Home Kesehatan Angka stunting meningkat, budaya PHBS wajib di terapkan

Angka stunting meningkat, budaya PHBS wajib di terapkan

Jambi, Gatra.com - Angka stunting di Kota Jambi saat ini meningkat tajam dari tahun 2021 yang tercatat 179 kasus pada tahun 2022 naik menjadi 803 kasus.

Ketua Komisi IV DPRD Kota Jambi, Jefrizen mengatakan bahwa percepatan terkait penurunan angka stunting menjadi tugas bersama. Menurutnya, ini juga menjadi tujuan diadakan rapat koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) untuk menyatukan persepsi agar angka stunting ke depan dapat turun mencapai standar 14 persen seperti yang diharapkan oleh pemerintah kota Jambi.

"Kami mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) khususnya kota Jambi, yang menjadi catatan stunting di kota Jambi tinggi dari data 2021 ada 179 kasus kemudian di 803 kasus, kita takut nanti 2023 bisa melonjak lagi itu tadi saya pertanyakan dan ternyata di tahun 2021 karena masih kondisi covid mungkin data belum seluruhnya artinya bisa saja lebih dari itu, tugas kita bagaimana ke depan percepatan penurunan stunting ini, kata Jefrizen saat rapat koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).

Jefri melanjutkan, saat ini Posyandu yang ada sudah mulai aktif dan berharap peningkatan kunjungan ke Posyandu oleh warga.

Baca juga: Kampanye Percepatan Penuntasan Stunting

"Saya mendengar dari provinsi kunjungan ke Posyandu itu baru 80 persen itu akan kita tingkatkan serta upaya pemberian makanan tambahan kepada yang beresiko stunting, juga hal-hal lain seperti peningkatan kebersihan lingkungan, kondisi rumah yang beresiko terhadap stunting," ujarnya.

Jefrizen menambahkan, bila melihat upaya Pemkot untuk menurunkan angka stunting, ia meyakini angka stunting di kota Jambi yang saat ini 17,4 persen cepat menurun.

"Seperti upaya yang kita lakukan saat ini, kita apresiasi karena acara rapat koordinasi seperti ini baru kota saja yang memulai," ucapnya.

Di tempat sama, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Jambi, Irawati Sukandar, mengatakan, pihaknya akan menekan angka stunting agar menurun menjadi 14 persen, ini ditargetkan sampai 2024.

Baca juga: Mau menikah? Pahami Program Pencegahan Stunting

Menurutnya, upaya yang dilakukan adalah bekerjasama dengan OPD, perguruan tinggi, pihak swasta yang turut membantu melakukan CSR untuk pengadaan PMT balita stunting.

"Hal tersebut telah kami lakukan, selain itu kami juga telah menunjuk tim pakar, ahli obgyn anak, dan psikolog sehingga dalam audit kasus stunting dapat dilihat kasus yang mana yang bisa diintervensi, kasus mana yang harus ditindaklanjuti lebih dalam lagi," jelasnya.

Irawati melanjutkan, resiko stunting dimulai dari dari calon pengantin. Di mana calon pengantin yang anemia, kurang gizi, atau HB yang kurang dari 11 persen beresiko memiliki anak yang stunting.

"Jadi 1.000 hari pertama kehidupan dimulai dari hari pertama kehamilan sampai usia 2 tahun itu adalah masa emas yang bisa diintervensi supaya jangan sampai stunting," tegasnya.

"Lebih dari 2 tahun, intervensi sudah sangat sulit. Penyebab stunting bermacam-macam mulai dari kekurangan gizi kronis, kemudian penyakit infeksi kronis seperti cacingan, sampai diare yang disebabkan keadaan lingkungan yang kurang baik," sambungnya.

Irawati mengingatkan, selain itu beberapa keluarga yang beresiko dengan jarak anak yang kurang dari 3 tahun 9 bulan dan memiliki banyak anak lebih dari 3 anak.

"Keluarga muda juga berisiko anaknya terkena stunting," sebutnya.

Irawati menambahkan, untuk menghindari stunting upaya yang harus dilakukan yakni membiasakan budaya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Hal tersebut sangat penting untuk dilakukan.

"Kemudian tidak merokok di dalam rumah bagi ayah yang memiliki bayi, lakukan gerakan pembersihan untuk 3M, rajin berolahraga dan makan makanan yang bergizi dan seimbang," ucap Irawati.