Home Gaya Hidup Museum MACAN Presentasikan Karya Finalis VH Award ke-4

Museum MACAN Presentasikan Karya Finalis VH Award ke-4

Jakarta, Gatra.com - Museum MACAN mempresentasikan karya-karya dari finalis VH AWARD ke-4. Karya ini berasal dari pemenang utama, Lawrence Lek, bersama dengan karya Doreen Chan, Paribartana Mohanty, Jungwon Seo, dan Syaura Qotrunadha.

Presentasi di Museum MACAN ini dibuka untuk umum mulai tanggal 10 September hingga 13 November 2022. Karya-karya para finalis yang ditampilkan melibatkan penggunaan teknologi dengan cara yang baru dan membangun koneksi yang baru. Subjek yang diangkat berkisar pada hubungan manusia dengan kecerdasan artifisial hingga masalah sosial dan ekologi yang mendesak di zaman ini.

“Karya-karya yang dipresentasikan oleh pemenang utama dan para finalis sangat beragam, dari sinematik dan performatif, hingga penggunaan perangkat lunak dan pemrograman yang sangat kompleks,” kata Direktur Museum MACAN sekaligus Juri VH AWARD ke-4, Aaron Seeto, Kamis (8/9).

Baca Juga: Bikin Bangga! Syaura asal Yogyakarta Jadi Pemenang di The VH Award

Untuk diketahui, VH AWARD merupakan sebuah penghargaan yang diberikan untuk perupa media baru. Pertama kali diadakan pada tahun 2016 oleh Hyundai Motor Group. Di tahun keempat ini menjadi kali pertama penghargaan ini berekspansi ke luar Korea. Pesertanya melibatkan perupa-perupa dari seluruh wilayah Asia yang menggambarkan dan mencerminkan beragam pendekatan kreatif terhadap seni media.

Presentasi di Museum MACAN akan menampilkan karya multimedia dari seluruh finalis VH AWARD ke-4, di antaranya Lawrence Lek, pemenang utama yang berbasis di London; Doreen Chan yang saat ini tinggal di Chicago, Paribartana Mohanty yang tinggal dan bekerja di New Delhi, Jungwon Seo yang berbasis di Seoul; dan Syaura Qotrunadha yang tinggal di Yogyakarta.

Media preview presentasi karya finalis VH Award ke-4 di Museum MACAN (Dokumentasi Museum Macan)
Media preview presentasi karya finalis VH Award ke-4 di Museum MACAN (Dokumentasi Museum Macan)

Karya Doreen Chan menginvestigasi persepsi pribadi, materialitas dan detail sehari-hari yang seringkali terabaikan. Di sini dia membuat karya berjudul Half Dream (Setengah Mimpi) (2021). Ini adalah sebuah proyek seni partisipatoris yang menghubungkan penonton dengan alam bawah sadar dan mimpi-mimpi mereka sebuah platform kecerdasan buatan khusus.

Karya Lawrence Lek menggunakan video game dan animasi CGI untuk membangun lingkungan digital sebagai “kolase tiga dimensi dari objek dan situasi yang ditemukan”. Karyanya yang memenangkan penghargaan berjudul Black Cloud (Awan Hitam) (2021).

Karya ini dianggap puncak dari tubuh kekaryaan yang mengeksplorasi implikasi geopolitik dari kecerdasan buatan (AI) dalam menjembatani budaya pop dan diskusi kritis dari teknologi masa kini. Dengan mengatur dialog di dalam reruntuhan kota pintar fiksi SimBeijing, video tersebut melanjutkan eksplorasi Lek mengenai dampak psikologis dari lanskap teknologi.

Baca Juga: Pameran Seni Internasional Art SG akan Digelar Pertama Kali di Singapura

Kemudian ada karya Paribartana Mohanty berjudul Rice Hunger Sorrow (Duka Kelaparan Nasi) (2021), yang mengikuti dua protagonis ke laut dan hutan sambil bertanya terus-menerus “siapakah yang paling kuat?”. Lalu ada juga karya Jungwon Seo berjudul We Maketh God (Kami Menciptakan Tuhan) (2021), sebuah video yang mempertimbangkan karya apa saja yang dapat dibuat oleh kecerdasan artifisial (artificial intelligence).

Terakhir ada juga karya milik seniman Indonesia Syaura Qotrunadha. Karya miliknya yang berjudul Fluidity of Future Machines (Ketidakstabilan Mesin Masa Depan) (2021), mengeksplorasi hubungan antara air dan migrasi makhluk hidup. Karya ini berspekulasi mengenai masa depan sifat manusia.

“Setiap finalis terlihat menonjol dalam pendekatan artistik mereka sendiri. Kami ingin memperkenalkan karya para finalis kepada publik, untuk mendorong pandangan yang lebih kritis dan komparatif mengenai minat dan praktik media baru mereka,” kata Aaron Seto.

345