Home Pendidikan Inspirasi Hari Guru, Begini Cerita Guru Hadapi Tantangan Pendidikan di Indonesia

Inspirasi Hari Guru, Begini Cerita Guru Hadapi Tantangan Pendidikan di Indonesia

Jakarta, Gatra.com - Di peringatan Hari Guru Nasional, cerita-cerita dari pengalaman guru dalam menghadapi tantangan pembelajaran jadi salah satu yang menarik untuk disimak. Dimoderatori langsung oleh Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim, sebanyak 4 guru berkesempatan untuk berbagi cerita dalam giat peringatan puncak Hari Guru Nasional (HGN).

Guru pertama yang diberi kesempatan untuk bercerita adalah I Ketut Budiarsa, Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 09 Padangsambian, Bali. Ketut mengaku memilih melakukan pendekatan yang humanis sebagai strategi awal untuk merangkul dukungan para guru mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Utamanya, dalam melakukan pendekatan dan pendampingan dengan meyakinkan para guru senior khususnya untuk terus bersama-sama belajar.

“Kepada guru yang lebih muda, Budi mendorong mereka untuk lebih bersemangat belajar. Kami bersama merancang pembelajaran yang berpihak pada anak-anak,” urai Ketut saat hadir dalam dialog di peringatan peringatan puncak Hari Guru Nasional (HGN), Sabtu (26/11)

Guru berikutnya yang berbagi cerita ialah Dolvina Lea Ansanay. Guru Penggerak Angkatan I yang berasal dari SMA Gabungan Jayapura menceritakan bagaimana dia menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Ia pun merasa model pembelajaran ini sangat menarik, karena melihat bakat dan potensi peserta didik.

“Sehingga meski kondisi kita terbatas namun dengan pembelajaran berdiferensiasi maka kita bisa kreatif mencari celah potensi sumber daya belajar dari apa yang kita punya di kelas,” jelasnya.

Kemudian, Lili Gusni yang merupakan guru ASN PPPK menceritakan kesannya atas kebijakan rekrutmen 1 juta guru ASN PPPK. Wanita yang juga yang mengajar di UPT SDN 28 Indrapura Batu Bara, Sumatra Utara ini sangat bersyukur karena setelah bertahun-tahun mengabdi pencapaiannya kini setelah berstatus ASN PPPK memacunya untuk berkarya lebih baik lagi.

“Saya terus memacu diri meski sebelumnya saya berstatus honorer, saya terus mencari peluang untuk mengembangkan diri,” ungkap wanita yang juga tergabung dalam komunitas Ibu Penggerak.

Eka Widiastuti, Guru Penggerak SMPN 1 Sungkai Selatan Lampung Utara mengungkapkan tantangan yang ia hadapi pascapandemi di mana peseta didik berkurang minat belajarnya. Menyikapi agar kegemaran siswanya bermain gim, Eka tergerak untuk menciptakan materi ajar melalui gim. Namun, ia kembali dihadapkan pada terbatasanya kuota internet yang dimiliki siswa karena latar belakang ekonominya menengah ke bawah.

“Akhirnya saya membuat aplikasi yang bisa diakses siswa melalui HP android tanpa memakan kuota internet. Selain itu, saya juga membuat penilaian bersama dengan siswa dengan membuat inovasi pembelajaran Petak Umpet Soal. Ketika saya desain seperti itu anak-anak berlomba-lomba mencari soal di berbagai tempat dan menjawab soal dengan semangat,” ujarnya bersyukur karena metode ini bisa mengangkat animo siswanya belajar.

185