Home Lingkungan Sang Kapten, Menebar Seni Merawat Bahari untuk Negeri

Sang Kapten, Menebar Seni Merawat Bahari untuk Negeri

Padang, Gatra.com - Bagi kebanyakan orang, sampah ialah sesuatu yang menjijikkan. Selain berorama tak sedap, juga membawa bakteri yang berbahaya bagi kesehatan tubuh dan lingkungan.
 
Lain halnya dengan Kapten Moed, begitu dia biasa disapa. Sampah justru sumber penghasilan dan peluang untuk menyambung hidup. Salah satunya, dengan menyulap sampah menjadi produk-produk berharga, unik, dan bernilai seni tinggi.
 
"Ya, karya dari sampah ini saya bisa bertahan hidup di rantauan," kata pria bernama lengkap Khairul Mahmud di sela-sela memilah sampah di bibir Pantai Parkit, Kota Padang, pada Jumat (9/11) sore.
 
Seniman muda berusia 33 tahun ini, kelahiran Curup, Provinsi Bengkulu. Dia merantau ke Ranah Minang sejak duduk di bangku kuliah tahun 2008 silam. Kini dia tengah asyik dan menikmati profesinya sebagai seorang seniman instalasi.
 
Selaku seniman, setiap hari, terutama pagi dan sore hari dia selalu menyempatkan diri atau menghabiskan waktu mencari sampah bahan seni. Mengitari bibir Pantai Parkit hingga Pantai Gajah di Air Tawar, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. 
 
Sampah-sampah pantai sengaja dia kumpulkan, kemudian dijadikan beragam karya seni instalasi. Berbekal rongsokan, plastik, besi, dan lainnya dirakit menjadi robot, kapal, pesawat, suvenir gelang, kalung, dan sejumlah furnitur unik lainnya. 
 
"Material kayu dari pantai juga kita ambil, dan dimanfaatkan untuk berbagai furnitur, seperti kursi, meja, hiasan dinding, rumah kayu," jelas Kapten.  
 
 
Siapa sangka, selain bisa mengurangi sampah pantai, menjaga kebersihan dan merawat ekosistem laut, aktivitas alumnus Universitas Negeri Padang (UNP) ini juga berhasil menambah penghasilan. Karyanya dilirik hingga di kalangan pejabat.
 
Harga karyanya tak ecek-ecek, mulai dari Rp5 ribu, hingga Rp20 juta. "Berbagai kalangan yang membeli. Ada pengunjung dari berbagai daerah, hingga dibeli pejabat untuk pajangan," bebernya.
 
Salah seorang pejabat yang mengapresiasi karya Kapten Moed ini, yakni Gubernur Sumbar, Mahyeldi. Terlebih, karya yang dihasilkan tak hanya apik dan unik, tapi juga berbahan dasar sampah yang selama ini dibuang dan dianggap tak bernilai.
 
"Kreativitasnya luar biasa. unik. Apalagi dari bahan rongsokan. Jadi ini juga bernilai positif untuk menjaga kebersihan pantai, dengan menghasilkan produk kreatif bernilai jual," tuturnya usai membeli robot seni instalasi.
 
Pernyataan serupa juga diungkapkan, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sumbar, Gemala Ranti yang memboyong sebuah karya pajangan dinding dari sampah.
 
"Kita berharap, banyak generasi muda yang melakukan hal serupa. Mengolah sampah menjadi berharga, bukan justru membuang sampah, dan berakhir di muara yang mencemari laut," ungkapnya.
 
Seni Edukasi Lingkungan
Seni instalasi, mungkin masih terdengar asing bagi masyarakat umum. Tetapi tidak bagi Kapten Moed. Pasalnya, dia telah memulai aktivitas merakit, menyusun, dan menyatukan benda menjadi karya seni sejak 2015 silam.
 
Kemudian sempat vakum dua tahun, karena ingin fokus menyelesaikan studi sarjana Jurusan Seni Rupa di UNP yang telah dipilihnya. Apalagi, dia juga harus bekerja serabutan untuk bisa menyambung hidup sekaligus biaya kuliah.
 
"Kita sudah memulai seni instalasi ini sejak 2015 dengan teman-teman seni di kampus, namun sempat vakum dengan segala keterbatasan," cerita Kapten kepada Gatra.com di Padang.
 
Seorang seniman muda, Khairul Mahmud sedang mencari sampai di pantai untuk bahan seni instalasi, Kamis (8/12). (GATRA/Wahyu Saputra)
Seorang seniman muda, Khairul Mahmud sedang mencari sampai di pantai untuk bahan seni instalasi, Kamis (8/12). (GATRA/Wahyu Saputra)

Sejak menyandang titel sarjana tahun 2017, dia sempat melamar di sejumlah intansi. Keberuntungan belum berpihak padanya. Ijazah sarjananya terpaksa disimpan, karena tak mendapat tempat yang layak sebagai lulusan seni rupa.

Dalam keadaan ekonomi yang tak menentu, dan menganggur, seorang pengunjung yang sekaligus pecinta lingkungan datang ke Pantai Parkit Kota Padang di kawasan tempat tinggalnya. Kapten merasa tertampar dengan kata-kata pengunjung itu hingga ke hulu hati.
 
"Katanya anak seni, tapi menjaga lingkungan saja tidak mampu. Sampah berserakan di pantai. Kebersihan itu bagian dari seni," ucap Kapten menirukan ciloteh pengunjung yang menjumpainya 6 tahun silam.
 
Tamparan kata-kata pengunjung itu selalu terngiang dibenak Kapten. Sejak itu, dia mulai bangkit dengan ide baru untuk memanfaatkan sampah pantai menjadi karya seni instalasi. Meski tertatih-tatih, dia terus mengajak rekan-rekan membangun rumah seni ramah lingkungan.
 
 
Tak hanya mahasiswa, sejumlah volunter dari berbagai daerah juga bersedia ikut bergabung membangun rumah seni instalasi kawasan pantai di Parkit X, Kota Padang. Memanfaatkan sampah pantai, kayu, ranting, dan plastik yang direkat menjadi rumah seni yang unik.
 
"Ada dari Banten, Serang, Medan, Medan, Batam, Pekanbaru, bahkan dari Makassar. Mereka ada yang 3-6 bulan, paling lama ada yang bertahan 2 tahun," ujar Kapten mengenang kisahnya.
 
Awalnya, tak mudah bagi Kapten memulai kembali. Apalagi, dengan alat yang seadanya. Dengan penuh optimis bakal berhasil, dia mengulik sampah pantai siang-malam, meski harus rela menjual motor vespa kesayangannya.
 
Selain itu, ketika merintis rumah seni instalasi berbahan sampah pantai ini, Kapten bersama rekannya sempat menjadi pengamen jalanan demi bisa bertahan hidup. Betapa tidak, sebagai anak perantauan harus menghilangkan gengsi agar perut bisa terisi.
 
"Dua motor terjual, RX King dan Vespa, serta tools, alat seni lainnya untuk biaya hidup, kontrakan, sekaligus untuk makan teman-teman volunter," ujarnya.
 
Tak disangka, usahanya berhasil. Pantai yang semula semak belukar, dan penuh sampah, berubah menjadi bersih dan asri. Kayu-kayu bekas, ranting, disulap sangat apik menjadi sebuah gubuk instalasi, dan tongkrongan pecinta seni.
 
Pengunjung beragam kalangan silih berganti datang dari berbagai daerah. Terutama generasi muda, mahasiswa dan anak-anak sekolah sebagai taman belajar seni serta edukasi cinta pantai. Tak hanya dari dalam, tapi juga dari luar negeri.
 
"Sekitar 1 bulan 10 hari, rumah seni instalasi berhasil kita bangun. Kita bahkan kaget kedatangan puluhan siswa dari Eropa hanya untuk belajar nyeni. Mereka kita ajak membersih pantai, dan belajar seni dari bahan sampah yang mereka kumpulkan," jelasnya.
 
Kapten mengaku, keberhasilan bersama rekan-rekannya membangun wahana baru dunia seni ini, sempat ditawari sejumlah investor. Namun ditolaknya dengan baik, dengan alasan tak ingin mengubah keaslian pantai dengan beton dan dentuman musik modern.
 
Dia khawatir, selain kawasan Pantai Parkit bukanlah lahan pribadi, kedatangan investor besar bisa merusak keasrian pantai sekaligus bisa memutus ekonomi masyarakat setempat. Selain itu, dia tak ingin membatasi masyarakat menikmati pantai.
 
"Kalau masuk investor, bakal tak bebas masuk pantai. Padahal, rumah seni instalasi ini wahana edukasi yang terbuka untuk dinikmati semua orang," ungkapnya.
 
Sebuah miniatur kapal unik yang terbuat dari sampah-sampah di kawasan Pantai Parkit Padang. (GATRA/Dok.KaptenMoed)
Sebuah miniatur kapal unik yang terbuat dari sampah-sampah di kawasan Pantai Parkit Padang. (GATRA/Dok.KaptenMoed)

Berkah wahana seni instalasi yang dikelola Kapten Moed ini, dirasakan banyak pihak dan masyarakat sekitar Pantai Parkit. Mulai dari penjual makanan siap saji, seperti gorengan, hingga beragam minuman kaleng, mineral, hingga kopi.

Salah satunya, dirasakan Yurni (62) yang mampu menguliahkan anaknya hingga tamat hanya berjualan makanan siap saji, dan minuman ringan di kawasan Pantai Parkit Padang. Apalagi, sejak adanya rumah seni instalasi di kawasan itu jadi tambah aman.
 
"Setiap hari pengunjung ramai, minimal dia berbelanja sebotol mineral. Ekonomi jadi membaik dari sebelumnya, bisa nguliahin anak hingga tamat," ucap perempuan akrab dipanggil Biye ini.
 
 
Namun sayang, ucap Biye lirih, anak lelaki semata wayangnya lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB) UNP tahun 2015 lalu tak berumur panjang, dan telah berpulang setahun silam. Kendati begitu, kini dia telah ikhlas dan bersyukur putranya terlibat di kawasan cinta lingkungan.
 
Selain itu, kehadiran rumah seni edukasi lingkungan ini, Biye bahkan mampu mengasuh seorang bocah perempuan menjadi anak angkat. Sekaligus bisa mengenalkan anak angkatnya ke dunia seni, budaya, dan peduli lingkungan sejak dini.
 
"Dia anak kakak saya, jadi anak angkat saya, tinggal sama saya. Mengenal simbol-simbol budaya Minang langsung, punya teman bermain, karena banyak anak sekolah berkunjung kmelihat aktivitas Kapten," jelas perempuan yang sejak 1993 bermukim di Kota Padang itu.
 
Tak Henti Merawat Bahari
Kendati bukan warga asli Kota Padang, Kapten Moed sangat bangga dan senang bisa berkiprah menyintai lingkungan pantai. Apalagi, pantai juga menjadi tujuan destinasi wisata ketika orang berkunjung ke Kota Bengkoang ini.
 
Hanya saja, kawasan Pantai Parkit daerah kontrakannya belum terjamah dan dikelola dengan baik sebagai tujuan wisata. Padahal, Pantai Parkit ini landai namun dengan ombak yang cukup baik untuk tempat surfing.
 
"Sayang sekali, padahal ombaknya cukup besar. Karena belum dijadikan tempat wisata, makanya sepanjang Pantai Parkit hingga Pantai Gajah kini kurang terawat," keluhnya.
 
Sejak setahun yang lalu, rumah seni instalasi dan wahana edukasi lingkungan yang dibangunnya susah-payah di Pantai Parkit dibakar habis masyarakat setempat hingga tak bersisa. Masalahnya sepele, karena saling klaim lahan.
 
Terlepas dari itu, Kapten tak pernah menyerah berbuat. Kini telah membangun wahana baru di kawasan Kampung Teluk Buo, Kecamatan Bungus, Kota Padang. Dia membangun wahana edukasi seni baru, dan program cinta lingkungan kepada masyarakat setempat.
 
Para nelayan di Kota Padang sedang maelo pukek secara bergotong-royong usai melaut. (GATRA/Wahyu Saputra)
Para nelayan di Kota Padang sedang maelo pukek secara bergotong-royong usai melaut. (GATRA/Wahyu Saputra)

Tekad Kapten bukan sekadar hobi untuk menyalurkan darah seninya. Namun sekaligus juga wujud kepedulian terhadap generasi muda yang peduli lingkungan, cinta laut, dan mengurangi sampah di kawasan pantai.

"Tempatnya di Teluk Buo. Kita bahkan membangun pustaka mini. Mengajar anak menulis, membaca, melukis, membuat kerajinan tangan dari sampah pantai, serta menanam pohon," kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Teluk Buo itu.
 
Program yang dikonsepkan dengan sejumlah rekannya ini, diterima penuh oleh masyarakat setempat. Terlebih lagi, di Kampung Teluk Buo ini banyak anak-anak yang terpaksa putus sekolah karena persoalan ekonomi.
 
Adapun sasarannya, lanjut Kapten, program yang ditawarkan tak hanya mendidik generasi muda Teluk Buo soal baca-tulis. Lebih dari itu, dia ingin menanamkan mindset positif agar generasi muda setempat lebih peka dan peduli lingkungan, serta cinta laut.
 
"Makanya kita ajarkan anak-anak, bukan sekadar teori, tapi juga ajak praktik menanam pohon, membersihkan pantai langsung. Karena beberapa tahun ke depan, merekalah leader-leader yang membangun kampungnya, menjaga laut, menjaga pantai," jelas Kapten.
 
Selain itu, langkah itu dilakukan Kapten untuk menghindari anak-anak yang putus sekolah tidak berperilaku negatif dan menyimpang. Apalagi, di era generasi Z ini banyak wahana teknologi yang bisa saja membuat anak-anak tak mengenal kehidupan nyata.
 
"Setidaknya, anak-anak mencintai lingkungannya, saling berkomunikasi. Tak terpaku gamers, ngelem, atau menjadi pecandu obat haram narkoba," pungkasnya.
 
Langkah Kapten ini, kini mulai menampakkan hasil. Salah satunya, Ardian Firmansyah (16) warga Teluk Buo, Bungus. Awalnya, dia termasuk candu gamers, dan sejak kedua orang tuanya berpisah terpaksa putus sekolah hingga kelas 2 SMP.
 
"Awalnya saya tak suka melukis, tapi setelah diajak sama Abang Kapten, makin tertarik. Sudah bisa melukis di atas kanvas, bikin kerajinan dari sampah-sampah pantai," ungkapnya.
 
Tak hanya itu, anak ketiga dari empat bersaudara yang kini tinggal bersama Kapten ini juga tambah peka terhadap lingkungan. Kendati putus sekolah, dia bercita-cita bisa memiliki galeri seni tersendiri untuk bisa membantu ekonomi keluarganya.
 
Komitmen Bersama
Pengelolaan sampah sudah menjadi persoalan bersama sejak lama. Terutama sampah rumah tangga dari masyarakat bagian hulu, yang bermuara ke laut dan mengotori pantai di musim hujan.
 
Khairul Mahmud yang senang disapa Kapten Moed, telah coba berkomitmen mensiasati pengurangan sampah pantai. Langkahnya, tak hanya ikut menjaga ekosistem laut, tapi juga membangkitkan ekonomi baru bagi masyarakat di kawasan pantai.
 
Atas upayanya ini, Kapten disemat penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam oleh Pemko Padang tahun 2018 lalu. Beragam penghargaan lain juga pernah dia raih dari Dinas Kebudayaan Sumbar, dan motor yang dulu pernah terjual kini terganti motor baru.
 
"Kalau bantuan pendanaan dari pihak pemerintah, memang belum ada. Tapi setidaknya sekarang saya sudah punya jejaring yang lumayan," katanya saat ditemui di kamar ukuran 4x4, di Jalan Parkit X Nomor 12, yang ditempatinya.
 
Seorang kakek tersenyum saat mendapati seekor ikan dengan pancing di kawasan Teluk Buo Padang. (GATRA/Dok.KopiBatigo)
Seorang kakek tersenyum saat mendapati seekor ikan dengan pancing di kawasan Teluk Buo Padang. (GATRA/Dok.KopiBatigo)

Sebaliknya, upaya mengurai masalah sampah di kawasan pantai ini telah dilakukan sejak lama oleh Pemko Padang. Pada tahun 2018 lalu, BUMN, BUMD, dan Forkopimda terkait juga dilibatkan untuk menangani sampah ini.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Bidang Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Kota Padang, Diko Eka Putra saat dihubungi. Dia tak menampik, sampah sering mengotori kawasan Pantai Padang di musim hujan karena terbawa arus sungai.
 
"Ya, kadang miris melihatnya. Sampah-sampah itu datangnya dari hulu. Kita dari Dinas Pariwisata hanya bisa menangani bagian hilir. Jika ada, kita langsung bersihkan," sebutnya kepada Gatra.com, pada Sabtu (10/12).
 
Kendati jumlah sampai sekali musim hujan bisa 20 ton lebih, namun dia mengaku jumlah sampah di kawasan Pantai Padang terus berkurang disbanding tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, Pemko Padang juga telah menginstruksikan masyarakat tak membuang sampai ke bibir sungai.
 
Pernyataan serupa juga pernah diucapkan Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy, bukan hanya mengajak komunitas peduli lingkungan membersihkan sampah, tapi juga mengimbau agar tak membuang sampah ke sungai, atau bibir pantai.
 
"Melalui Dinas Kelautan dan Perikanan untuk membentuk komunitas cinta laut, bukan hanya membersihkan pantai, tapi ikut mengedukasi dan membangkit kesadaran masyarakat," tuturnya.
 
Pernyataan itu, sejalan program Bahari dengan Gerakan Nasional Bulan Cinta Laut (BCL) yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang kick off pada 26 Oktober 2022 lalu secara serentak di 13 pesisir pantai se-Indonesia.
 
Gerakan BCL ini, sebagai upaya untuk membangun kesadaran dalam mewujudkan laut yang bebas sampah, yang merupakan bagian implementasi ekonomi biru dengan lima strategi hingga 25 tahun ke depan.
 
"Jadi kita menggerakkan semua pihak terkait, baik Pemda, perguruan tinggi, nelayan, mahasiswa, masyarakat, komunitas cinta laut, penggiat sampah untuk terlibat," terang Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Victor Gustaaf Manoppo di hadapan 380 relawan di Padang, pada 21 Agustus 2022 lalu.
 
Bukan kaleng-kaleng, gerakan BCL untuk digaungkan ke seluruh penjuru nusantara. Tujuannya agar laut bebas sampah demi terjaganya sumber daya alam di dalamnya untuk generasi masa depan. Bila laut sehat, ikan melimpah, wisata menggeliat, dan tentu ekonomi masyarakat bisa meningkat. 
227