Home Nasional BNPB: Tren Bencana Hidrometeorologi Indonesia Meningkat Selama Satu Dekade, 2022 Menurun

BNPB: Tren Bencana Hidrometeorologi Indonesia Meningkat Selama Satu Dekade, 2022 Menurun

Jakarta, Gatra.com - Kepala Bidang Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dodi Yuleova mengatakan bahwa tren bencana di Indonesia selama satu dekade terakhir cenderung naik. Bahkan, angka kejadian bencana di Indonesia tercatat mencapai 5.402 kasus di sepanjang tahun 2021 silam.

"Terkait dengan bencana hidrometeorologi, di data kami, dari tahun 2011 sampai tahun 2021 memang ada tren kenaikan," ujar Dodi Yuleova dalam acara webinar bertajuk Darurat Bencana Hidrometeorologi, yang digelar secara virtual, pada Rabu (8/2).

Sebagai informasi, bencana hidrometeorologi dapat diartikan sebagai bencana yang disebabkan oleh aktivitas cuaca, seperti siklus hidrologi, curah hujan, temperatur, angin maupun kelembapan.

Dalam data yang Dodi paparkan, ada sejumlah bencana yang dominan terjadi di Tanah Air. Beberapa di antaranya, seperti bencana banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor bahkan tampak terus muncul dalam grafik di setiap tahunnya.

"Ini terlihat sekali dari trennya, memang bencana banjir yang paling utama, kemudian disusul dengan bencana cuaca ekstrem, angin puting beliung dan sebagainya, kemudian tanah longsor, dan bakar hutan dan lahan, termasuk kekeringan di dalamnya," ujar Dodi, dalam pemaparannya.

Dodi pun menekankan bagaimana bencana kekeringan kerap kali muncul di Indonesia, yakni pada tahun 2011, 2012, 2013, sebelum akhirnya sempat hilang dari grafik pada sepanjang tahun 2014 hingga 2017. Namun, bencana kekeringan kembali muncul dalam grafik tahun 2018 dan 2019 silam.

Meskipun begitu, Dodi tidak menampik fakta bahwa banjir merupakan bencana yang paling dominan menghantui masyarakat Indonesia. Menurutnya, hal itu diakibatkan oleh beberapa penyebab, yang salah satunya adalah alih fungsi lahan.

"Nah, tren ini terlihat, memang ada peningkatan sangat signifikan ke atas, memang. Terutama, di sektor banjir. Ya, memang kenaikan di sektor banjir ini cukup tinggi. Memang ada beberapa faktor penyebabnya, salah satunya memang, ada alih fungsi lahan dan lain sebagainya, kemudian, termasuk di perkotaan, ketidakpedulian masyarakat terhadap daerah lingkungannya, dan sebagainya," ujar Dodi.

Kendati cenderung menunjukkan tren kenaikan, angka kejadian bencana di Indonesia pada tahun 2022 menurun tampak menurun hingga melebihi 1.800 kasus, yakni dari 5.402 kasus di tahun 2021 menjadi 3.544 di tahun 2022.

Namun demikian, banjir masih tetap menjadi bencana yang mendominasi pada tahun tersebut, disusul dengan cuaca ekstrem, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, serta gelombang pasang/abrasi.

Atas tren kejadian bencana di Indonesia yang cenderung meningkat itu, Dodi pun merekomendasikan agar pihak pemerintah selalu memberikan imbauan kepada pemerintah daerah serta mengimbau agar tindakan penanggulangan yang dilakukan di pusat juga tetap dilaksanakan di daerah.

"Sehingga, apa yang kita khawatirkan terkait dengan ancaman bencana hidrolmeteorologi bisa kita minimalisir," ujar Dodi Yuleova, dalam kesempatan tersebut.

332