Home Kesehatan Waspada Polio, Penyakit Menular yang Mengintai Anak

Waspada Polio, Penyakit Menular yang Mengintai Anak

Jakarta, Gatra.com - Pada awal November lalu, Kementerian Kesehatan menemukan kasus polio di Pidie, Aceh. Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi dan Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Aceh, Raihan, menjelaskan mengenai penyakit polio.

"Polio atau poliomielitis menyerang sistem saraf. Lumpuhnya khas, sifatnya permanen, tidak akan kembali seperti semula. Yang lebih mengiris hati, tidak ada pengobatan spesifik untuk polio," katanya dalam Media Group Interview KLB Polio yang digelar secara daring, Jumat (2/12).

Raihan menerangkan bahwa ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio dengan menyerang sistem saraf, dan menyebabkan lumpuh layuh sehingga terjadi kecacatan permanen/seumur hidup. Penularannya terjadi melalui lingkungan seperti air atau makanan yang tercemar oleh tinja yang mengandung virus polio.

Menurut Raihan, virus ini bisa bertahan hingga 100 hari di dalam tinja dan dapat menyerang semua usia, terutama anak-anak berusia di bawah 5 tahun.

Selama ini, masa inkubasi virus polio berlangsung selama 3-6 hari. Kelumpuhan kemudian akan terjadi dalam 7-21 hari. Ia juga menyebutkan bahwa dari seluruh pasien yang terinfeksi polio, sebagian besar penderita tanpa gejala.

"Tapi, orang tidak bergejala akan menjadi sumber penularan yang bisa menimbulkan banyak orang terjangkit polio," ucapnya.

Berbeda dengan kelumpuhan pada umumnya, virus polio menyerang susunan saraf bagian tepi sehingga menyebabkan kelayuan. Padahal, dalam kasus kelumpuhan pada umumnya, Raihan menerangkan, kelumpuhan disebabkan adanya kerusakan pada susunan saraf pusat yang menyebabkan otot menjadi kaku.

Ia turut memaparkan bahwa virus ini tidak memiliki pengobatan secara spesifik. Tindakan yang bisa diberikan hanyalah tindakan suportif dan pencegahan terjadinya cacat lebih lanjut.

"Hanya bisa fisioterapi. Otot akan mengalami pengecilan, kita mengusahakan supaya cacatnya tidak lanjut, diupayakan berfungsi senormal mungkin. Fisioterapi, pakai sepatu khusus, tapi tetap jalan pincang," ujar Raihan.

50