Home Gaya Hidup Racikan Teh Oza Sudewo yang Merespons Karya Sunaryo

Racikan Teh Oza Sudewo yang Merespons Karya Sunaryo

Bandung, Gatra.com - Karya seni instalasi berskala ruang dari seniman kontemporer Indonesia Sunaryo, Wot Batu, direspons oleh Indonesian tea blend specialist, Oza Sudewo, dalam bentuk racikan teh. Wot Batu merupakan karya seni yang diciptakan Sunaryo sebagai “jembatan spiritual”, menghubungkan jiwa manusia dengan wujud ragawi kehidupan dan menghubungkan empat elemen yang ada di alam.

Bagi Oza, Wot Batu sarat akan makna spiritual, menggambarkan perjalanan hidup manusia modern dan dualisme kehidupan; fana dan baka, material dan spiritual, purba dan modern, hingga makrokosmos dan mikrokosmos. Filosofi tersebut dihadirkan dalam tiga varian teh yang merespon suatu karya seni, diracik khusus untuk mewakili tiga tahap perjalanan hidup manusia; awal, tengah, dan akhir - yang juga terinspirasi dari konsep Tri Tangtu dalam falsafah Sunda.

“Hadirnya varian teh yang disiapkan secara khusus ini menawarkan pengalaman menikmati karya seni yang sangat istimewa. Racikan-racikan ini bukan saja terinspirasi oleh mahakarya Sunaryo ini, melainkan juga mengajak pencicipnya untuk menikmati suatu karya seni melalui rasa dan aroma,” kata Oza dalam keterangan yang diterima, Selasa (24/1).

Oza Sudewo (kiri) dan Sunaryo (kanan) pada Ngeteh Sore di Wot Batu (Dok. Oza Tea)
Oza Sudewo (kiri) dan Sunaryo (kanan) pada Ngeteh Sore di Wot Batu (Dok. Oza Tea)

Racikan teh buatan Oza dibuat dalam tiga varian. Varian pertama dinamakan Ambu, berarti “ibu” dalam bahasa Sunda, yang menjadi simbol awal perjalanan manusia dalam kehidupan. Racikan ini terinspirasi dari instalasi Batu Indung di Wot Batu, yang berbentuk patung pohon jambu.

Baca Juga: Ini Rekomendasi Hidangan Khas Indonesia yang Wajib Dicicipi!

Racikan Ambu berbahan jambu, apel, rosella, dan serai, sehingga menghadirkan nuansa yang segar sekaligus menenangkan. Warnanya merah terang, layaknya aksen yang khas pada karya-karya Sunaryo.

Varian kedua bernama Indriya, atau “indra”. Indra merupakan alat yang digunakan manusia memproses kehidupan di dunia, baik dalam menyerap lingkungannya maupun mengekspresikan dirinya.

Teh Indriya memiliki satu bahan khusus yaitu kemangi, sebagai perlambang budaya Sunda yang menciptakan dimensi rasa dan aroma yang lebih kompleks. Dimensi rasa dan aroma ini diharapkan bisa memicu sensori pengunjung Wot Batu. racikan ini pun menggambarkan bagaimana budaya Sunda mempengaruhi sosok seorang Sunaryo.

Varian terakhir adalah Suwung, yang bermakna kehampaan yang sehadir-hadirnya. Terinspirasi dari makna spiritual dalam Wot Batu, teh Suwung sarat dengan bahan-bahan yang mencerminkan dualisme kelahiran dan kematian.

Teh hijau dan kurma di dalamnya menggambarkan kehidupan, pandan dan serai hadir sebagai perlambang kematian, serta getah pohon kamper mewakili kehidupan setelah kematian. Pertemuan kelahiran dan kematian, yang saling meniadakan, menghadirkan kehampaan atau “suwung”.

Baca Juga: Awal 2023, Jenama Ini Usung Produk Fesyen Dengan Konsep Bersenang-senang

Sebagai pemilik Oza Tea, salah satu pionir specialty tea blending di Indonesia, yang juga berlatar belakang Certified Tea Blender, Oza telah lama berkecimpung di dunia teh, baik di dalam dan luar negeri. Ia secara aktif terlibat sebagai juri Tea Master Cup, sebuah kompetisi teh berskala internasional yang memperkenalkan ragam daun teh sekaligus menemukan master teh terampil yang mampu mengolah jenis teh untuk menghasilkan teh terbaik yang siap dikonsumsi.

Mempertimbangkan pengalaman panjang dan sertifikasi Oza sebagai peracik teh, Wot Batu menggandengnya untuk menjadi mitra dalam meracik varian khusus yang dapat menangkap karakter dari karya Sunaryo. Ketiga varian teh kolaborasi Wot Batu dan OZA Sudewo ini hanya dapat dinikmati ketika berkunjung ke Wot Batu.

“Perjalanan manusia sejak lahir, hidup hingga akhir hayat, kami tampilkan dalam tiga varian: Ambu, Indriya, dan Suwung, keseluruhan racikan yang merespon karya Sunaryo hanya tersedia secara khusus di Wot Batu,” kata Oza.

94

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR