Home Teknologi Tips Bijak Berselancar di Jagat Siber Ala BSSN

Tips Bijak Berselancar di Jagat Siber Ala BSSN

Jakarta, Gatra.com – Juru Bicara Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Ariandi Putra, mengatakan, pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat banyak data dan informasi yang dapat diakses.

Namun demikian, kata Ariandi dalam keterangan pers, Kamis (8/12), harus bijak dalam menerima dan menggunakan data atau informasi agar tidak menimbulkan kerugian pagi penerima maupun penyedianya.

Ariandi menyampaikan sejumlah kiat atau tips dalam mengakses data dan informasi yang dapat #jagaruangsiber Anda, yaitu pertama, kemampuan akses. Ini merupakan moda dasar untuk melangkah pada aktivitas daring. Tanpa akses ke jaringan digital atau internet misalnya, maka pengalaman daring yang tersedia tidak akan dirasakan.

“Bayangkan jika tidak ada akses yang merata dan mencukupi terhadap internet, mustahil untuk bisa terkoneksi dengan platform pembelajaran/bekerja daring, semisal Zoom, Google Meet, Microsoft Teams, Skype, hingga WhatsApp,” ujar Ariandi.

Baca Juga: BSSN Sampaikan 12 Langkah Amankan Akun Instagram

Seluruh akses yang dimiliki perlu digunakan seoptimal mungkin. Hal itu untuk menunjang setiap aktivitas.

Kedua, memahami jenis data dan informasi. Saat ini, dunia digital dibanjiri dengan berbagai konten yang tidak seluruhnya dibutuhkan dan dapat dipercayai. Konten digital yang bervariasi jenis dan jumlahnya tersebut tidak selalu mengandung kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Atas dasar itu, kata Ariandi, pengguna atau masyarakat penting untuk mengetahui macam-macam konten palsu yang sering beredar di dunia maya atau jagar siber. Terdapat tiga macam gangguan informasi yang perlu dipahami, yakni misinformasi, disinformasi, dan malinformasi.

Ia menjelaskan, misinformasi adalah jenis informasi salah yang disebarkan oleh orang yang memercayainya sebagai hal yang benar. Sedangkan disinformasi, adalah jenis informasi salah yang sengaja disebarkan oleh orang yang tahu bahwa informasi itu salah. Adapun malinformasi, yakni jenis informasi yang benar tetapi digunakan untuk merugikan.

Lebih jauh Ariandi menjelaskan, terdapat beberapa macam misinformasi dan disinformasi yang juga perlu dipahami, yakni satire atau parodi. Ini tidak bertujuan menyebabkan kerugian, tapi berpotensi menipu.

Selanjutnya konten tiruan, yakni meniru sumber-sumber asli. Ada juga hubungan yang salah, yakni ketika judul, visual, dan keterangan tidak mendukung konten alias judul tidak menggambarkan isi konten atau informasi.

Kemudian konten yang dimanipulasi, yakni ketika informasi atau gambar asli dimanipulasi untuk menipu. Konten menyesatkan, adalah membingkai sebuah isu atau seseorang secara menyesatkan.

Bukan hanya itu, ada juga konten yang salah. Artinya, ketika konten asli dibagikan dengan informasi atau konteks yang salah dan terakhir konten rekaan, yakni konten 100 persen palsu yang dirancang untuk menipu dan menyebabkan kerugian.

Ketiga, menyeleksi sumber informasi. Konten hoaks sering ditemukan tersebar luas, di antaranya melalui media sosial, aplikasi pesan instan, dan situs berbagi video. Berdasarkan data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dan cekfakta.com periode 1 Januari–16 November 2020, jumlah hoaks yang tersebar di Indonesia berjumlah 2.024 konten.

Sedangkan berdasarkan survei International Center for Journalists (ICFJ) dan Tow Center for Digital Journalism di Columbia University, menyatakan bahwa 88 persen jurnalis menemukan hoaks paling banyak di Facebook, WhatsApp, Instagram, Twitter, dan YouTube.

“Dengan begitu, kita dapat lebih jeli dan mawas diri dalam memilah dan memilih informasi yang didapatkan dari masing-masing platform tersebut,” kata Ariandi.

Keempat, memperhatikan keyword pencarian di browser. Saat ini, terdapat berbagai macam mesin pencari (browser) untuk membantu proses penelusuran data dan informasi digital, yang paling terkenal di antaranya adalah Google, Bing, dan Yahoo.

Banyaknya data dan informasi digital yang terarsip dalam mesin pencari, menuntut masyarakat untuk bisa menemukan informasi secara cepat dan tepat. Misalnya memanfaatkan section news untuk mencari berita terkini.

Google menyampaikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam mencari informasi melalui mesin pencarinya, yakni cari dengan kata kunci sederhana dan mendasar, lakukan penelusuran dengan menggunakan suara misalnya dengan mengucapkan “Ok Google”.

Baca Juga: Cegah Peretasan, BSSN Minta Masyarakat Lakukan Ini

Selanjutnya, gunakan pilihan kata kunci yang singkat agar hasil pencarian bisa lebih spesifik, abaikan pengejaan seperti penggunaan huruf kapital karena tidak akan memengaruhi hasil pencarian, dan detailkan pencarian melalui fitur penelusuran lanjutan (Advanced Search) yang berlaku untuk situs web.

Selain itu, lanjut Ariandi, ada beberapa cara cepat melakukan pencarian melalui Google yang bisa dilakukan antara lain, yakni gunakan tanda petik (“…”) untuk mengunci frasa atau kalimat pencarian, gunakan tanda garis/dash (-) untuk mengecualikan kata tertentu.

Gunakan kata “site: (nama situs web)” untuk mendapatkan informasi secara spesifik dari situs yang diinginkan, tuliskan kata “filetype: (jenis file)” untuk mencari jenis dokumen tertentu, gunakan kata “define: (kata tertentu)” untuk mencari definisi kata tertentu.

Selanjutnya, tuliskan kata “link: (alamat link)” untuk mencari informasi dari situs yang terkait dan tuliskan kata “related: (nama situs web)” untuk mencari situs web yang serupa.

122