Home Politik Soal Johnny Plate di Kasus Korupsi BTS, Para Syndicate: Tukar Guling Amankan Pencapresan Anies

Soal Johnny Plate di Kasus Korupsi BTS, Para Syndicate: Tukar Guling Amankan Pencapresan Anies

Jakarta, Gatra.com - Terseretnya nama Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny Gerard Plate dalam dugaan kasus korupsi proyek BTS di Kominfo mengindikasi potensi "tukar guling" untuk pengamanan pencapresan Anies Baswedan oleh Partai NasDem. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Para Syndicate, Ari Nurcahyo.

Menurut Ari, pada Oktober 2022 lalu posisi Anies yang hampir terseret dugaan korupsi Formula E, terselamatkan dengan pencapresan namanya oleh Partai NasDem. Saat itu Anies seakan mendapat perlindungan politik dari partai pengusungnya. Kini, giliran Sekretaris Jenderal NasDem yang harus berada dalam pengusutan kasus korupsi.

"Jadi Aniesnya aman, tapi Johnny G Plate ini agak ngeri-ngeri sedap posisinya. Kalau Johnny G Plate sampai 'dikandangkan', itu jadi 'tukar guling' kasus korupsi untuk mengamankan pencapresan Anies," ujar Ari dalam diskusi publik, dikutip secara virtual, Sabtu (11/2).

Baca juga: Kejagung: Menteri Johnny Plate akan Diperiksa untuk Semua Tersangka BTS 4G

NasDem yang berjalan dua kaki ini juga mendapat ancaman reshuffle menterinya pasca-pencapresan Anies Baswedan dan pembentukan Koalisi Perubahan. Ari menyebut kasus korupsi BTS bisa menjadi celah Jokowi untuk merealisasikan rencana reshuffle kabinet yang sebelumnya gagal dilakukan pada Rabu Pon 1 Februari 2023 lalu.

"Seandainya ini proses hukum (kasus BTS) terhadap Menkominfo terus bergulir dan memang enggak ada pilihan secara hukum dan jadi tersangka, tentu presiden secara tidak langsung dikondisikan untuk reshuffle," ucap Ari.

Adapun Para Syndicate memprediksi reshuffle kabinet terakhir akan dilakukan Jokowi pada bulan puasa yaitu di Maret-April 2023, atau sebelum lebaran Idulfitri.

"Karena kalau sudah lebaran kita kan silaturahmi lagi maaf-maafan supaya reshufflenya berjalan dengan damai," kata Ari.

Ari menilai, kejengkelan Jokowi terhadap NasDem dan Surya Paloh bukan hanya didasarkan pada pencapresan Anies Baswedan. Namun, lebih kepada ulah NasDem yang menarasikan sosok pemimpin selanjutnya antitesa Jokowi dan membentuk Koalisi Perubahan.

Baca juga: Pertemuan Golkar dan Nasdem, SP Ajak Golkar Dukung Anies Baswedan?

Padahal, Jokowi berharap agar penerusnya adalah sosok yang bisa melanjutkan capaian pembangunan di eranya. Alih-alih antitesa dari dirinya.

"Narasi politik (NasDem) yang kontradiktif dengan harapan Jokowi ke depan. Itu yang membuat dia tidak happy dengan pencapresan Anies," ujarnya.

Untuk itu, demi menjaga tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah, kata Ari menjadi agenda utama yang dikejar Jokowi. Dengan kepuasan publik yang terjaga tinggi membuat Jokowi nantinya "soft landing" saat melepas kepemimpinannya di 2024.

"Tetapi sebaliknya, jika kepuasan publik ke Jokowi melemah, maka harapan publik yang akan menguat adalah antitesa dari Jokowi," imbuh Ari.

971