-Prabowo Elections 2.0 di Gedung BRIN, Jakarta, Kamis (29/9).

Disisi lain, gerakan perempuan juga muncul dalam tagline The Power of Emak-emak yang beranggotakan perempuan pendukung paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. The Power of Emak-emak ini, dilihat Dyah, umumnya terlihat tangguh dan dekat dengan rakyat kecil. Dikoordinasi oleh OK OCE, The Power of Emak-emak bergerak di akar rumput dan kerap aktif di media sosial.

"Selama beraksi, The Power of Emak-Emak ini umumnya berfokus kepada ketimpangan ekonomi yang terjadi di tengah kepemimpinan Presiden Joko Widodo di periode 2014-2019. Selain itu, mereka mengklaim bahwa mereka terbuka dengan segala kelompok agama," jelasnya.

Baca JugaKIB Disebut ‘Ecek-Ecek’, Yandri: Semua yang Berkembang Masih Ecek-Ecek

Disamping keterlibatan perempuan, Dyah juga melihat adanya hal-hal lain yang membuat Pemilu 2019 berbeda. Utamanya, Adanya masalah penodaan agama oyang dipantik oleh Basuki Tjahja Purnama atau Ahok saat itu juga yang mempengaruhi politik. Ditambah, meningkatnya isu-isu internasional dan domestik yang dianggap mengancam moral bangsa. Misalnya di internasional ada gerakan #MeToo yang mempromosikan feminisme yang dicap barat, serta legalisasi pernikahan sesama jenis di berbagai belahan dunia.

“Ancaman ini tidak hanya dilihat di luar negeri, tetapi dianggap sudah masuk ke Indonesia dengan munculnya gerakan-gerakan mendukung hak LGBT di dalam negeri. Dengan adanya 'ancaman moral' ini, semakin meningkatlah upaya untuk merevitalisasi identitas tradisional ibu sebagai tiang bangsa yang selama ini disosialisasikan oleh orde baru, maupun dalam nilai-nilai agama,” tutupnya.

 

33