Home Politik Megawati Sebut Ada Kecurangan Pilpres 2024, Fahri Hamzah: Dicurigai Curang Sama Yang Sering Curang

Megawati Sebut Ada Kecurangan Pilpres 2024, Fahri Hamzah: Dicurigai Curang Sama Yang Sering Curang

Jakarta, Gatra.com - Ketua Umum (Ketum) PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, buka suara soal putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang belakangan menimbulkan kegaduhan. Megawati menyinggung soal manipulasi hukum hingga kecurangan.

Megawati menyebut jangan biarkan kecurangan pemilu yang akhir ini terlihat sudah mulai terlihat akan kembali terjadi.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gelora, Fahri Hamzah, mengatakan, PDIP sebagai pemain inti dalam 10 tahun belakangan ini harusnya tahu kalau ada permainan kecurangan.

“[PDIP] pasti tahu permainan kalau ada kecurangan, kan dia tahu pasti curangnya ada di mana. Sudah lah, sudah ahli banget lah kita ini kan pemain lama yang sering dikalahkan,” ujar Fahri Hamzah di Gedung KPU, Selasa (14/11).

Fahri Hamzah menyebut bahwa pihaknya belum mengetahui cara curang tapi selalu dicurigai curang.

“Kasarnya kita belum tahu cara curang terus dimarahin, dicurigai curang sama yang sering curang. Aneh juga sebenrnya tapi ya sudalah apa boleh buat,” ujarnya.

Sebelumnya, video tudingan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang menyebut ada kecurangan pada pemilihan umum terdahulu viral di lini massa. Putri presiden pertama Indonesia itu mengatakan, kecurangan dalam pemilu tidak boleh dibiarkan terjadi.

Ia berpidato selama sekitar 10 menit dengan latar belakang bendera merah putih dan patung Themis, dewi Yunani kuno, yang menjadi simbol hukum dan keadilan.

Disiarkan secara daring, Presiden ke-5 RI itu menyinggung soal putusan Majelis Kehormatan MK (MKMK) yang menyatakan Ketua MK, Anwar Usman, melakukan pelanggaran etik berat dalam keputusan perkara nomor 90. Putusan itu yang membuat Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, bisa maju di Pilpres 2024.

Mega mengaku prihatin dengan pusaran kasus di MK. Ia mengatakan, Mahkamah Konstitusi mestinya menjadi pranata kehidupan berbangsa dan bernegara.

566