Home Ekonomi Buwas Geram, Ada Mafia Coba Monopoli Beras Pemerintah

Buwas Geram, Ada Mafia Coba Monopoli Beras Pemerintah

Jakarta, Gatra.com - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) geram operasi pasar untuk stabilisasi harga beras tidak berjalan mulus. Ia menduga ada mafia yang juga merupakan oknum pedagang berupaya memonopoli beras yang digelontorkan Bulog.

Diketahui, Bulog telah menyalurkan 100 ribu ton beras dari stok yang ada pada awal tahun ini untuk stabilisasi harga. Selain itu, cadangan beras pemerintah (CBP) di Bulog juga bertambah dari importasi sebanyak 200 ribu ton dari target impor 500 ribu ton yang juga diperuntukkan untuk stabilisasi harga.

"Saya ini punya kebijakan atas dasar perintah Presiden untuk menggelontorkan sebanyak mungkin sesuai kebutuhan, dan bukan monopoli. Sekali lagi tidak ada monopoli terhadap masalah perberasan karena beras itu kebutuhan pokok yang mendasar," ujar Buwas dalam konferensi pers di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta Selatan, Jumat (20/1).

Baca Juga: Resmi, BI Naikkan Suku Bunga Acuan 25 Basis Poin Jadi 5,75%

Buwas mengatakan, harga beras tak kunjung turun meskipun pihaknya sudah mengguyur beras ke pasaran melalui operasi pasar atau program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Pasalnya, oknum pedagang disinyalir mencoba memonopoli beras dengan mematok harga beras Bulog di atas ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET). Adapun Bulog menetapkan harga penjualan Rp8.300 per kilogram.

Menyitir Sistem Pemantaun Pasar dan Kebutuhan Pokok, Kementerian Perdagangan, harga beras rata-rata nasional per 18 Januari 2023 sebesar Rp11.300 per kilogram, naik 0,89% dibandingkan harga pada 4 Januari 2023 sebesar Rp11.200 per kilogram.

Baca Juga: Naik 225 BPS Sejak Agustus 2022, BI Bakal Hentikan Naikkan Suku Bunga?

Buwas menegaskan, setiap pedagang beras berhak mendapatkan beras dengan harga murah dari Bulog, yaitu Rp8.300 per kilogram. Ia, dengan demikian, berharap harga beras berada di kisaran Rp9.000 per kilogram di tangan kosumen.

"Ternyata para pedagang ini mendapatkan harga mahal. Bagaimana dia mau jual murah? Karena dia belinya juga mahal," tuturnya.

Buwas menekankan, tidak boleh ada pihak pedagang yang merasa paling berkuasa terhadap beras Bulog. Bahkan, pedagang beras, kata Buwas, bisa membeli beras langsung ke Bulog bila dipersulit oleh oknum mafia sesama pedagang.

Baca Juga: INDEF Ingin Pemerintah Juga Perhatikan Sektor yang Belum Pulih, Apa Itu? 

"Sekarang siapa yang mau beli, saya buka. Tidak ada koordinator, tidak ada mafia. Ngapain [mafia] pakai ngumpulin pedagang terus intimidasi? Jangan merasa hebat, jagoan? Pakai ancam-ancam. Negara kok diancam," sebutnya.

Buwas mengaku tak segan memberantas para mafia beras. Apalagi Bulog berkoordinasi dengan Satgas Pangan Polri. Termasuk bila ada Pimpinan Wilayah Bulog di daerah yang ikut "bermain" di penyaluran beras pemerintah ini, ia bakal langsung memecatnya.

"Sekali lagi, beras ini beras pemerintah, harus tersebar ke seluruh Indonesia. Tidak ada yang bisa menguasai. Saya sudah sampaikan ke Pimwil, siapa yang bermain dengan beras ini saya pecat langsung," tegasnya.

56