Home Kesehatan Penyakit Jantung Sumbang Kematian Tertinggi Kedua di Indonesia, Diperlukan Inovasi Kateterisasi Jantung

Penyakit Jantung Sumbang Kematian Tertinggi Kedua di Indonesia, Diperlukan Inovasi Kateterisasi Jantung

Jakarta, Gatra.com - Penyakit kardiovaskular atau jantung merupakan penyakit menjadi salah satu penyakit dengan angka kematian tertinggi kedua di Indonesia setelah penyakit Stroke. Fakta ini didasarkan pada data dari World Health Organization (WHO). Adapun jumlah kematian akibat penyakit jantung secara global bisa mencapai 18,6 juta orang setiap tahunnya dan kemungkinan pada tahun 2030 diperkirakan mencapai 24,2 juta orang meninggal dunia.

Menanggapi fakta tersebut, Perkumpulan Intervensi Kardiovaskular Indonesia (PIKI) memandang perlunya intervensi dalam bidang Kardiologi di Indonesia. Salah satunya, dengan mengedepankan penanganan yang cepat dan tepat serta membutuhkan pelayanan kesehatan seperti kateterisasi jantung dan pemasangan ring. Persoalan ini pula yang kemudian dibawa dalam kegiatan International Society of Interventional Cardiology Annual Meeting (ISICAM) 2022.

“Kateterisasi merupakan salah satu prosedur intervensi kardiologi dengan cara memasukkan alat dalam tubuh manusia tanpa perlu melakukan pembedahan,” kata Ketua ISICAM 2022, Ismir Fahri dalam konferensi bersama awak media di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Jumat (25/11).

Pertemuan ini, Sambung Ismir, akan menjadi momentum stakeholder kardiovaskular di tanah air untuk terus menjalin kerja sama yang baik dengan lintas disiplin. Supaya pembahasan tentang mengenai kateterisasi jantung dan pemasangan ring pun berparadigma pada teknologi dan inovasi teranyar.

“Sembari memperluas jejaring kolaborasi di dunia Intervensi Kardiologi untuk kebaikan pelayanan serta penanganan pasien-pasien jantung dan pembuluh darah di Indonesia,” jelasnya.

Berbicara mengenai ISICAM 2022, Ismir pun mengungkapkan bahwa rencananya kegiatan pertemuan tersebut akan dihadiri sebanyak 177 pembicara dan moderator yang sebagian besar merupakan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah. Nantinya, penyelenggaraan juga akan menghadirkan fasilitas workshop yang dikhususkan untuk dokter dan perawat.

"Terdapat 11 workshop untuk dokter dan 1 workshop untuk perawat. Kemudian ada 21 sesi Simposium dengan joint symposium internasional dari Jepang dan Singapura, dengan diskusi kasus yang dikerjakan secara live di New Zealand dan India," tambahnya.

134