Home Ekonomi IDEAS Nilai Sistem Bagi Hasil Solusi Angkat Peternak Gurem

IDEAS Nilai Sistem Bagi Hasil Solusi Angkat Peternak Gurem

Jakarta, Gatra.com – Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono, menilai bahwa sistem bagi hasil merupakan bentuk permodalan yang paling sesuai bagi para peternak.Sistem ini telah menjadi kearifan lokal peternak sejak lama.

“Peternak lebih cocok bagi hasil karena mampu mengakomodir risiko lebih tinggi. Salah satu isu besar peternak rakyat bagaimana terjadi kegagalan yang besar mereka bisa adsorb [serap permodalan],” ungkapnya di sela-sela Diskusi Publik “Ekonomi Kurban 2019 dan Wajah Gurem Peternakan Rakyat” di Pejaten, Jakarta Selatan, Jumat (9/8).

Baca juga: BAZNAS Dorong Kemerdekaan Peternak Indonesia

Pihaknya mendefinisikan peternak gurem memiliki jumlah ternak besar yakni sapi atau kerbau sebanyak 1-2 ekor atau jumlah ternak kecil (domba atau kambing) sebesar 1-4 ekor.

Yusuf berpendapat, akses peternak terhadap permodalan masih sulit karena tidak sesuai dengan nature (sifat) sektor peternakan. Hal ini disebabkan hasil ternak seringkali memerlukan waktu untuk dapat diambil hasilnya, misalnya sapi potong yang memerlukan waktu hingga mencapai bobot dan usai tertentu. Belum lagi risiko penyitaan aset atau jaminan apabila peternak tidak mampu membayar.

“Meskipun sudah banyak perbankan syariah, sistem ini masih belum banyak dipakai. Kalau belum berhasil, ini [kearifan lokal] bukti kuat kenapa masih banyak orang menjalankan skema bagi hasil,” ungkapnya.

Ia mendorong lembaga-lembaga sosial untuk menyalurkan dananya kepada peternak-peternak rakyat yang masih rentan.

“Kalau perbankan mau enggak mau harus bayar, nanti bisa sita aset atau jaminan. Selamanya nanti dianggap enggak capable [mampu] terus. Menurut kami, lingkaran setan harus diputus dengan peningkatan kapasitas dan konsistensi [peternak],” ujarnya.

Sementara itu, peneliti muda dari IDEAS, Fajry Azhari, mengatakan bahwa dalam sistem bagi hasil, hasil yang didapatkan dibagi dua antara pemilik dan penggembala. Selama ini, peternak hanya mendapat keuntungan sedikit dibandingkan oleh perantara.

Baca juga: Stok Ayam Berlimpah, Peternak di Jateng Rugi Rp160 M

Fajry mengungkapkan, usaha peternakan rakyat melibatkan hingga 13 juta rumah tangga usaha peternakan (RTUP) berdasarkan hasil sensus pertanian tahun 2013. Mengutip data dari Kementerian Pertanian, ia menjelaskan, populasi sapi potong diperkirakan 17 juta ekor, sapi perah 550 ribu ekor, kerbau 1,4 juta ekor, kambing 18,7 juta ekor, dan domba 17,4 juta ekor.

“Di Indonesia, sebagian besar hewan ternak dikembangbiakkan secara tradisional oleh rumah tangga peternak. Lebih bdari 90% hewan dikembangbiakan secara tradisional oleh peternak,” ujarnya.

518