Home Gaya Hidup Menikmati Kerisi Bakar Ala Belitung Timur

Menikmati Kerisi Bakar Ala Belitung Timur

Belitung Timur, Gatra.com - Mendung tebal menyelimuti bandara di pinggiran kota Tanjung Pandan, Belitung, saat pesawat yang saya tumpangi mendarat di landasarn Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin, Belitung. Awalnya gerimis rintik rintik, namun eskalasi hujannya bertambah deras. "Ini baru hujan sekali ini lho mas, sudah lama tidak hujan cukup lama,'" kata sopir taksi yang mau mengantar ke sebuah penginapan di kawasan Manggar, Belitung Timur, Senin, 9 Oktober lalu.

Jarak Tanjung Pandan dan Manggar kurang lebih 40 kilometer, ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam. Meski ada beberapa ruas jalan yang sedang diperbaiki, aspal jalanan di wilayah yang aku lewati cukup bagus.

Hampir tak dijumpai lubang di sepanjang jalan, halus, padat, dan terlihat berkualitas. Rasanya, jauh lebih bagus dari jalanan yang ada di sekitar pulau Jawa khususnya Jabodetabek. 

Sampai di penginapan, seorang perempuan paruh baya berada di meja resepsionis, berkerudung kuning, berlogat Jawa saat bicara, gaya 'medok' nya masih cukup kental meski berbahasa Indonesia, menyapa akrab kedatanganku.sempat beberapa informasi belitung timur, aku dari nya termasuk lokasi wisata sekitar.

Lain halnya dengan Widya (36) warga Gantong, sudah lama kami janjian via whatsapp untuk bertemu di Manggar, sebagai Ibu kotanya kabupaten Belitung Timur (Beltim). Dengan ramah dan detail, Widya menceritakan mana saja yang wajib harus aku kunjungi selama di Beltim, termasuk tempat kuliner legendaris yang harus di cicipi.

Manggar terkenal dengan kota 1001 kopi, di sepanjang jalan berjejer warung kopi saling bersebelahan dan setiap warung pasti ada pelanggannya masing-masing. "Malam ini kita ngopi, besok siang kita ke panta, mencicip ikan kerisi ya," ajak Widya, yang juga aktif di kegiatan kemasyarakatan desa.

Karena penasaran dengan ikan kerisi yang di maksud, setelah melewati malam yang panjang, tibalah hari berikutnya bersiap menuju berbagai destinasi yang sudah masuk dalam daftar yang akan dikunjungi.

Salah satunya, Pantai Burong Mandi. Lokasinya sekitar 5 kilometer tak jauh dari penginapan, pantainya lumayan asri, banyak pohon rindang dan perahu nelayan bersandar.  Banyak pula warung-warung warga, berada di seberang jalan menghadap arah pantai.

Segelas es kelapa muda, sejak beberapa awal menit tiba, sudah berada di genggamanku. Sambil menikmati pemandangan sekitar, juga menanti menu ikan kerisi bakar yang di janjikan widya semalam.

Tak lama kemudian semua menu yang dipesan datang, diusung dari seberang ke dekat bibir pantai, dibawah gazebo tua tempat kami berkumpul. "Ini lho ikan kerisi, andalan kuliner juga kalau main ke Beltim! " ujar Widya.

Menurut Widya, ikan kerisi ini hanya ada di sekitaran Belitung. "Hanya saja mungkin ikannya sama dengan ikan tempat lain tapi namanya berbeda", tambahnya sambil tertawa.

Dari penampakannya, ikan terisi seperti ikan kembung, ukuranya hampir mirip. Namun setelah dicicipi dagingnya jauh lebih enak, durinya kebanyakan menyatu dalam satu susunan tulang, sehingga memudahkan untuk dipilah dan disantap. Hanya saja kulitnya serasa terlalu tebal. Hampir semua ikan terisi yang kucicipi, tak bisa kunikmati kulitnya. Bak makan ayam goreng krispi yang mudah dipisahkan antara kulit dan dagingnya.

Tak terasa, saya sudah menghabiskan beberapa ekor ikan kerisi. Hampir seluruh bagian tubuh ludes termakan, apalagi di dibumbui dengan racikan 2 jenis sambal sekaligus, yakni sambal kecap dan sambel mentah. Mmmmm, nikmatnya tak tergantikan. 

103