Home Gaya Hidup Bingkai Melayu di Inside Plastics-TalangTuwo Glosarium

Bingkai Melayu di Inside Plastics-TalangTuwo Glosarium

 

Palembang, Gatra.com – Buum, bumm, pah. Buum, buum, pah. Buum, bum, pah. Pekikan penonton yang nampak heroik ini menjadi puncak penutup penampilan teater Potlot di Graha Taman Budaya Sriwijaya Jakabaring, Kamis (5/12) sore kemarin.

Berkali-kali penonton meneriakkannya seraya berdiri dengan penuh kekompakkan seolah menjadi kesatuan rasa emosi.

Bagi sang Director, Conie Sema, aksi yang disimbolkan dengan kalimat seperti jampian itu ialah aktivitas watter bombing yang dilakukan pemerintah dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel).

Dikatakannya, pemerintah terus berupaya memadamkan api yang sudah terlanjur muncul dari kondisi perubahan bentang alam yang terjadi secara sistematis.

“Teriakan itu, penggambaran kondisi yang benar-benar kompleks untuk didekati dengan praktik ingatan memori dari kehidupan sosial, budaya dan politik, juga kemarahan atas dominasi wilayah dan diksi ketidakadilan,” ujarnya.

Penampilan enam pemain teater Potlot dalam alur cerita Talang Tuwo Glosarium Project diawali dengan plot hilangnya budaya dan kearifan lokal yang selama ini menjadi praktik baik bagi lingkungan, seperti halnya tradisi masyarakat kampung merawat alam.

Beberapa menit kemudian, dua orang pemain tiba-tiba membacakan alfabet huruf secara bergantian, seolah mengumpulkan berbagai teks, diksi, dan kumpulan kata. Susunan alfabet yang diteriakkan menghasilkan beragam kata dan tanda yang seolah membuka praktik memori selama ini memandang lingkungan hidup dan alam semesta.

Tidak hanya diksi semata, pilihan kata berwawasan lingkungan itu juga menjadi kajian kritis yang mengindetifikasikan bahwa diksi tidak hanya dibaca, atau menjadi dokumen semata lalu membeku. Kebekuan memuncak menghasilkan lagu dan nada yang bimbang, dan cendrung seragam (sama) dan malah mengikat memori itu sendiri.

“Misalnya, memori rawa gambut dan keterdesakan masyarakat lebak, manusia Rawang akibat pengelolaan bentang alam yang hanya berorientasi ekonomi, sehingga menghasilkan desakan migrasi dan perubahan alam (deforestasi) yang terus mengancam,” terang Conie.

Tak cukup itu, upaya membuka memori juga disampaikan dengan hadirnya prasasti Talang Tuwo. Sebuah catatan kearifan lokal membangun bentang alam telah dilakukan masyarakat lokal sejak dulu, saat masyarakat benua Eropa masih mengalami masa kegelapan. Praktek membangun taman Sriksetra dengan keberagaman serta kebaikan alam seolah menjadi surga bagi seluruh mahluk hidup terutama manusia.

Saat Dapunta Hyang Srijayanasa pada 23 Maret 684 Masehi telah memerintahkan rakyatnya membangun bentang alam yang berpijak pada ajaran kebaikan, seolah menjadi pesan visioner dalam menjaga alam semesta yang sudah lama dilaksanakan di Sumsel. Praktik baik ini menjadi refleksi bagi manusia saat ini yang cendrung menghasilkan kondisi yang paradoks (berlawanan) dengan memori tersebut.

“Mencatat dampak ekologi dari praktik dominatif penguasaan lanskap (bentang alam) oleh perkebunan industri sawit, HTI akasia di kawasan OKI, Muba, Banyuasin, dan sekitarnya,” ungkap ia.

 

Pencemaran Sungai Musi

Selain menyampaikan gambaran kerusakan bentang alam yang terjadi akibat kebakaran hutan dan alam, teater Potlot mengawali pertunjukan dengan cerita Inside Plastic. Kareografi Sonia Anisah Utama menceritakan bagaimana gerak tari pada penampilan kali ini menggambarkan pabrik-pabrik yang memproduksi plastik melalui gerak tubuh robotik.

Gerak tubuh yang seolah kaku namun konstan itu menggambarkan bahwa plastik-plastik yang sudah dihasilkan dalam sebuah sistem industri bertahan di alam raya sebagai polusi yang awet. Pada potongan alur selanjutnya, plastik-plastik tersebut bergerak monoton menjadi tumpukan besar di aliran sungai Musi. Polusi plastik yang digambarkan gerak tubuh ialah cerminan pola aliran air sungai yang juga menggambarkan kehidupan sungai Musi yang telah bercampur dengan polusi plastik.

“Ketiga tubuh pemain memerankan plastik, yang kemudian terjaring pada jaring-jaring nelayan yang kemudian terjerat. Tidak hanya di sungai, tubuh-tubuh plastik itupun akhirnya tumbuh dan besar ke selat, laut, pelabuhan, pulau lainnya dan sampai pada bukit barisan,” terangnya.

Pada satu range cerita ini, Sonia mengatakan terdapat dua cerita yang sama-sama menceritakan kerusakan alam yang terjadi di Sumsel. Pada Inside Plastic yang dimainkan selama 15 menit diperankan oleh enam pemain sedangkan Talang Tuwo Glosaroium Project berdurasi 45 menit dimainkan oleh lima pemain.

“Pertunjukan ini ialah kali kedua ditampilkan dan sebelumnya sudah pernah ditampilkan di Jambi. 2-Envimove menghadirkan realitas menemukan ruang kolektif merespon menjadi movement bahasa sebuah teater lingkungan,” terangnya.

 

Bingkai Melayu Mengikat Pesan

Dua penampilan teater potlot dijeda dengan pembacaan orasi budaya dari Ketua Yayasan Alam Melayu Nusantara (Malaya), Husni Thamrin. Dalam orasinya, ia mengatakan budaya melayu yang tersebar di Nusantara sudah menjadi identitas. Selama ini yang terjadi, malah salah persepsi dalam mengindentifikasi melayu sebagai negara Malaysia, padahal dalam sejarahnya melayu ialah penyusun kebhinekaan jauh sebelum Sriwijaya hadir.

“Sriwijaya dengan kejayaan kemaritiman, dan menanamkan identitas melayu dan kesultanan malah memantapkan nilai melayu. Melayu mempengaruhi kebijakan masyarakat Indonesia, terutama di Sumatera dan Kalimantan, dan tidak hanya mengikat pada suku. Hal ini menjadikan nilai melayu menjadi hilang, padahal melayu sangat terbuka. Sifat terbuka masyarakat melayu bukanlah juga diartikan bias dan rapuh,” terangnya.

Apalagi mengetahui bagaimana budaya melayu memandang alam semesta yang diartikan dalam satu kesatuan jiwa. Melayu menilai alam ialah rumah yang harus dijaga, karena tidak mungkin ada mahluk yang berkeinginan merusak rumahnya sendiri. Masyarakat melayu dengan nilai yang dimiliki juga mampu melayani alam dengan rasa cinta, dan tercipta komunikasi yang indah dan selaras antara manusia dan alam.

“Kelenturan budaya melayu menerima hadirnya masyarakat lain ialah pengakuan asimilasi yang lengkap. Manusia dan alam akan menjadi saling menjaga, memberi dengan rasa cinta sebagai ruh yang menciptakan keseimbangan alam terbaik bagi semesta seperti halnya pesan dalam penampilan teater ini,” ungkapnya.

 

 

384