Home Politik AHY: Ada Banyak Cara Selanatkan Fiskal Selain Menaikkan Harga BBM

AHY: Ada Banyak Cara Selanatkan Fiskal Selain Menaikkan Harga BBM

Jakarta, Gatra.com - Partai Demokrat merespons kebijakan pemerintah untuk mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) dengan cara menaikkan harga BBM. Demokrat memandang pengurangan subsidi BBM memang merupakan suatu hal yang perlu untuk menyelamatkan kondisi fiskal negara. Namun, ada cara lain yang sebenarnya dapat ditempuh selain menaikkan harga.

"Sesungguhnya, ada banyak cara, untuk menyelamatkan fiskal, selain menaikkan harga BBM. Misalnya, dengan melakukan realokasi anggaran, penentuan prioritas. Termasuk, penundaan sejumlah proyek nasional, yang tidak sangat mendesak," ujar Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, dalan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat, Jumat (16/9).

Hal itu merupakan bentuk tindak lanjut dari pemahaman Demokrat, akan kondisi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat, yang tengah menghadapi tekanan berat akibat kondisi ekonomi global yang saat ini melanda dunia.

Baca juga: AHY Sebut Banyak Buzzer Serang Partai Demokrat di 2021

Lebih lanjut, Agus menyebut bahwa pihaknya memiliki dua solusi untuk menyeimbangkan kebijakan kenaikan harga BBM yang kini telah berlaku di masyarakat. Keduanya adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan ketepatan waktu serta alasan atas kenaikan harga.

"Jika harga minyak mentah dunia menurun, turunkan kembali harga BBM kita. Jangan sebaliknya, ketika harga minyak dunia turun, harga BBM justru dinaikkan," tegas Agus dalam kesempatan tersebut.

Terkait BLT pun, Agus menekankan bahwa penyaluran bantuan sosial tersebut harus tepat sasaran, bebas dari agenda politik, dan dalam jumlah uang yang cukup.

Baca jugaDemo Kenaikan Harga BBM

Agus pun menekankan, bagaimana beban masyarakat saat ini menjadi semakin sulit akibat naiknya harga BBM yang berimbas pada kenaikan harga bahan-bahan pokok.

Kenyataan tersebut, kata AHY, telah menempatkan masyarakat dalam dua kondisi semata.

"Pilihannya ada dua. Barangnya ada, tapi harganya gila-gilaan. Atau, harganya terjangkau, tapi barangnya tidak ada di pasaran," tegasnya.

Hal ini, kata AHY, pada akhirnya akan berimbas pada menurunnya daya beli masyarakat di waktu-waktu mendatang.