Home Kesehatan BPBD Banjarnegara Galakkan Gerakan Selamatkan Mata Air

BPBD Banjarnegara Galakkan Gerakan Selamatkan Mata Air

Banjarnegara, Gatra.com – Lazimnya wilayah pegunungan, Banjarnegara mestinya kaya mata air. Tetapi, ternyata pada kemarau, warga Banjarnegara tetap terdampak kekeringan dan krisis air bersih.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Arif Rachman, mengatakan, sementara ini, 12 desa di  7 kecamatan sudah dikirimi air bersih. Diperkirakan, pada  2019  ada  39 desa di 12 kecamatan  yang mengalami krisis air bersih.

“BPBD telah mengirimkan  41 tangki air bersih dengan volume 205 ribu liter untuk 12 desa di tujuh kecamatan,” katanya, Rabu (17/7).

Seluruh desa itu berada di Banjarnegara sisi selatan dan barat. Penyebabnya, adalah semakin langkanya pepohonan di permukiman dan perkebunan penduduk. Akibatnya mata air mati. Terlebih, jenis tanah di Banjarnegara sisi selatan adalah kapur sehingga bersifat porous atau berpori, sehingga tidak bisa menyimpan air.

Bahkan, kata Arif, dari tahun ke tahun, wilayah yang terdampak krisis air bersih semakin banyak. Karena itu, BPBD menggalakkan penyelamatan mata air dengan penanaman pohon. Penebangan pohon yang disinyalir menyebabkan krisis air di Banjarnegara semakin tahun bertambah luas.

“Ya, jenis tanah di wilayah selatan itu kan kapur, Mas. Jadinya, kemampuan menyimpan airnya itu rendah. Air tetap lari, gitu lho. Kemudian pepohonan juga habis,” katanya.

Tahun ini, BPBD mulai mendata keberadaan mata air di wilayah-wilayah rawan krisis air bersih. BPBD juga berkoordinasi berkoordinasi dengan dinas terkait dan pengusaha untuk menyediakan bibit tanaman yang rencananya  ditanam pada  musim hujan mendatang.

“Ini kami komunikasi, misalnya dengan Indonesia Power, kita minta Aren, misalnya. Kalau itu ada, kemudian kita salurkan ke daerah-daerah yang rawan. Termasuk dengan SKPD terkait, LH-lah ya,” ujarnya.

Arif mengemukakan, wilayah utara Banjarnegara yang merupakan wilayah pegunungan juga tak luput dari ancaman kekeringan. Krisis air bersih bisa saja terjadi jika masyarakat tak kunjung mengubah pola pertanian tanaman musiman. Menurut dia, masyarakat perlu diedukasi untuk bertani ramah lingkungan. Salah satunya dengan tetap mempertahankan pepohonan di ladang penduduk.

“Pengadaan pohon, untuk menyelamatkan air, ini kaitannya dengan air bersih, untuk menyimpan air,” ucapnya.

Hingga Selasa 16 Juli 2019, BPBD telah mengirimkan  41 tangki air bersih dengan volume 205 ribu liter untuk 12 desa di 7 kecamatan. Diperkirakan permintaan bantuan air bersih akan semakin tinggi pada Agustus, September, dan mencapai puncaknya pada awal Oktober.

 

294