Home Teknologi Mandiri Menjaga Nyala Desa dengan Kotoran Sapi

Mandiri Menjaga Nyala Desa dengan Kotoran Sapi

Boyolali, Gatra.com - Sebuah desa memanfaatkan kotoran sapi sebagai sumber energi. Bukan hanya untuk memasak, biogas juga digunakan sebagai sumber listrik untuk penerangan jalan. Warga dilatih untuk mengelola secara mandiri.

Padukuhan di kaki Gunung Merapi itu bersih dan rapi. Rumah-rumah berderet di sisi kiri dan kanan dibelah jalan kampung yang menanjak dan tak menyisakan sepotong sampah. Itulah kesan saat memasuki RT 3 Padukuhan Dangean, Desa Gedangan, Kelurahan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah di lereng timur Gunung Merapi.

Di tepi jalan kampung itu berdiri tiang-tiang lampu jalan sederhana. Mendekati senja yang lebih gelap dari biasanya karena mendung tebal, di medio November lalu, lampu-lampu kecil itu satu per satu menyala.

Uniknya, 17 lampu berdaya 12 watt di sepanjang jalan itu bersinar bukan karena aliran listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN), melainkan dari energi baru terbarukan (EBT) seebagai sumber energi alternatif. Menariknya, energi ini bersumber dari sesuatu yang selama ini kita anggap menjijikkan, yakni kotoran sapi.

Ya, inilah listrik yang bersumber dari biogas kotoran sapi yang menjadi hewan ternak mayoritas warga Desa Gedangan. Kotoran dari delapan sapi milik Supomo (40), Ketua Desa Energi Mandiri (DME), yang membuat lampu-lampu itu menerangi jalan kampung.

“Waktu itu berpikirnya cuma untuk mengolah limbahnya. Dengan biogas, lantai kandang selalu bersih. Tapi ternyata bisa untuk masak dan sekarang untuk penerangan desa. Lumayan, mengurangi pengeluaran kampung untuk biaya listrik PLN,” ujar Supomo

Ia bercerita, di desa ini sedikitnya terdapat 30 titik biogas yang aktif. Prosesnya sebenarnya tak rumit. Sembari membersihkan kandang secara rutin di pagi dan sore hari, kotoran sapi dimasukkan ke digester di salah satu sudut kandang. “Tahi sapi ini dicampur air dengan komposisi 1:1, lalu dialirkan ke pipa instalasi,” papar dia.

Seperti kebanyakan jaringan biogas lain, biogas di rumah Supomo juga terhubung dengan kompor gas. Wuzzz! Api biru menyala dari kompor biogas ini saat dinyalakan Supomo untuk memasak.

Namun yang membedakan dari biogas lain, jaringan pipa di peranti ini juga terhubung ke genset dan baterai yang menyimpan listrik dari biogas. “Output listrik dari genset mencapai 4500 watt, daya baterainya 4000 watt,” ungkapnya.

Dari sinilah, lampu penerangan jalan tadi mendapat energi. “Biogas banyak di Kecamatan Cepogo, tapi untuk masak. Penggunaannya untuk listrik baru di Gedangan ini, khususnya Dangean. Biogas ini menggantikan bensin untuk menyalakan genset dan men-charge baterai,” tutur Supomo.

Bukan hanya itu, ampas dari kotoran yang telah diserap energinya disalurkan ke sebuah outlet di luar kandang untuk dimanfaatkan sebagai pupuk. “Pupuk dari sisa biogas dapat langsung dipakai,” ujarnya.

Pemanfaatan biogas yang komplet ini mengantarkan prestasi bagi Dea Gedangan. Di saung kecil di dekat instalasi biogas di belakang rumah Supomo tergantung piagam yang menunjukkan prestasi itu, yakni juara 3 di ajang Desa Mandiri Energi (DME) Provinsi Jawa Tengah 2021.

“Ini memotivasi kami untuk terus mengembangkan inisiatif warga dalam memanfaatkan biogas secara lebih luas,” katanya.

Pemanfaatan biogas untuk listrik jalan itu memang hasil swadaya warga, kendati pemanfaatan biogas di Gedangan dengan dukungan pemerintah telah berlangsung lama.

Pada kurun 1970-1980, program biogas dirintis pemerintah melalui program Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP). Lembaga ini punya koperasi di Cepogo di bidang simpan pinjam untuk meminjamkan ternak dan uang ke peternak sapi perah. “Program biogas jadi salah satu bagian dari kegiatan koperasi,” ujar Supomo.

Selain untuk kompor masak, biogas telah coba dimanfaatkan juga untuk penerangan. Namun bukan berupa lampu listrik seperti sekarang, tetapi penerangan berupa petromaks yang banyak dijumpai di desa-desa kala itu.

Pengembangan biogas di fase awal ini terkendala etos peternak dalam memelihara alat. Kala itu, alat biogas rawan bocor. Jika ada kerusakan pada perangkat biogas, peternak yang aktif akan memperbaiki sendiri. “Tapi kebanyakan petani, kalau bocor tidak diurusi,” kata dia.

Selain itu, menurut Supomo, program biogas di masa Orde Baru itu terhenti juga karena manajemen koperasi pengelola. Saat ini, dari 10 alat bantuan LPTP, tinggal 6 perangkat biogas yang masih dimanfaatkan warga.

Sempat surut, sejak 1990 program biogas terus bergulir hingga kini. Bentuknya berupa bantuan alat kompor gas dari pihak desa, pemkab, dan pemprov. Kompor gas ukuran 8 kubik kompor dapat menyala pagi hingga jelang sore.

Adapun kapasitas 6 kubik setidaknya dapat menyala selama 4 jam tanpa putus. Kompor gas bantuan Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) berkapasitas 20 kubik biogas yang dapat digunakan untuk 6 rumah. “Suplai kotoran dari satu ternak bisa. Standarnya untuk 4 kubik biogas minimal dari dua sapi. Kalau untuk masak saja cukup,” kata dia.

Menurutnya, penggunaan biogas mengurangi pengeluaran rumah tangga. “Kalau pakai biogas sudah tidak berpikir harga elpiji,” tuturnya.

Jika ditotal, sejak program LPTP pada 1970-an, telah terbangun 67 titik biogas di Gedangan. Namun dari jumlah tersebut, tinggal 30-an alat yang aktif. “Banyak yang mati dan tidak digunakan karena bocor, malas merawat, karena butuh ketelatenan,” ujarnya.

Padahal di Desa Gedangan ada sekitar 500 KK dengan 95 persennya peternak dan punya sapi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020, di desa itu terdapat 1.507 sapi perah. Untuk itu, Supomo yakin, biogas bisa diterapkan di seluruh desa dan energi itu tidak akan habis selama ternak masih ada.

Apalagi kemudian energi biogas itu dikembangkan untuk energi listrik. “Setidaknya kami mengurangi beban ke PLN,” kata dia.

Melihat potensi biogas masih besar, tapi tak tersentuh perhatian, pada 2009, Supomo dan sejumlah peternak mendirikan kelompok tani dan peternak Tani Makmur. Pada 2014, Supomo membuat biogas secara swadaya. Pembuatan biogas itu mendapat dukungan dari sebuah lembaga yang untuk pembelian alat biogas di Dangean.

Padukuhan Dangean kemudian bahkan dilirik sebagai lokasi pengabdian masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma). Unimma semula mengembangkan energi biogas sebagai tenaga untuk memompa air guna minum ternak dan menyiram kandang, selain suplai listrik di tiga rumah warga.

Namun, karena kapasitas baterai di alat itu tidak besar, listrik kemudian diperuntukan bagi penerangan jalan. Warga pun bergotong royong menyiapkan jaringan listrik terpisah. Sejumlah tantangan pun dihadapi warga dalam pemanfaatan biogas listrik, terutama harga alat dan pemeliharaannya.

Kepala Desa Gedangan, Waljuni, pihak desa telah menyiapkan Gedangan sebagai desa mandiri, terutama dengan memanfaatkan biogas. “Setiap tahun, secara bertahap, akan kita tambah terus titiknya,” kata dia saat ditemui.

Namun pandemi Covid-19 sempat mempengaruhi penganggaran desa, termasuk di bidang energi. “Ke depan, kita upayakan pengembangan biogas melalui dana desa,” ucapnya.

Secara terpisah, Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Eni Lestari, mengapresiasi langkah Desa Gedangan. Ia meyebut inovasi dan kemandirian dari akar rumput ini amat diperlukan dalam mengembangkan EBT.

“Inisiatif dari bawah seperti ini harus didorong. Di Jawa Tengah, kami terus memperbanyak desa mandiri energi,” ujar Eni saat ditemui di kantornya di Semarang.

Pengajar Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma), Andi Widiyanto, menyatakan Desa Gedangan punya potensi besar dalam pengembangan EBT biogas. “Dari pengalaman kami sebelumnya di desa lain yang mengelola biogas, gas dari biogas di sana juga stabil,” tutur Andi saat dihubungi.

Untuk itu, biogas di Gedangan dapat dikembangkan bukan hanya sekadar untuk memasak, melainkan juga untuk sumber energi lain, terutama listrik. “Tantangannya saat ini ada pada penggunaan alat yang tepat dan pemeliharaannya,” katanya.

Agar pengembangan EBT di Gedangan optimal, masyarakat harus berperan aktif. Pihaknya juga telah menggelar pelatihan perawatan pembangkit listrik tenaga (PLT) biogas.

Pelatihan khususnya diberikan pada pemuda dan anggota karang taruna yang memiliki latar belakang pendidikan sekolah menengah kejuruan teknik mesin dan teknik listrik. “Ini untuk memastikan keberlanjutan PLT Biogas, serta bagaimana memperbaiki apabila ada kerusakan,” kata dia.

Supomo dan warga Gedangan pun menyatakan siap menjaga PLT Biogas ini. Mereka percaya pengembangan potensi EBT biogas di desanya masih besar. Warga dan pemuda setempat bahkan telah belajar dan bergotong royong untuk memelihara peralatan suplai listrik berbasis biogas tersebut.

“Kami harap ada inovasi dan perhatian berbagai pihak. Kita bisa kolaborasi dengan pemerintah dan swasta semata-mata agar listrik dari kotoran ini bisa tetap menyala,” ucap Supomo, yakin.

238