Home Apa Siapa Mahfud MD: Buya Syafii Pikirkan Kepentingan Bangsa hingga Saat Terakhir

Mahfud MD: Buya Syafii Pikirkan Kepentingan Bangsa hingga Saat Terakhir

Yogyakarta, Gatra.com - Menko Polhukam Mahfud MD mengenang Buya Syafii Maarif di masa muda ingin Indonesia menjadi negara Islam. Namun usai mempelajari Pancasila, ia menganggap dasar negara itu paling tepat jadi ideologi bangsa.

"Bangsa dan negara kita kehilangan seorang guru besar Buya Syafii Maarif. Meskipun bukan seorang ningrat, beliau bisa disebut sebagai bangsawan dalam arti dia selalu berpikir untuk kepentingan bangsa. Sampai saat-saat terakhir," kata Mahfud di Masjid Kauman Yogyakarta, Jumat (25/5).

Buya Syafii meninggal di RS PKU Gamping pada Jumat pagi dan disemayamkan di masjid tersebut. Jenazah Buya akan dimakamkan sore ini di Kulonprogo.

Menurut Mahfud, semua pihak yang mencintai Pak Syafii Maarif perlu melanjutkan ide-idenya dalam kehidupan bersama, berbangsa, dan bernegara serta rukun, bersatu, kemudian kompak saling membantu antar manusia.

"Hubungan antar manusia itu seperti yang diajarkan oleh agama dan diyakini oleh Pak Syafii Maarif kita tidak membeda-bedakan ikatan primordial semua manusia itu hidup dalam kosmopolitanisme hidup dalam kewargaan," katanya.

Mahfud mengenang Buya Syafii ketika muda sebagai pemuda Islam yang mendambakan agar Indonesia itu dikuasai oleh Islam karena Islam mayoritas.

"Tapi sesudah belajar, lama-lama kemudian tidak harus negara itu harus berasaskan Islam atau harus menjadi negara agamis. Maka Pancasila bagi Buya Syafii itu adalah pedoman berbangsa bernegara yang kompatibel," ujarnya.

Artinya, kata Mahfud, Pancasila tidak mengganggu kelancaran perjuangan umat Islam untuk berbangsa dan bernegara dan beribadah. "Itu yang diajarkan Pak Syafii pada kita. Itu agama kemanusiaan, semua orang bersaudara, urusan ibadah itu urusan masing-masing," ujarnya.

Mahfud juga menyebut dirinya adalah asisten Syafii ketika mengajar mata kuliah Pancasila II tentang filsafat kenegaraan.

"Kalau Pancasila I itu mengenal sejarah Pancasila dan ide ketatanegaraanya. Kalau Pancasila II itu mahasiswa mau tamat diajar itu. Saya mengajar bersama Pak Syafii Maarif. Saya sebagai asistennya jadi saya punya kenangan yang cukup dalam," tuturnya.

Menurutnya, Buya Syafii adalah pemegang bintang Maha Putera Utama sehingga berhak dimakamkan di makam Taman Pahlawan Kalibata.

"Negara mau memfasilitasi karena itu tempat pahlawan sekelas Pak Suafii Maarif. Tapi saya koordinasi dengan keluarga dan Pak Haedar nashir katanya 24 Februari yang lalu, Pak Syafii Maarif itu sudah memesan makamnya sendiri di pemakaman Muhammadiyah di Kulon Progo. Jadi tidak di taman makam pahlawan. Kita doakan kepergiannya. Di manapun beliau neristirahat," pungkasnya.