Home Apa Siapa Reda Manthovani Sempat jadi Petarung Jalanan

Reda Manthovani Sempat jadi Petarung Jalanan

570

Jakarta, Gatra.com – Siapa sangka Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Banten, Reda Manthovani, pernah menjadi petarung jalanan. Ini berkaitan dengan hobi yang digelutinya di bidang olahrga bela diri taekwondo dan pencak silat kala masih remaja, tepatnya saat masih duduk di bangku SMA.

"Saya bertanding sejak SMA. Bahkan saya pernah bertarung kayak MMA [Mixed Martial Arts] jalanan," ungkap Reda mengawali perbincangan dengan Wahyu Wachid Anshory dari Gatra, baru-baru ini.

Selepas SMA, gejolak masa muda dan kepiawainnya di bidang olahraga bela diri tersebut membuat Reda masih mengeluti pertarungan itu. Bedanya, setelah masuk kuliah di Universitas Pancasila, Jakarta, pemegang ban hitam di taekwondo ini juga mulai mengikuti kejuaraan resmi. "Akhirnya, kalau resminya bertarung [kejuaraan] antarmahasiswa," ucapnya.

Prestasi tertinggi Reda di ajang resmi taekwondo adalah menjadi atlet terbaik dalam kejuaraan nasional antarperguruan tinggi pada 1990. Sedangkan untuk pencak silat, Reda yang sempat tergabung dalam perguruan silat Satria Muda Indonesia yang kala itu dibina Prabowo Subianto, adalah runner-up antarperguruan pencak silat.

Sayangnya, karier Reda sebagai atlet harus berakhir dan tidak kesampaian untuk berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON). Ia tidak bisa lolos seleksi gegara patah tangan. "Patah tangan [karena] sering bertarung bebas," ungkapnya.

Mantan Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejati Sumatera Selatan ini menceritakan, sebelum patah tangan dirinya sempat sombong karena marasa mempunyai kemampuan bela diri dan sering memenangi petarungan. "Kira-kira waktu itu kita sombong," ucapnya.

Lantas ia mengambil pelajaran dan hikmah, khususnya setelah mengalami patah tangan. Ia mengimplementasikan pelajaran tersebut bahwa manusia tidak boleh sombong meskipun dianugerahi suatu kemampuan dan manusia harus selalu berbuat baik. Kesombongan sangat berbahaya dan membuat manusia lengah.

Ketika lengah, lanjut Reda, manusia seperti tidak sadar, terlena, dan tidak waspada sehingga gampang "dihantam". Perjalanan hidupnya itu menjadi pelajaran yang sangat berarti, termasuk ketika menjalani tugasnya sebagai jaksa yang harus selalu siap dan sigap. "Pelajaran yang saya dapat waktu saya patah tangan akhirnya saya terapkan. Tidak boleh sombong. Kalau sombong habis kita. Kan di atas langit masih ada langit," ia mengungkapkan.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS