Home Ekonomi Stok Menyusut, Penambahan Kuota BBM Subsidi Masih Mungkin?

Stok Menyusut, Penambahan Kuota BBM Subsidi Masih Mungkin?

Jakarta, Gatra.com - Stok Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi yang kian menipis menimbulkan kekhawatiran kelangkaan di akhir tahun. Data Pertamina mencatat hingga Juni 2022 penggunaan solar subsidi telah mencapai 8,3 juta kiloliter (KL) dari kuota sebanyak 14,9 juta KL. Sementara, pertalite subsidi telah terpakai 14,2 juta KL dari total kuota 23 juta KL.

Di satu sisi, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik dan meningkatnya volume kebutuhan BBM di masyarakat pasca-pandemi tidak bisa dihindari. Anggaran penerimaan dan belanja negara (APBN) kian membengkak untuk subsidi energi hingga Rp500 Triliun.

Anggota Komisi VI DPR RI, Fraksi PKS, Mulyanto menilai opsi penambahan kuota subsidi BBM sebenarnya masih memungkinkan. Menurutnya, pilihan-pilihan dalam keputusan anggaran subsidi juga bersifat politis.

"Ini kan yang paling paham Menteri Keuangan bersama Banggar (Badan Anggaran), apakah keuangan kita dengan Rp500 triliun tidak bisa lagi menanggung beban ini? atau masih bisa ditanggung? Ini adalah pilihan-pilihan politik yang disesuaikan," ujar Mulyanto dalam webinar 'Untung Rugi BBM Subsidi" pada Sabtu (6/8).

Opsi penambahan kuota BBM subsidi menurutnya belum tertutup. Pemerintah, kata Mulyanto, berkewajiban tetap menjaga ketahanan energi di masyarakat secara nasional dengan mengelola keuangan dengan sebaik-baiknya dalam berbagai situasi.

"Kalau menurut saya secara politis ini adalah pilihan terbuka. Kalau kami mendorong agar pemerintah tetap menjaga ketahanan energi nasional kita, agar masyarakat bisa terlayani kita perlu dikelola dengan baik kondisi keuangan," ungkap Mulyanto.

Kendati demikian, Mulyanto setuju agar aturan pembatasan dan pengawasan pendistribusian BBM subsidi segera diterbitkan agar subsidi bisa tepat sasaran.

"Kalau kita merasa ini darurat dan krisis maka segera dong keluar aturan itu, ini kan masih lama. Janjinya kan Agustus, ini mundur lagi," tandasnya.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga menilai anggaran yang digelontorkan negara untuk subsidi energi mencapai Rp500 triliun sudah terlalu besar.

"Harusnya kita bersyukur subsidi energi kita mencapai Rp500 triliun, jangan-jangan ini adalah subsidi energi terbesar di dunia," katanya.

Arya menilai penggunaan aplikasi MyPertamina untuk pembatasan pembelian BBM subsidi sebagai langkah strategis untuk memperkecil kebocoran penyaluran subsidi di masyarakat sehingga mencegah pembengkakan APBN untuk subsidi energi.

"Sampai kapan negara kita ini membiarkan orang-orang yang enggak berhak itu dapat (BBM subsidi) terus. Ini saatnya, enggak apa ribet (pakai aplikasi) tapi ini kan untuk kebaikan kedepannya, dan menyelamatkan APBN kita juga," pungkas Arya.