Home Ekonomi Perusahaan Pembiayaan Siap Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Perusahaan Pembiayaan Siap Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Jakarta, Gatra.com - Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno menyatakan, bahwa kendaraan listrik diproyeksikan akan menjadi tren baru. Ia menyebutkan bahwa perusahaan pembiayaan turut akan mendukung perkembangan industri kendaraan listrik ke depan.

"Kita tidak bersaing dengan perbankan, tapi kita berkolaborasi. Istilahnya kita kakak-adik (untuk mendukung perkembangan kendaraan listrik)," ucapnya dalam diskusi yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara daring, Kamis (17/11).

Baca JugaWaduh Stok Beras Pemerintah Defisit, Dirut Bulog Sodorkan Opsi Impor

Suwandi menilai bahwa potensi pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Indonesia akan meningkat. Berdasarkan Permenperin Nomor 6 Tahun 2022, target produksi kendaraan listrik roda dua dan tiga pada 2030 diproyeksikan mencapai 9 juta unit. Sementara, target produksi kendaraan listrik roda empat pada 2030 ditargetkan mencapai 600.000 unit. Menurutnya, ini akan melibatkan skema pembiayaan yang turut melibatkan perusahaan pembiayaan ke depannya.

Suwandi juga memaparkan keuntungan dari kendaraan listrik di Indonesia. Ia menilai bahwa kendaraan listrik unggul salah satunya dari faktor lingkungan dan biaya operasional. Mobil listrik dilihat minim polusi dan minim emisi karbon, serta tidak lagi menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

Hal ini akan berpengaruh pada biaya operasional sebab biaya charging jauh lebih murah dibandingkan BBM, serta tidak ada biaya perawatan penggantian oli. Selain itu dari sisi biaya pajak dan mobilitas, kendaraan listrik juga lebih diunggulkan.

"Ada subsidi pajak tahun pertama, serta pajak tahunan yang lebih murah. Kendaraan listrik juga terbebas dari aturan ganjil-genap," ucapnya.

Baca JugaMRT Jakarta dan PLN Bakal Bangun Stasiun Pengisian Daya Mobil Listrik

Di luar keunggulannya, Suwandi juga memaparkan bahwa masih ada hal-hal yang menjadi tantangan bagi kendaraan listrik. Hal ini meliputi station charging yang masih terbatas, harga jual yang mahal, ketersediaan baterai, penanganan limbah baterai, hingga umur pemakaian kendaraan.

"Ketersediaan baterai itu gimana? Itu ada nggak bekasnya? Semoga nanti kendaraaan bekas masih punya nilai jual karena kita ketahui masyarakat Indonesia sering mikirnya waktu beli berapa harga jualnya nanti," katanya.

Namun, ia mengatakan bahwa jika insfrastruktur industri kendaraan listrik sudah baik, maka tantangannya bisa diatasi. Ia turut menyebutkan bahwa perusahaan pembiayaan akan menyiapkan skema pembayaran yang tepat untuk kendaraan listrik sesuai dengan kebutuhan yang ada.

"Seperti apa skema-skema yang ada, tentunya dengan tetap memperhatikan kualitas agar portofolio bertumbuh. Saya yakin untuk pembiayaan kendaraan listrik akan tercipta ekosistem yang baik," tuturnya.

216