Home Ekonomi Berpotensi Besar, Industri Halal Indonesia Masih Tertinggal

Berpotensi Besar, Industri Halal Indonesia Masih Tertinggal

Jakarta, Gatra.com – Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Sapta Nirwandar menuturkan, Indonesia merupakan negara pengekspor terbesar ke Organisasi Kerja Sama Islam (OKI)  dengan nilai sebesar US$ 8,7 Miliar. Namun, sebagian besar berupa bahan mentah. Hal ini menandakan industri halal Indonesia masih tertinggal dengan negara lain yang sudah mampu mengekspor produk. Ia mencontohkan pengekspor produk ayam terbesar ke OKI adalah Brazil.

“Mestinya sudah produk jadi bisa nilai tambah,”ujarnya dalam diskusi bertema "Menyongsong Era Produk Halal Indonesia” yang diselenggarakan di Plaza Timor, Jakarta, Selasa (9/7).

Menurutnya, nilai perdagangan industri halal dunia sekitar US$2,8 triliun pada 2018. Ini menjanjikan dan merupakan pasar yang besar bagi industri halal. 

Halal supply chain [rantai pasok halal] mulai dari produk awal hingga packaging [penegemasan],” ujarnya.

Ia mencontohkan regulasi di Provinsi Tatarstan, Rusia yang memiliki ketentuan halal terperinci mengenai proses industri ayam. Selain pangan, Ia mengungkapkan, produk fesyen, kosmetik, rekreasi, edukasi, kesehatan, dan halal tourism berpotensi untuk dikembangkan.

“Kalau kita tidak mengambil hal ini, kita akan tertinggal. Kita akan jadi the biggest customer, bukan exporter. Malaysia sudah memiliki ekosistem lebih maju dari kita dan pengusahanya berani. Mereka ada batas tegas pemisahan produk halal dan non-halal,” katanya.

Kesadaran masyarakat muslim dan nonmuslim Malaysia sudah tinggi terkait kehalalan produk. Bahkan, ia berujar, Malaysia berambisi menjadi pusat halal dunia.

Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Kementerian Agama, Soekoso menuturkan, tidak hanya pengembangan produk halal yang penting, melainkan sumber daya manusianya.

“Indonesia jangan dilihat hanya sebagai potential market, bukan hanya produk tapi sumber daya manusianya juga,” tuturnya.

Soekoso membandingkan negara maju dengan penduduk mayoritas nonmuslim. Mereka sangat bersemangat mengembangkan industri halalnya. Sebagai contoh, antisipasi makanan dan minuman halal pada Olimpiade 2020. Pemerintah Jepang menegaskan telah menyiapkan halal destination, sehingga wisatawan muslim tidak kesulitan mencari makanan dan tempat ibadah. 

Oleh karena itu, pihaknya menyiapkan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), terdapat auditor untuk memeriksa produk. BPJPH menargetkan berdirinya tiga LPH di setiap kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Ia berharap dalam lima tahun akan terpenuhi karena Soekoso menilai, industri halal di Indonesia sangat berpotensi untuk dikembangkan.

“Menyelesaikan Indonesia, berarti sudah menyelesaikan dunia. Kita diuntungkan dengan kesatuan mazhab yaitu Syafi’I dan hampir 60% sirkulasi produk halal dunia di Asia Pasifik,” tuturnya.

Ketua Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI), Ilham Habibie juga menekankan, pentingnya inovasi dalam industri halal untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas.

“Kehalalan bisa diaplikasika pada halal non-konvensional. Sangat aktif di media rumah sakit syariah. Di situ, saya kira kehalalan sebetulnya secara langsung dan tidak langsung kita inovasi,” ungkapnya.

Kemudian, Ia mendorong upaya yang ekstra agar industri halal dapat berkembang lebih baik dan melihatnya sebagai kekuatan. 

 

233