Home Nasional Rhoma Irama: Musik Bisa Jadi Sarana Tanamkan Moderasi Beragama

Rhoma Irama: Musik Bisa Jadi Sarana Tanamkan Moderasi Beragama

Jakarta, Gatra.com - Musik dan film dapat menjadi instrumen penguatan moderasi beragama. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Balitbang Diklat Kementerian Agama (Kemenag) RI, Suyitno. Menurutnya, pemilihan musik dan film sebagai instrumen penguatan moderasi beragama adalah langkah bijak di tengah arus perkembangan 5.0.

Suyitno mengatakan, platform konvensional seperti TOT, MOT, penggerak, dan insersi dalam kurikulum telah memberikan dampak positif. Namun, lebih dari itu, musik dianggap sebagai instrumen yang lebih efektif.

"Musik, dengan sifatnya yang universal, mampu menyentuh hati lintas agama, suku, dan bangsa,” ujar Suyitno dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (6/1).

Senada dengan Suyitno, musisi legendaris Indonesia, Rhoma Irama, pun sepakat bahwa musik bisa dijadikan media dalam menggaungkan moderasi beragama. Hal ini pun menjadi tekad dan upaya yang sudah di lakukan musisi Yang dijuluki sebagai raja dangdut ini.

Rhoma mengungkapkan selama ini ia terus mengedepankan musik sebagai media edukasi, berdakwah, dan alat untuk mempersatukan bangsa. Menurutnya, Sejak 13 Oktober 1973, ia mendeklarasikan Soneta sebagai "the voice of muslim".

"Hingga kini, kami pun terus berjuang untuk mengaktualisasikan perannya sebagai pembawa pesan moderasi beragama," beber dia.

Rhoma menyebut, observasi bertahun-tahun menunjukkan efektivitas dakwah melalui musik, sebagaimana dirinya pernah diundang ke Amerika Serikat dalam rangka International Conference on Islam and the Council of Indonesia and Malaysia. Di sana, keberhasilannya diakui sebagai bukti bahwa musik efektif untuk berdakwah dan membangun karakter manusia.

Rhoma juga berbagi testimoni inspiratif seorang dosen di Surabaya, yang hidupnya terinspirasi oleh lirik-lirik lagunya. Menurutnya, musik memiliki daya konkrit untuk membentuk karakter seseorang.

The power of music can change a person's character,” tutur Rhoma.

Berkat moderasi beragama, Rhoma Irama melihat adanya local wisdom dalam budaya yang mampu membentuk karakter manusia menjadi lebih baik. Dengan hati-hati, ia mengingatkan bahwa seni, terutama musik, memiliki kekuatan besar untuk merusak atau membangun.

Dialog Publik, Pagelaran Musik, dan Film Moderasi Beragama ini tidak hanya menjadi panggung bagi bakat-bakat muda Indonesia, tetapi juga memperkuat peran musik sebagai agen perubahan positif dalam masyarakat.

Pada pagelaran ini, sejumlah bakat muda Indonesia yang telah meraih prestasi di bidang musik turut memberikan warna. Donny Evans, juara 1 lomba musik moderasi beragama, dan Siska Septiani, juara 1 Forsa Idol tingkat nasional, menunjukkan bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana efektif untuk menyuarakan pesan moderasi beragama.

Selan itu, Ayuning Niwang Nastiti, dara manis kebanggaan UIN SGD Bandung dan kontestan KDI 2018, membuktikan bahwa musik dangdut Indonesia memiliki tempat penting dalam seni dan budaya, sebagai wujud moderasi beragama yang merangkul keberagaman.

23