Home Kesehatan Jumlah Kematian Anak Akibat Covid-19 Meningkat, Ahli Minta Prokes terus Ditegakkan

Jumlah Kematian Anak Akibat Covid-19 Meningkat, Ahli Minta Prokes terus Ditegakkan

Jakarta, Gatra.com - Tren kasus Covid-19 pada anak bersifat fluktuatif. Data Satgas Penanganan Covid-19 menunjukkan bahwa sebulan terakhir, jumlah kasus positif Covid-19 pada anak mencapai 10.000 kasus. Ketua Komnas KIPI sekaligus Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia, Hindra Irawan, menjabarkan bahwa kondisi anak yang rentan terhadap Covid-19 akibat kewaspadaan yang turun.

"Sekarang sudah agak terkendali, namun kewaspadaan jadi turun. Kalau virus sampai gejala fatal, yaitu sesak nafas, awal masuknya dari hidung. Ketika kita pakai masker, maka virusnya mental, tidak masuk," ujarnya dalam diskusi bertajuk "Bincang Covid-19: Memahami Kesehatan Anak pada Masa Transisi" yang digelar Badan Nasiona Penanggulangan Bencana, Jumat (30/9).

Baca JugaPenyakit Jantung Koroner Penyebab Kematian Tertinggi di Indonesia 

Hingga 25 September, jumlah kematian anak dalam 3 bulan terakhir mengalami peningkatan. Pada anak usia 0-18 tahun, ada 8 kasus kematian pada Juli, 14 kasus kematian pada Agustus, dan 25 kasus pada September. Namun, Hindra menjelaskan bahwa presentasenya tetap, masih berada di kisaran 0,2% dari total.

Hindra menjelaskan bahwa pengawasan protokol kesehatan bagi anak menjadi kuncinya. Diperlukan kerja sama antara orang tua dan pihak sekolah, sehingga kedisiplinan dalam penerapan protokol kesehatan bisa dibentuk.

"Selama 3 bulan terakhir ketika sekolah sudah tatap muka, cakupan imunisasi mengendur, kasus jadi naik," paparnya.

Baca JugaIni Penyebab Penyakit Tidak Menular Alami Peningkatan Signifikan

Namun, Hindra menerangkan bahwa biasanya, gejala Covid-19 pada anak cenderung lebih ringan dibanding orang dewasa. Selain itu, sama seperti kasus dewasa, anak dengan komorbid juga memiliki risiko terkena gejala lebih berat.

Faktor lingkungan juga menjadi salah satu yang berpengaruh dalam kasus anak. Ruang dengan aliran udara yang baik, tidak berada di kerumunan, serta menjaga jarak masih menjadi cara paling ampuh untuk menghindari paparan virus.

Hindra menegaskan bahwa penerapan protokol kesehatan masih menjadi kunci, terutama di sekolah. Mobilitas tinggi juga menjadi penyebab, sehingga Hindra masih menyarankan untuk melakukan pembatasan dalam bepergian. Selain itu, ia mendorong untuk dilakukannya vaksinasi demi memperkuat imun tubuh. Bagi anak, peran orang tua dalam melakukan vaksinasi sangatlah penting sehingga diperlukan kesadaran dari orang tua.

"Virus kan mutasi terus, ya kita harus mutasi juga. Kita harus bekerja sama, kalau tidak, virus itu yang menang," ujarnya.