Home Kesehatan Kepala BKKBN Sebut Jelang 2045 Indonesia Hadapi Tantangan Kelompok Lansia

Kepala BKKBN Sebut Jelang 2045 Indonesia Hadapi Tantangan Kelompok Lansia

Sleman, Gatra.com – Kepala Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyebut, menjelang Indonesia emas pada 2045, bangsa ini menghadapi tantangan pada pemenuhan kebutuhan orang-orang lanjut usia. Persiapan bidang kesehatan mulai jelang menikah, kehamilan sampai keharmonisan keluarga menjadi kunci mengurai persoalan.

Hal ini disampaikan Hasto usai menghadiri peluncuruan program ‘Edukasi 1.000 Bidan dan Intervensi Stunting’ se Daerah Istimewa Yogyakarta di Sleman, Ahad (11/9).

“Selama ini musuh bersama kita itukan stunting, kematian ibu, kematian bayi dan satu lagi dari BKKBN adalah ketidakharmonisan keluarga yang berujung perceraian. Namun menjelang Indonesia Emas 2045, ada satu tantangan berat lainnya yang dihadapi,” katanya.

Baca juga: Hari Lanjut Usia, Anies: Warga Senior Dapat Layanan Gold

Tantangan berat itu banyaknya orang berusia lanjut yang diperkirakan meledak pada 2035. Saat itu angka harapan hidup lebih panjang, dimana umur perempuan bisa mencapai 77 sampai 78 sedangkan laki-laki pada 70-72.

“Kenapa penting memikirkan kualitas SDM dari sekarang ini, karena rombongan orang tua di 2035 itu rata-rata pendidikannya rendah, banyak yang tidak lulus SMP. Kemudian ekonominya menengah ke bawah,” jelasnya menjawab pertanyaan Gatra.com.

Karenanya masa-masa itu menjadi masa yang berat bagi yang muda-muda karena harus menanggung yang mereka yang berusia lanjut usia dan tidak produktif lagi. Beda dengan Jepang, Hasto menyebut dengan angka hidup mereka panjang yang kemudian jumlahnya banyak, mereka masih bisa produktif, sebab memiliki tabungan atau menjadi konsultan karena pendidikannya tinggi.

“Ini berbeda dengan generasi pada 2050, dimana nantinya adalah generasi yang pintar-pintar karena berpendidikan tinggi. Momentum inilah yang ingin kita jaga melalui program pencegahan stunting,” papar Hasto.

Baca juga: Waduh! Rapat Stunting di Hotel Mewah, Wagub NTT Ngamuk

Bidan dipilih dalam program pencegahan stunting ini menurutnya karena merekalah ujung tombak bidang Kesehatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat. Setidaknya ketika pencegahan stunting tidak bisa dilakukan dari pembenahan lingkungan seperti lingkungan bersih, ketersediaan air bersih, maupun ketersediaan jamban.

“Pada bidang setidaknya menjadi pintu keluar masalah stunting dengan mencegah kehamilan dan kelahiran bayi bebas stunting. Bidan juga bisa diberdayakan untuk menumbuhkan keharmonisan keluarga. Jangan disepelekan ini penting untuk membangun pribadi yang berkualitas,” tegasnya.

Saat ini, menurutnya tingkat perceraian di Indonesia cukup tinggi. Dari angka pernikahan yang setiap tahunnya mencapai dua jutaan, pada 2021 ada sebanyak 581 ribu angka perceraian.

Menurut Ketua Ikatan Bidan Indonesia DIY Sutarti, untuk mensukseskan program ini, asosiasinya mengerahkan 1.852 bidang. Saat ini jumlah keseluruhan anggota mencapai 3.600 bidang dan 455 bidan praktek mandiri.

“Kita bersyukur dipercaya membantu program pemerintah dalam pencegahan stunting. Langkah konkrit kita di lapangan adalah pendataan dan pendampingan pada calon pengantin, ibu hamil sampai pasca persalinan,” katanya.

Baca juga: Tri Hita Karana Road to G20 Sepakati Dukungan Pusat Kesehatan Bertaraf Internasional di Bali

Di sisi lain sebagai upaya dukungan dari pihak swasta dalam pencegahan stunting, Direktur Utama Dexa Medica V Hery Sutanto mengatakan pihaknya saat ini berhasil mengembangkan berbagai suplemen pendukung Kesehatan ibu dan bayi dari bahan herbal.

“Dari empat program kemandirian Kesehatan, kita fokus pada pengembangan obat herbal. Saat ini kita telah memiliki 200 peneliti untuk pengembangan obat herbal asli Indonesia,” sebutnya.

Sebagai dukungan, pihaknya mengeluarkan produk suplemen untuk penambahan kualitas ASI bagi ibu menyusui yang terbuat dari ekstrak Daun Katuk dan Daun Torbangun ditambah protein dari Ikan Gabus.