Home Kebencanaan Magma Merapi Melaju Pelan, Awan Panas Masih Mengancam

Magma Merapi Melaju Pelan, Awan Panas Masih Mengancam

Yogyakarta, Gatra.com - Kubah lava Gunung Merapi terus tumbuh meski di bawah rata-rata pertumbuhan kubah lava pada periode erupsi sebelumnya. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta meminta masyarakat tak mengendurkan kewaspadaan karena status Merapi masih 'Siaga'.  
 
Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan erupsi Merapi yang bersifat efusif atau lelehan saat ini berjalan sangat lambat. "Magma sangat pelan menuju ke permukaan. Seismitas vulkanik dangkal dan multiphase mengalami penurunan. Justru lebih waspada karena kubah lava terus tumbuh yang sewaktu-waktu bisa terjadi awan panas," kata Hanik dalam konferensi pers virtual, Senin (15/2). 
 
Hanik mengatakan pertumbuhan kubah lava Merapi umumnya mencapai 20 ribu meter kubik per hari. Pada fase erupsi 2006 lalu, pertumbuhan kubah lava antara 70 ribu sampai 150 ribu meter kubik dan lebih tinggi lagi saat terjadi gempa.
 
Sementara pada fase erupsi 2021 ini, pertumbuhan kubah lava rata-rata 10 ribu meter kubik per hari. "Jadi memang kecilnya suplai (magma) dari dalam menuju ke permukaan menyebabkan kejadian awan panas kecil," katanya. 
 
Aktivitas Merapi periode 5 - 11 Februari 2021 menunjukkan volume kubah lava di tebing barat daya sebesar 295 ribu meter kubik dengan laju pertumbuhan 48.900 meter kubik per hari. 
 
Sedangkan pertumbuhan kubah lava di tengah kawah tidak teramati arena terkendala cuaca selama satu minggu terakhir. Pengamatan visual dari sisi tenggara pun belum menunjukkan luncuran awan panas yang mengarah ke tenggara. 
 
"Untuk kubah lava di tengah, kami dalam seminggu sudah mencoba tiga kali kecele terus. Kecepatan angin sangat tidak memungkinkan menerbangkan drone. Sehingga kami tidak bisa melihat dan belum bisa menghitung volume kubah lava. Tapi tentunya tetap harus kita waspadai," katanya. 
 
Menurut Hanik, BPPTKG akan mengevaluasi status aktivitas vulkanik Merapi jika ada perubahan signifikan, seperti terjadinya awan panas yang lebih intensif atau makin jauh jarak luncurannya. 
b
"Kalau kubah lava tidak berhenti dan terus naik, tentu status akan kami evaluasi. Misal lebih intensif kejadian awan panas ataupun semakin jauhnya jarak awan panas. Kalau memang sudah membahayakan sampai ke penduduk akan kami naikkan statusnya," ucapnya. 
 
Potensi bahaya erupsi Merapi saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan dan barat daya, meliputi Sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal lima kilometer. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.
 
Pada periode 5 - 11 Februari 2021, Merapi tercatat mengalami 22 kali gempa vulkanik dangkal, 193 kali gempa fase banyak, 775 kali gempa guguran, 10 kali gempa embusan, dan 13 kali gempa tektonik. Intensitas kegempaan pada minggu ini lebih tinggi dibanding periode seminggu sebelumnya.
161