Home Hiburan Review Film Dog: Road Movie Manis Bersama Anjing Bengis

Review Film Dog: Road Movie Manis Bersama Anjing Bengis

121

Jakarta, Gatra.com – Setelah dua dekade malang-melintang di industri Hollywood, Channing Tatum kini memutuskan untuk meluncurkan karya penyutradaraan perdananya. Dia memilih menggarap cerita tentang anjing Belgian Malinois. Tipe tersebut kerap dimasukkan ke varietas anjing gembala Belgia (Belgian Shepherd), dan kini kerap bertugas sebagai anjing pelacak. Aksi anjing bertubuh gagah, berbulu gelap, dan bersuara garang tersebut menjadi kisah utama dalam film Dog besutan Tatum dan co-director, Reid Carolin. Berikut review film Dog.

Jackson Briggs (Channing Tatum) sedang berjuang untuk bisa masuk lagi ke Ranger Angkatan Darat Amerika Serikat. Pasalnya, dia divonis dokter mengalami gangguan otak sehingga dia ditolak untuk kembali bergabung dan bertempur bersama unit pasukan elit infanteri ringan tersebut.

Salah satu adegan di road movie Dog. (Dok. MGM/fly)

Hingga satu ketika, sang kapten yang berwenang memberikan dia rekomendasi bergabung ke tentara, memberikan Briggs satu tugas sulit. Briggs diperintahkan untuk mengantar Lulu, anjing infanteri tersebut menghadiri pemakaman pawangnya. Lulu mustahil diterbangkan dan harus dibawa lewat darat karena Belgian Malinois itu super galak dan telah sukses mengirim tiga tentara masuk rumah sakit akibat luka gigitan. Demi mendapat rekomendasi yang dia butuhkan, Briggs pun bersedia mengawal Lulu menyusuri Samudera Pasifik sejauh ratusan kilometer, dari Oregon yang bersuhu rendah di Utara menuju dataran gurun Arizona di Selatan.

Untuk meredam kebengisannya, mulut Lulu pun diberangus kaitan besi. Dia terikat di jok belakang mobil Ford Bronco 1984 Briggs. Sembari mengenang masa-masa perjuangan bersama mereka saat di medan tempur, Briggs asyik pula ‘mengobrol’ dengan Lulu di sepanjang perjalanan.

Di setiap kota yang mereka singgahi, keduanya selalu berhadapan dengan masalah. Ada momen ketika seorang remaja melempar batu ke jendela belakang Briggs, karena bertekad mebebaskan Lulu yang terikat. Tindakan yang mengakibatkan remaja itu malah digigit oleh Lulu. Atau ketika Briggs malah bertemu sepasang suami istri yang nampaknya bisa meluluhkan Lulu yang gahar itu.

Salah satu adegan di road movie Dog. (Dok. MGM/fly)

Petualangan paling heboh tentu saja ketika Briggs menyamar menjadi pria buta, dan mengenakan pita warna pada Lulu sehingga Lulu disangka sedang terluka. Alhasil, mereka mendapat fasilitas kamar nomor satu di sebuah hotel mahal. Penyamaran mereka tak sengaja terbongkar ketika Lulu secara naluriah memburu seorang tamu hotel yang tampilannya selayaknya pria asal Timur Tengah. Briggs yang bergegas menarik Lulu dari sang pria, tentu saja membuka kedoknya bahwa dia sama sekali bukan seorang tuna netra. Akibat serangan Lulu pada pria berkulit gelap dan berjenggot itu, mereka terancam batal tiba tepat waktu di pemakaman.

Tragedi demi tragedi terus terjadi. Pertemuan Briggs dengan seorang rekan tentara yang telah mengadopsi dan sukses melatih Belgian Malinois lainnya, sempat membuat Briggs galau untuk mengantar Lulu ke Arizona. Sebab, sesuai aturan di Ranger, jika sang pawang meninggal, maka anjingnya yang sudah lama berada di peperangan itu akan dimatikan pula.

Salah satu adegan di road movie Dog. (Dok. MGM/fly)

Kegalauan itu tak bertahan lama, karena belakangan Briggs mengamuk melihat kelakuan Lulu yang sulit dikompromikan. Ditambah mobil mereka yang mogok, membuat keduanya semakin berpacu dengan durasi untuk tiba di pemakaman tepat waktu.

Sebagai varietas Belgian Malinois, jelas tampilan Lulu jauh dari manis. Tapi film ini sukses menampilkan sisi-sisi lembut Lulu yang justru membuat penonton bisa meresapi kehangatan hubungan yang terjalin perlahan-lahan antara Briggs dan Lulu. Bagaimana keduanya ternyata sama-sama punya trauma atas kerasnya medan tempur yang pernah mereka alami. Lalu bagaimana pula upaya mereka untuk bisa bekerja sama dengan lebih baik satu sama lain.

Proses hubungan yang bertahap ini tentu saja paling pas jika divisualkan dalam format road movie. Sebuah perjalanan, baik secara harafiah menyusuri jalanan yang panjang, sekaligus gradasi karakter sedikit demi sedikit yang berubah lebih baik.

Salah satu adegan di road movie Dog. (Dok. MGM/fly)

Meski plot film ini tampil secara sederhana, tapi ada banyak lapisan yang disinggung di sana. Termasuk di dalamnya keluarga yang terpecah dan post traumatic stress disorder (PTSD). Sayangnya, isu-isu tersebut hanya menjadi sempalan yang termanifestasi dalam dialog-dialog singkat dengan sejumlah karakter baru yang mereka temui di setiap perhentian.

Film Dog nampaknya memang dirancang untuk menjadi karya yang mudah dicerna. Ceritanya ringan dan gampang ditebak. Sebagai sebuah film perjalanan, maka latar lokasi indah tentu juga menjadi nilai jual. Pemilihan rute sepanjang Samudera Pasifik menyajikan pemandangan laut biru dan langit luas yang indah dilihat di layar lebar.

Sesungguhnya ada tiga anjing yang digunakan untuk memerankan Lulu. Mereka adalah Britta, Lana 5, dan Zuza. Sekitar 80 persen adegan diisi oleh Britta.

Salah satu adegan di road movie Dog. (Dok. MGM/fly)

Pandemi sempat memaksa proses produksi terhenti selama sembilan bulan. Rentang waktu itu digunakan oleh Tatum dan para pelatih anjing lainnya untuk memaksimalkan pelatihan dan persiapan sejumlah Belgian Malinois yang akan dipakai di film Dog. Hasilnya adalah hubungan luar biasa kuat yang berujung tiga orang pelatih memutuskan mengadopsi anjing yang mereka latih.

Film Dog tadinya dijadwalkan untuk dirilis di AS pada 21 Februari 2021. Tapi Studio Metro-Goldwyn-Mayer memutuskan mengundurnya ke Juli, akibat pandemi. Akhirnya film ini tayang pada 18 Februari 2022 di AS, dan telah muncul di layanan streaming per 11 Maret 2022.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS