Home Ekonomi KPBB Minta Penggunaan Bahan Bakar Kotor Segera di Stop

KPBB Minta Penggunaan Bahan Bakar Kotor Segera di Stop

Jakarta, Gatra.com – Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) mengungkapkan penggunaan jenis BBM di Indonesia masih di dominasi oleh jenis  Pertalite dengan RON 90 atau Pertalite90. Dalam catatan KPBB, jumlah permintaan Pertalite sanggup mencapai angka 16,693,758,624. Masalahnya, jika bicara kualitas BBM, Pertalite90 masuk dalam kategori bahan bakar kotor.

Dijelaskan oleh Executive Director KPBB, Ahmad Safrudin, untuk kelompok bahan bakar kotor, sudah sepatutnya pemerintah untuk memikirkan opsi penghapusan. Saat ini dalam catatan KPBB, masih tersisa tiga jenis bahan bakar kotor yakni Pertalite 90, Solar 48 dan Dexlite 51. Sementara yang ramah lingkungan antara lain Pertamax, Pertamax Turbo, Perta-DEX dan Perta-DEX HQ.

“Konteks penghapusan inilah yang sesunguhnya kalau memang pemerintah care ke persoalan sistim moneter Indonesia. Kemudian yang kedua care terhadap upaya untuk menjaga stabilitas ekonomi, kemudian juga dengan konteks adopsi bahan bakar bersih, demi terciptanya lingkungan hidup yang lebih bersih dan kualitas udara lebih baik, maka segera tentunya untuk segera menghapus bahan bakar kotor tadi,” tutur Ahmad dalam sebuah diskusi daring, Senin (5/9) lalu.

Ahmad menyebut, untuk menciptakan BBM yang lebih bersih, bensin dengan angka oktan (RON) minimal berada diangka 91 dengan kadar belerang S 50 ppm dan Olefin 20 ppm. Takaran-takaran tersebut merupakan komposisi yang terdapat dalam BBM jenis Pertamax. Sedangkan RON minimal Pertamax Turbo sebesar 95/98 dengan kadar belerang S yang sama, namun Olefinnya hanya 18 ppm. Cetane Number (CN) untuk Solar yang lebih bersih minimal 51/53, kadar belerang maksimum 300 ppm, hidrokarbon poliaromatik (PAH) maksimum 10 persen untuk Perta-DEX. Sementara untuk Perta-DEX HQ CNnya 53 dengan kadar sulfur dan hidrokarbon poliaromatik yang sama.

Dampak masih masifnya penggunaan bahan bakar kotor, sambung Ahmad,  maka tidak heran dalam jika dalam beberapa waktu belakangan situasi dalam negeri menghadapi buruknya kualitas udara, terutama di Jakarta. Menurut Ahmad, media dan institusi asing menyampaikan beberapa kali bahwa Jakarta diposisikan sebagai kota paling kotor di dunia.

“Perbandingan di beberapa negara terkait kualitas bahan bakar di negara kita jelas di nomor buncit kalau dibandingkan dengan negara-negara Asia dan Australia,” ujarnya.

87