Home Gaya Hidup Sate Songging Khas Kebumen Diproduksi Secara Turun-temurun Sejak Ratusan Tahun Lalu

Sate Songging Khas Kebumen Diproduksi Secara Turun-temurun Sejak Ratusan Tahun Lalu

Kebumen, Gatra.com- Sate Ambal yang berasal dari Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, menjadi salah satu makanan yang banyak dicari oleh penikmat kuliner. Namun tahukah Anda, ada satu buah dusun yang warganya membuat sate secara turun temurun?

Nama dusun tersebut adalah Dusun Songging, Desa Candiwulan, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen. Puluhan warga dusun tersebut membuat sate sejak ratusan tahun silam, sebelum Indonesia merdeka.

Setiap pagi, para ibu pembuat sate Songging telah berkativitas membakar potongan daging ayam. Asapnya bercampur dengan aroma bumbu kacang, membuat orang yang datang ingin segera menyantapnya. Banyak orang menyebut Dusun Songging sebagai Kampung Sate.

Setelah selesai proses pembakaran daging ayam, bapak-bapak akan segera menyiapkan gerobak sate motornya. Mereka menjajakan sate berkeliling dari desa ke desa.

Di Dusun Songging, setiap rumah bisa menghabiskan 8-10 Kg ayam untuk sate. Setelah diolah, ada sekitar 800-1.000 tusuk sate siap disantap. Rata-rata omset tiap penjual berkisar Rp800.000 hingga Rp1.000.000.

"Rata-rata, saya menghabiskan 8 Kg daging ayam. Satu kilo bisa dibuat 100 tusuk sate. Omsetnya nggak mesti, kadang bisa daoat Rp700.000. Setiap porsi (isi 10 tusuk), saya jual Rp12.000. Isteri juga membantu jualan untuk pesanan para tetangga," tutur salah satu pedagang sate Songging, Ratiman kepada wartawan, Jumat (08/12).

Ketua Paguyuban Pedagang Sate Songging, Martimin menjelaskan, secara turun temurun mereka telah berdagang sate ayam. "Pertama Kali ya..turun-temurun, dari nenek moyang kami, bapak hingga anak saya pun jual sate. Alhamdulillah sampai sekarang masih lancar. Tentu beda (cara berjualan), kalau dulu kan masih dipikul. Jalan kaki keliling ke pelosok-pelosok, sampai pagi baru sampai rumah. Kalau sekarang ada kemajuan, pakai sepeda motor," ujar Martimin.

Untuk bahan baku sate pun sekarang berubah jika dulu memakai ayam kampung, itik (enthog) dan bebek, sekarang memakai ayam potong. Kupatnya yang dulu dibuat dengan sumpil atau daun bambu, sekarang sudah tidak lagi karena susah mencari daunnya.

"Sekarang yang jualan sekitar 70 an orang, tapi yang masuk paguyuban nggak ada 70. Hanya sekitar 45 orang," ujarnya.

Para penjual sate di Desa Candiwulan berharap agar Sate Songging makin dikenal luas. Sehingga bisa memperkaya khasanah kuliner di Kabupaten Kebumen khususnya dan Provinsi Jawa Tengah umumnya.

401