Home Hiburan Sutradara “KKN di Desa Penari” Optimis Bioskop Tak Akan Mati Meski Tertekan Pandemi

Sutradara “KKN di Desa Penari” Optimis Bioskop Tak Akan Mati Meski Tertekan Pandemi

54

Jakarta, Gatra.com – Film “KKN di Desa Penari” mencetak rekor hampir 8 juta penonton dan menjadi film horor terlaris sepanjang sejarah. Ini diraih setelah film ini tertunda tayang di bioskop selama pandemi melanda Indonesia dua tahun terakhir.

“Sempat khawatir apakah kebiasaan menonton di bioskop tergantikan dengan kebiasaan nonton di rumah karena pengalaman saat pandemi. Tapi lalu kita lihat 'KKN' ternyata banyak yang nonton lagi. Jadi kita jadi ada harapan,” ujar sutradara ‘KKN di Desa Penari’, Awi Suryadi.

Diskusi soal kondisi industri bioskop usai pandemi tersebut diselenggerakan oleh panitia Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) yang ke-12 di tahun 2022 dalam webinar pertama secara daring bertajuk “Perubahan Trend Film Indonesia Pasca Covid Melandai”, Jumat (20/5) lalu.

“Dari waktu ke waktu kita menyaksikan film horor selalu punya daya tarik magis untuk menggerakakan penonton ke bioskop,” imbuh Koordinator Kelompok Kerja Apresiasi dan Literasi Film pada Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru Kemendikbud Ristek, Edy Suwardi di acara yang sama.

Awi mengakui filmnya itu tadinya sempat direncanakan tayang di Februari 2022. Tapi lalu diundur hingga ke momen Lebaran.

Alhasil, kenangnya, banyak pihak mencibir keputusan tersebut. Meragukan kemampuan film horor ini menggaet penonton karena harus berhadapan dengan jadwal tayang salah satu film andalan Marvel, Doctor Strange in the Multiverse of Madness.

“Tapi ya udahlah. Kita PD dengan konten kita, kita sudah maksimal. Kita nekat saja, karena sudah menunggu dua tahun,” ucap Awi.

Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), Djonny Syafruddin menegaskan bahwa salah satu indikator kebangkitan industri bioskop adalah terbitnya UU Nomor 1/2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (HKPD). Beleid ini mengatur penurunan tarif beberapa jenis pajak hiburan di daerah, termasuk pajak bioskop, yang tadinya bervariasi antara 10-25%, kini disamaratakan di seluruh Indonesia yaitu maksimal 10%. Dengan demikian bisa menekan cost sehingga memungkinkan mengenakan harga tiket yang lebih terjangkau.

Data GPBSI menyebutkan bahwa di Indonesia saat ini terdapat 2.088 layar bioskop. Momen paling ramai penonton di bioskop berturut-turut yaitu: Lebaran, Tahun Baru, Idul Adha, Natal, dan ketika musim libur sekolah.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS