Home Politik Dhaniel Dhakidae di Mata Kaum Intelektual

Dhaniel Dhakidae di Mata Kaum Intelektual

Jakarta, Gatra.com – Peneliti dan mantan redaktur jurnal ilmiah populer Majalah Prisma, Dhaniel Dhakidae, menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa (6/4). Sumbangsihnya terhadap ilmu pengetahuan dikenang oleh akademisi dalam webinar bertajuk “Cendekiawan dan Kekuasaan: Mengenang Pemikiran Dhaniel Dhakidae” yang diadakan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada Minggu (11/4).

Akademisi dan penulis Julia Suryakusuma, menyebutkan bahwa bukunya yang berjudul “State Ibu-ism/Ibuisme Negara” ada kaitannya dengan Daniel.

Julia menuturkan, Daniel pernah memintanya untuk menjadi editor tamu bagi Majalah Prisma di tahun 1981. Dalam bekerja sebagai editor untuk majalah tersebut, Julia berperan untuk menentukan topik-topik yang diangkat, Term of Reference (TOR), penulis yang mengisi majalah, dan melakukan proses penyuntingan tulisan.

“Dengan saya menjadi editor Prisma tahun 81, seperti menentukan perjalanan kehidupan saya sebagai akademisi,” ucap Julia.

Hasil majalah yang dikerjakan oleh Julia membawanya bertemu dengan Saskia Wieringa, akademisi dari Institute of Social Studies di Den Haag, Belanda. Saskia adalah sosok yang mengajak Julia untuk terlibat dalam penelitian tentang “Womens Movements and Organization in Historical Perspective” yang menjadi cikal bakal buku “State Ibu-ism/Ibuisme Negara”.

“Kalau seandainya Daniel itu tidak meminta saya untuk jadi editor tamu pada tahun 81 itu, mungkin tidak akan jadi State Ibuism, dan ibusme negara itu sudah menjadi karya klasik selama 30 tahun,” tutur Julia.

Wartawan dan Co-Founder Jakarta Defence Studies, Edna Caroline Patissina, menuturkan kesannya terhadap salah satu buku Daniel berjudul “Cendekiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru” yang terbit pada 2003.

Edna menyebutkan, tulisan di buku tersebut masih relavan hingga hari ini. “Bagian yang menurut saya berkesan sampai sekarang adalah ‘cendekiawan bukan by definition, tapi adalah hasil dari interaksi antara modal, budaya, dan kekuasaan, juga,” tutur Edna mengutip tulisan Daniel.

Edna juga menjelaskan bahwa saat ini jurnalis menjadi corong bagi kekuasaan dengan segala kompleksitasnya. Menurutnya, hal itu terjadi karena media merupakan bentuk bisnis.

Meski begitu, Edna menyebutkan bahwa dalam bukunya, Daniel menjelaskan bahwa cendekiawan dan kekuasaan akan selalu berhubungan.

“Tarik menarik [antara kekuasaan dan cendekiawan] itu adalah sesuatu yang natural. Hal itu akan terus terjadi siapapun penguasanya, apapun kekuasannya, jadi tugas dari para cendekiawan adalah meningkatkan moda pengetahuannya,” ucap Edna.

133