Home Gaya Hidup Kisah Hainuwele dalam Pameran Tunggal Kei Imazu

Kisah Hainuwele dalam Pameran Tunggal Kei Imazu

Jakarta, Gatra.com - ROH Project menggelar pameran “Unearth”, sebuah pameran tunggal dari seniman Kei Imazu. Pameran ini merupakan pameran kedua seniman asal Jepang yang kini menetap di Bandung tersebut bersama Galeri ROH. Pameran dibuka untuk umum dari 15 November 2023 hingga 14 Januari 2024.

Secara tematik, pameran “Unearth” mengambil garis merah kisah Hainuwele. Ini adalah cerita rakyat dari Kepulauan Banda yang berkisah tentang wanita yang konon memiliki kekuatan untuk menghasilkan perhiasan dan benda-benda berharga asing melalui kotorannya.

Carlos Quijon, Jr., seorang sejarawan, kritik, dan kurator seni berbasis di Manila, Filipina menuliskan dalam esainya bahwa masyarakat yang awalnya merasa diuntungkan dengan kekuatan ini, perlahan merasa resah dengan kisah mistiknya. Takut pada kekuatan misterius ini, mereka mengubur Hainuwele hidup-hidup dan menginjak-injak tanahnya hingga padat.

Karya Heart (Red Shade) Kei Imazu (Gatra/Hidayat Adhiningrat P)
Karya Heart (Red Shade) Kei Imazu (Gatra/Hidayat Adhiningrat P)

Kemudian Ameta, sosok ibu bagi Hainuwele, menemukan jasad Hainuwele melalui bantuan seorang peramal. Ameta menggali jenazahnya, memotong, dan menanam potongan-potongan ke seluruh penjuru pulau. Potongan jasad Hainuwele kemudian tumbuh menjadi umbi-umbian yang menghidupi Kepulauan Banda.

Imazu menerjemahkan kisah Hainuwele melalui beragam karya seni rupa yang memenuhi ruang pameran. Di sini ada karya patung, instalasi, hingga lukisan yang secara langsung menggambarkan kisah tersebut maupun pemaknaan atas kisah yang ada dalam sudut pandang si seniman.

Baca Juga: Pameran Lusiana Limono: Mengartikulasikan Peran Perempuan Melalui Kain

“Lapis demi lapis, Imazu membangun lanskap dimana mitos dan sejarah menyatu dan menjadi sebuah metode yang merangkai karya dan material yang beragam, sesuai dengan kisah yang diangkatnya,” kata Carlos Quijon dalam esainya.

Di ruang Galeri Apple, Imazu memajang sebuah karya instalasi yang merupakan gabungan dari beberapa karya. Instalasi ini sekilas terlihat seperti pagar rumah dengan figur seorang wanita yang memegang potongan tangan. Di pagar tersebut tumbuh dedaunan dan dibaliknya terlihat transformasi sosok manusia yang menjadi binatang.

Karya instalasi Kei Imazu tentang Ameta (Gatra/Hidayat Adhiningrat P)
Karya instalasi Kei Imazu tentang Ameta (Gatra/Hidayat Adhiningrat P)

Dalam kisah Hainuwele dikatakan bahwa Ameta setelah menemukan potongan-potongan jasad anaknya kemudian menantang orang-orang untuk melewatinya. Jika orang tersebut memiliki itikad jahat dia akan berubah menjadi binatang, jika tidak ia akan tetap menjadi manusia.

Gambaran dari kisah inilah yang diperlihatkan dalam instalasi tersebut. Di depannya ada patung berbentuk jantung (Heart (Blue Shade) - 2023) yang berisi tanah dan di atasnya tumbuh tanaman. “Semua organ tubuh Haniuwele menjadi umbi-umbian yang bisa menjadi makanan bagi masyarakat,” kata Kei Imazu.

Organ-organ tubuh Haniuwele yang ditumbuhi tanaman tersebar di banyak ruang pameran ROH Galeri. Patung-patung dalam beragam warna berbentuk kaki, jantung, paru-paru, usus yang kesemuanya ditumbuhi tanaman di atasnya.

Baca Juga: Continuum: Pameran Seni dengan Gagasan Keberlanjutan

Pada bagian belakang ruang pameran (galeri orange) ada satu lukisan besar (Hainuwele - 2023). Lukisan tersebut merupakan lukisan terbesar yang pernah dibuat oleh Kei Imazu. Lukisan ini mengandung gambaran anggota badan, tulang, dan organ dalam, serta ukiran kayu, sayuran akar dan tumbuhan lain yang tampak berputar perlahan dalam matriks tersuspensi.

“Kei Imazu memaknai lukisan ini sebagai gambaran jika kita melihat tanah Banda dari atas lalu menembus setiap lapisannya maka akan terbayang unsur-unsur tersebut di dalamnya,” kata Jun Tirtadji, Founder ROH.

Lukisan Hainuwele Kei Imazu (Gatra/Hidayat Adhiningrat P)
Lukisan Hainuwele Kei Imazu (Gatra/Hidayat Adhiningrat P)

Idiom estetika Imazu diinformasikan oleh dorongan arkeologis. Maka karya lukisan ini secara intuisi seperti memperlihatkan hubungan antara manusia dan unsur bukan manusia, kekerabatan antar spesies, dan jalinan material.

Dorongan arkeologis yang ada dalam karya Imazu kemudian mencoba mempertanyakan ulang hubungan kita dengan beragam material yang ada dalam kehidupan. Di serangkaian karya lukisan yang lebih kecil Imazu memadukan pilihan gambar arsip yang dikumpulkan dari museum koleksi dan domain publik. Kemudian arsip tersebut diperluas ke dalam meditasi pribadinya sebagai wanita Jepang yang bekerja dan tinggal di Bandung, Indonesia.

2691